Categories: LiputanSimponi

Mulianya Kiai Haji Maimun Zubair

Share

Kiai Haji Maimun Zubair (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 28 Oktober 1928 – meninggal di Mekkah, 6 Agustus 2019 pada umur 90 tahun), atau akrab dipanggil Mbah Moen, adalah seorang ulama dan politikus Indonesia. Beliau merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan hingga wafat. Beliau pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, beliau mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tapi rupanya tenaga dan pikiran ia masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode. (wikipedia)

Mbah Moen merupakan salah satu ulama rujukan dalam bidang fikih – menguasai cabang ilmu fiqih dan ushul fiqih yang sangat mendalam. Selain ahli fikih, Mbah Moen juga termasuk Muharrik atau penggerak. KH Maimun Zubair adalah teman akrab dari KH Sahal Mahfudh Kajen. Keduanya adalah teman karib yang sama-sama merupakan seorang santri kelana yang menuntut ilmu di berbagai pesantren. Bukan saja pesantren di tanah Jawa, bahkan beliau berdua juga menuntut ilmu agama Islam, ilmu-ilmu syariat di tenah Hijaz atau Timur Tengah.

KH Maimun Zubair mendapat bekal pendidikan agama dari ayahnya yang juga seorang ulama yakni Kiai Zubair. Ayah Mbah Moen, adalah murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al-Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Saat masih muda, sekitar 17 tahun, Mbah Moen sudah hafal kitab-kitab nadzam, di antaranya Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiannya melahap kitab-kitab fikih mazhab Asy-Syafi’i, semisal Fathul Qorib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, dan lain sebagainya.

Pondok Pesantren Al Anwar Sarang

Kiai sepuh ini merupakan pemimpin Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Kiai Haji Maimun Zubair juga pernah menjabat Ketua Syuriah NU Provinsi Jawa Tengah pada 1985 hingga 1990. Tak hanya mentok menjadi tokoh NU, Mbah Moen juga pernah melebarkan sayap ke dunia internasional dengan menjadi utusan Indonesia dalam Majelis Ijtima Ulama Nusantara kedua di Malaysia pada tahun 2007. Beliau menjadi anggota ICIS (International Conference of Islamic Scholars) dari Indonesia yang diutus ke Uzbekistan pada 2010.

Baca Juga: Seumur Hidup Tetap Santri

Nantinya Mbah Moen akan disalatkan di Masjidil Haram, Selasa (6/8/2019). Setelah itu, jenazah Kiai Haji Maimun Zubair akan dimakamkan di kompleks pemakaman Ma’la , salah satu tempat pemakaman tertua di kota Mekkah. Di dekat makam sayyidah Khadijah Al Kubro dan guru beliau Sayyid Alawi al Maliki dan Abuya Sayyid Muhammad Alawi al Maliki, serta makam Habib Salim As Syathiry.

Sebelum meninggal (tepatnya bulan puasa tahun ini) beliau pernah ceramah tentang keistimewaan meninggal di hari Selasa. “Allah menciptakan gunung sebagai tanda tiangnya bumi. Barangsiapa yang lahir atau meninggal di hari selasa, berarti dia adalah tiannya agama (bumi) atau ulama.” Bahkan beliau juga minta agar didoakan meninggal pada hari selasa di mekah saat ibadah haji sebagai tanda meninggalnya orang yang ahli ilmu.

Mutiara Mbah Moen….

Ora kabeh wong pinter kuwi bener. (Tidak semua orang pintar itu benar)

Ora kabeh wong bener kuwi pinter. (Tidak semua orang benar itu pintar)

Lan akeh wong bener senajan ora pinter. (Dan banyak orang benar meskipun tidak pintar)

Nanging tinimbang dadi wong pinter ning ora bener, Luwih becik dadi wong bener senajan ora pinter. (Daripada jadi orang pintar tapi tidak benar, lebih baik jadi orang benar meskipun tidak pintar)

Ono sing luwih prayoga yoiku dadi wong pinter sing tansah tumindak bener. (Ada yang lebih bijak, yaitu jadi orang pintar yang senantiasa berbuat benar)

