Namines Belajar Sejarah

Malam itu, aku duduk merenung di balkon rumah. Memandang gemerlap bintang dan terangnya sinar purnama. Bersama semilir angir yang menyapu di beberapa bagian tubuhku. Teh hangat dan beberapa buku sejarah tertata rapi di meja samping kursi tempatku duduk.

Aku memang suka belajar sejarah. Sejarah adalah modal atas pengalaman untuk berlaku bijak ke depannya. Tanpa sejarah tidak akan ada aku, manusia, dan bumi. Tuhan menciptakan sejarah untuk mengingat betapa kuasa-Nya. Menyadari bahwa Dia adalah sutradara terbaik yang begitu detail membuat sebuah alur cerita beserta konflik dan instrumen lainnya.

Sejarah seharusnya menjadi bahasan pokok dalam menjalani kehidupan. Termasuk dalam dunia pendidikan. Agama pun jangan dilepaskan dalam ilmu sejarah. Dalam istilah arab sejarah – syajaroh, berarti adalah pohon. Itulah kenapa belajar sejarah adalah pondasi utama dalam berkehidupan. Sedangkan unsur dalam pohon adalah akar. Dalam bahasa jawa disebut oyot, yang berarti adalah ayat untuk menjadi cengkraman pohon agar tetap tegak dan berkembang.

Oyot/ ayat ini bisa dimaknakan sangat luas. Karena substansi dari kata ayat sendiri adalah tanda. Demikian yang menjadikan ayat mempunyai dua unsur, ayat muhkamat (jelas) dan mutasyabihat (samar). Dalam kitab suci kita menemukan 6236 ayat. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan ayat yang jumlahnya tidak terhingga. Itulah kuasa Tuhan memberikan manusia, termasuk aku, sebuah perasaan dan otak yang selalu disinergikan untuk tidak boleh longgar sedikitpun mengingat nama, sifat, wujud, af’al Allah.

Sedangkan sekarang, di lingkunganku, sudah banyak yang tidak berminat belajar sejarah. Bahkan banyak yang menentang sejarah. Mulai dari meragukan kebenaran sejarah, hingga anti-mendengar tulisan atau cerita sejarah.

“Hidup itu selalu ke depan, jangan pernah menoleh ke belakang”. Demikian ujar salah satu teman kampusku.

Meskipun sejarah mempunyai banyak versi, termasuk sejarah islam. Namun sejarah selalu memuat unsur kebenaran. Karena yang membuat fakta selalu menemukan kebenaran masing-masing yang kemudian disebut sejarah. Abdurrahman Wahid, meyakini sejarah hanya dari cerita orang turun temurun yang kemudian banyak ditentang ahli sejarah karena tidak ada bukti nyata seperti prasasti, naskah kuno, patung dan lain-lain. Namun sejarah dari Gus Dur tersebut perlahan terkuak kebenarannya.

Namun dalam memahami sejarah, manusia juga harus bisa jeli melihat siapa yang menulis sejarah, sanadnya, dan keobjektivitasannya. Biografi sejarawan ini penting. Begitu pun sanad atau latar belakang sejarawan. Dan yang paling utama adalah objektif. Karena banyak yang menemukan kebenaran namun menutupinya hanya karena kepentingan tertentu.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!