Negeri Tak Biasa

Di suatu negeri nun jauh di sana terdapat tradisi yang telah mengakar kuat di setiap daerah masing-masing. Masyarakat yang biasa hidup bergotong royong, tepo sliro, ramah tamah dan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal. Masyarakat ini pada umumnya bermata pencaharian petani, mereka berbaur satu sama lain tanpa membedakan kasta, suku, golongan dan ras, yang ada hanya senyum terpancar dari raut wajah mereka masing-masing. Para Ibu-ibu bercengkrama dengan para tetangga sambil momong anak-anaknya yang sedang asyik bermain di halaman. Sedangkan para bapak-bapak bercengkrama dengan bapak yang lainnya bercerita tentang panen dan ternaknya. Ahh sungguh pemandangan yang sangat indah.

Tapi semua itu berubah dengan begitu cepatnya ketika negara api menyerang. Senyum yang terpancar dari raut wajah mereka tak terlihat lagi, guyonan-guyonan khasnya tak terucap lagi, canda-tawanya tak terdengar lagi. Malahan mereka semua saling menuding memandang sinis, berprasangka buruk, caci maki dan lebih parahnya mereka sudah tidak mau bertegur sapa. Ini sungguh ironi sekali.

Apakah mau negeri kita ini terus-terusan seperti ini? Tentu tidak kan. Maka dari itu sudahilah pertikaian yang cukup menguras energi ini. Jangan lagi ada pertikaian-pertikaian yang tidak perlu karena beda pandangan politik saling gontok-gontokan, beda club bola saling ribut, beda pendapat saling caci maki, beda partai tidak mau tegur sapa. Kita ini satu warna yaitu merah putih warna bendera kita warna jati diri bangsa kita INDONESIA.

Jauh sebelum kaum milenial lahir negeri ini sudah dibentuk oleh para founding father dan peran para ulama serta kiai. Mereka telah merumuskan ideologi bangsa ini: Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, UUD 1945. Tak lain adalah hanya untuk menciptakan  negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur sesuai dengan jati diri bangsa ini.  

Tentu tidak mau negara kita ini menjadi seperti Suriah, Irak, Afganistan dan  negara Islam yang lainnya rusak akibat perpolitikan atau perang saudara. Justru negara kita ini lah yang memiliki semangat keislaman dan semangat kebangsaan sehingga tetap berjalan hingga sekarang ini.

Kesatuan dan persatuan Negara Republik Indonesia (NKRI) yang dibangun oleh antara lain andil besar oleh para ulama-ulama, ulama Nahdlotul Ulama harus kita jaga harus kita pertahankan. “Barangsiapa tidak punya tanah air, maka tidak akan punya sejarah. Barangsiapa tidak punya sejarah, pasti akan dilupakan”, KH. Said Aqil, dalam ceramahnya.

Oleh karena itu hubbul wathan minal iman adalah suatu kewajiban tanpa terkecuali. Bagaimana bisa berjuang membangun negara kalau tidak memiliki tanah air, memangnya itu mau dibangun di atas angin atau laut. Negara dulu baru Islam. Negara dulu baru setelah itu bicara Islam.


Kang Galih – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!