Minterno wong bener kuwi luwih gampang tinimbang mbenerake wong pinter. (Memintarkan orang yang benar .. itu lebih mudah daripada membenarkan orang yang pintar)

Mbenerake wong pinter kuwi mbutuhke beninge ati, lan jembare dhodho. (Membenarkan (membuat benar) orang yang pintar itu membutuhkan beningnya hati, dan lapangnya dada)

Wong neng dunyo iku ono bungahe lan ono susahe, kabeh iku supoyo biso dadek’ake parek marang Allah. Tapi nak neng akhirat nak susah susah tok rupane nang neroko, tapi nak seneng yo seneng tok rupane neng suargo (Orang di dunia itu ada yang senang dan ada yang susah. Semua itu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah. Tetapi kalau di akhirat susah terus yaitu ketika di Neraka, dan senang terus ketika di Surga)

Kanggone wong islam nak susah yo disabari nak bungah disyukuri. (Bagi orang Islam ketika susah disabari dan ketika senang disyukuri)

Apik-apik’e dunyo iku nalikone pisah antarane apik lan olo. Sakwali’e, elek-elek’e dunyo iku nalikone campur antarane apik lan olo. (Bagusnya dunia itu ketika pisah antara bagus dan jelek, sebaliknya jeleknya dunia itu ketika campur antara bagus dan jelek).

Baca Juga: Penafian Guru, Pemutusan Sanad ke Rasulullah

Wong iku seng apik ora kena nyepeleake doso senajan cilik, lan ora keno anggak karo amal senajan akeh amale. (Orang itu yang bagus ialah tidak menyepelekan dosa meskipun kecil dan tidak sombong ketika punya amal meskipun banyak)

Dunyo iku dadi tepo tulodone neng akhirat (Dunia itu menjadi contoh atau cermin di akhirat)

Ngalamate Qiamat iku angger wong tani iku wes aras-arasen tani, mergo untunge iku sitik. (Termasuk tanda kiamat itu orang sudah malas untuk bertani, karena untungnya sedikit)

Endi-endi barang iku bakale ilang. Wong mangan daging eyo bakale ilang, Tapi ono seng ora ilang, iyoiku barang seng ora ketok koyo dene ruh, kang ora sebab opo-opo, langsung pepareng soko Allah ora melalui proses. (Semua barang itu akan hilang, orang makan daging juga akan hilang dagingnya. Tetapi ada yang tidak hilang yaitu ruh, ini pemberian lansung dari Allah tanpa proses)

Wali iku nak katok iku wes ora disiplin wali. Masalahe wali iku ora keno kanggo conto, asale tingkahe iku selalu nulayani adat. (Yang namanya wali kalau kelihatan itu sudah tidak disiplin wali. Karena wali itu tidak boleh dicontoh, karena tingkahnya selalu berselisih dengan kebiasaan)

Barang yen positif iku ora katon , bisone katon iku angger ono negatif, koyo kuwe biso reti padang yen wes weruh peteng, wong biso ngerti Allah angger wes ngerti liyane Allah. (Sesuatu yang bagus itu tidak kelihatan, dan akan kelihatan ketika ada yang tidak bagus, contoh kamu tahu terang kalau sudah gelap, dan kamu tahu Allah ketika kamu tahu selain Allah)

Wong iku yen solat bengi kok ajak-ajak iku berati ora pati ikhlas, masalahe mbengi iku wayah turu, lah wong solat iku kudune soko karepe dewe. (Orang ketika salat malam mengajak-ajak berati itu menandakan tidak begitu ikhlas, karena waktu malam itu waktu istirahat, kalau mau salat memang dari keinginan diri sendiri).
Sepiro senenge tangi soko kubur, iku sepiro enakke neng alam akhirat. (Seberapa senangnya orang bangun dari kubur, seberapa senangnya di akhirat)

Wong naliko metu soko wetenge simbok iku kudu susah. Tapi yen wong metu soko dunyo alias mati iku kudu roso seneng, iki alamate wong seng bakal urip seneng. (Orang ketika keluar dari kandungan sang Ibu harus susah. Sedangkan keluar dari dunia yaitu meninggal harus senang ini alamatnya orang akan senang.

Referensi: Santrijagad


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU