Muda Foya-Foya, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga

Kalimat tersebut sering terdengar di kalangan teman-teman kita yang ketika diajak mempelajari lebih lanjut tentang Iman dan Islam masih kurang berminat. Mereka beralasan, muda itu untuk foya-foya nanti ketika tua baru bertobat. Tanggapan semacam ini kerap ditanggapi negatif oleh teman-teman kita yang lain dari kalangan yang menyatakan diri sudah hijrah. Ya, ketika dilihat dari satu sudut pandang, benar memang bahwa kalimat ini seakan seenaknya sendiri. Cari semua senangnya dan enggak mau dapat susahnya. Karena diidentikkan surga itu dibungkus oleh sesuatu yang tidak enak sedangkan neraka itu sebaliknya. Lalu biasanya disindir, “Memangnya kamu punya orang dalam?”

Entah kenapa penulis memikirkan sesuatu hal dari sudut pandang lain. Kalimat tersebut bisa sekali terjadi. Karena penulis sangat cinta dengan NU maka akan penulis paparkan analogi dengan basis ke-NU-an. Muda foya-foya, apakah hal ini salah ? Dalam KBBI foya-foya diartikan menghamburkan uang dengan tujuan bersenang-senang. Secara umum bersenang-senang memang sering dianggap sebagai hal yang negatif apalagi ketika sudah dilakukan secara berlebihan. Namun, bagaimana jika dengan mengurus NU itu sudah dianggap bersenang-senang? Di luar sana, ada bahkan banyak orang yang rela menghamburkan uangnya entah seberapa banyak hanya untuk kepentingan NU. Ia melakukan hal itu dengan senang hati. Menurut penulis hal ini bisa dianggap sebagai foya-foya. Ia “menghamburkan uang” dan jauh di lubuk hatinya ia merasa sangat senang dan bahagia.

Baca Juga : Kenapa Aku Cinta NU?

Tua kaya raya. Benar saja jika saat Anda muda lantas berfoya-foya seperti yang sudah saya paparkan di atas lantas ketika tua Anda kaya raya. Bukankah sedekah bisa diganti oleh Allah 10 kali lipat? Jika ketika muda sudah Anda keluarkan sebanyak apa lalu belum mendapat ganti, bisa saja ketika Anda sudah tua akan dilipatgandakan oleh Allah. Ya meskipun tidak usah dipikirkan, karena nanti dianggap hitung-hitungan (transaksi) dengan Tuhan karena bagaimanapun nikmat Tuhan selamanya tak akan pernah bisa dihitung nilainya.

Lantas bagaimana jika ketika muda tidak mempunyai uang yang bisa “dihamburkan” untuk kepentingan NU?

Sedekah tidak hanya uang bukan? Anda bisa mencurahkan pemikiran, menyumbang tenaga, dan lain sebagainya untuk kepentingan NU. Minimal sekali adalah Anda bisa berkirim doa untuk NU. Bisa saja ketika aktif di NU saat muda, tua kaya raya namun bukan dalam hal harta melainkan kaya dalam kebijaksanaan, petuah, nasihat, ataupun kaya dalam pengetahuan serta kepekaan sosial. Karena tidak mungkin Anda tidak mendapatkan manfaat apapun jika pernah mengurus NU, jelas Insyaallah berkah akan senantiasa menanti.

Mati masuk surga. Frasa terakhir dari kalimat tersebut sudah sangat masuk akal jika dikaitkan dengan dua frasa yang sudah saya paparkan sebelumnya. Ketika masa muda sudah dihabiskan untuk berfoya-foya di NU lantas menginjak masa tua sudah menjadi kaya karena berbekal segala pengalaman dan petuah para kiai, maka Insyaallah hal ini adalah modal besar untuk mengharapkan rida dari Tuhan agar kita diwafatkan dalam keadaan khusnul khotimah dan kelak bisa dikumpulkan bersama para nabi, rasul, syuhada, dan solihin.

Memang tidak ada yang berhak mengadili masuk surga atau neraka selain Allah ta’ala. Akan tetapi setidaknya kita sebagai hamba berusaha untuk mendapatkan rida-Nya. Dengan pemaparan frasa tersebut semoga bisa membuka pandangan kita bahwa masuk surga bisa kok dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Ya itu tadi muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga. Tapi ya jelas ada syaratnya. Apa syaratnya? Anda harus mencintai NU dan berjuang untuk NU setulus hati. Kalau semisal belum Islam bagaimana? Ya silahkan baca syahadat dulu. Kalau sudah Islam tapi belum NU bagaimana? Ya silahkan saja, karena setiap manusia punya jalan dan keyakinannya masing-masing. Kalau saya sih sudah sangat nyaman di NU. Dan keyakinan saya hanya satu, semua akan NU pada waktunya.

Baca Juga : Hancurlah Kau NU

Berikut kutipan KH. Ali Maksum Krapyak untuk generasi milenial Nahdlatul Ulama,

من وصايا المكرم العالم الشيخ محمد على معصوم كرافياك رحمه الله وأفاض لنا من بركاته وعلومه ونفحاته وانواره:

١. العلم والتعلم بنهضة العلماء

Warga Nahdliyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU.

٢. العمل بنهضة العلماء

setelah mempelajari juga dianjurkan untuk diamalkan dan diajarkan

٣. الجهاد بنهضة العلماء

berjihad sesuai dengan ruh Nahdlatul Ulama yang tercermin dalam Rahmatal lil alamin

٤. الصبر بنهضة العلماء

ketika kita berjuang harus sabar dengan kemasan Nahdlatul Ulama

٥. الثقة بنهضة العلماء

setelah semuanya dilakukan kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU

Kita harus yakin, bahwa NU merupakan sebuah ormas yang mendapat rida Allah. Bahwa dengan berjuang bersama NU, akan dapat membawa kita untuk masuk ke surga.

Hasyim Asy’ari,
“Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan khusnul khotimah beserta keluarganya”.

Ridwan Abdullah,
“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah ! kalau sampai tidak makan, komlainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati maka tagihlah kebatu nisanku”.

Hasan Genggong

من اعان نهضةالعلماء، فقدسعدفى الدنياوالأخرة

“Barang siapa yang menolong NU, maka hidup beruntung di dunia dan di akhirat”.


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

2 tanggapan untuk “Muda Foya-Foya, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga

    • 28/02/2019 pada 09:53
      Permalink

      Terimakasih 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!