Mudik Lebaran

Mudik yang sering diartikan pulang ke kampung halaman. Menjadi kegiatan rutin saat lebaran. Mungunjungi keluarga dan sanak saudara. Saling bermaaf-maafan, bersilaturahmi, dan bercanda membagi kisah setahun ke belakang. Melepas kangen dan penat berjumpa dengan orang tua. Kisah para perantau mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhannya dan keluarganya.

Baca Juga : Sungkeman

Sedangkan orang di kampung halaman, biasanya mulai bersiap menyambut lebaran. Menata dan merapikan rumah, menyiapkan berbagai aneka camilan atau hidangan, dan membeli pakaian baru. Masjid dan musala juga mulai ramai kembali menyambut hari kemenangan. Berbondong melakukan zakat fitrah dan persiapan halal bi halal kampung.

Saya tidak ingin berdebat soal dalil atau hadis tentang mudik, toh setiap hukum syariat dalam tataran fikih pasti sering terjadi perbedaan tafsir. Apalagi kalau saya begitu bebal mempertahankan argumentasi, pasti nanti dituduh, “Merasa mayoritas, merasa paling benar sendiri”. Jadi ini hanya sebatas ulasan tentang tradisi yang begitu masyhur di Indonesia, dan menurut saya amat perlu dilestarikan.

Mudik bukan hanya dimaknai tentang sebuah kisah kembali ke kampung halaman. Lebih dari itu, mudik adalah sebuah kegiatan yang seharusnya menjadi pelajaran bagi manusia tentang bagaimana suatu saat kita pasti akan “kembali ke kampung halaman”. Bukankah di dunia ini kita hanya sebantar merantau ke kota seberang? Sejatinya kita pasti akan mudik – kampung sejati.

Harapannya dalam perantauan kita membawa bekal yang layak untuk keluarga di kampung halaman. Selain sebagai wujud takzim kepada orang tua, juga sebagai kepantasan diri bahwa kita sudah berhasil hidup di perantauan. Tak elok jika mudik tidak membawa bekal, apalagi malah membawa masalah yang menambah beban keluarga.

Lebaran identik dengan hari kemenangan. Sedangkan kalau dalam kajian tasawuf yang selalu mengkontradiksikan kenyataan, seharusnya lebaran adalah momen kesedihan yang mendalam. Kesedihan ditinggal bulan mulia, kesedihan belum begitu sempurna beribadah, dan kesedihan karena tidak tahu suatu saat apakah bisa dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan.

Istilah hari kemenangan bukan diartikan bahwa kita sudah lepas dari “siksa” untuk tidak makan/ minum, maksiat, dan lainnya. Kemenangan adalah sebuah capaian dimana kita berhasil menaklukan nafsu dan mendapat keberkahan di bulan Ramadhan. Jadi kemenangan setiap orang tentu beda-beda berdasarkan capaian selama bulan Ramadhan.

Itulah kenapa saat mudik lebaran ada istilah Lebar, Luber, Lebur, dan Labor. Lebar yang artinya kita menjadi pribadi yang lapang, menjadi lebih sabar, dan menerima apapun yang ditakdirkan kepada dirinya. Selanjutnya adalah luber, dimana kita medapatkan maghfiroh, rahmat, dah hidayah selama bulan Ramadhan dari Allah Swt. Lebur sebagai istilah meleburnya segala dosa sesama muslim dengan saling memafkan saat lebaran. Terakhir adalah Labor, saat dimana kita menjadi fitri, suci lahir dan batin seperti anak yang baru lahir dari rahim ibunnya.

Baca Juga : Menjaga Silaturahmi

Makna mudik bukan hanya sebatas kebahagian berkumpul bersama sanak saudara. Mudik adalah proses perjalanan hidup manusia, singgah sementara untuk kembali mencari bekal. Momen bertemu dan berbagi kisah seraya menyambut idul fitri dan memulai kembali aktivitas di bulan syawal layaknya ibadah di bulan puasa. Semua keluarga berkumpul menjadi satu. Beberapa daerah melakukan kegiatan sungkeman ke tetangga dan sanak saudara.

Ukuran kesuksesan orang yang mudik bukan seberapa banyak ia membawa uang untuk dibagikan kepada keluarga besarnya, melainkan seberpa ia menjadi berguna bagi orang lain. Pemudik yang baik adalah ia yang tidak lupa terhadap masyarakat di kampung halamannya, sehingga masih bisa diterima dan membaur seperti saat ia sebelum menjadi perantau.

Sesuksesnya orang tinggal di kota besar, ia akan tetap merasa rindu berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Momen spesial itu hanya bisa dirasakan oleh beberapa orang saat mudik lebaran. Mengunjungi orang tua, mertua, dan sahabat.

Jadi mudik adalah aktivitas kita melepaskan segala bentuk busana yang melekat pada diri kita saat di perantauan. Melepaskan pangkat, jabatan, kekayaan, dan segala aksesoris lainnya. Di situ kita dituntut menjadi manusia yang fitrah, bersimpuh kepada orang tua dan mengaku segala kesalahan agar orang tua tetap rida kepada kita. Demikian yang menjadikan mudik adalah sarana untuk kita tetap istikamah menuju jalan Allah Swt.


Joko Yuliyanto- Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!