Money Says

Pernah bermain game Simon Says/Simon berkata? Ya, ini adalah permainan yang biasanya disuguhkan kepada anak-anak untuk mengisi waktu di sela-sela acara atau ice breaking.  Untuk yang belum pernah bermain, permainan ini sangatlah sederhana. Seorang pemandu/simon maju dan berada di depan audience, jika ia mengatakan sesuatu yang diawali dengan kata “Simon berkata” maka audience harus mengikutinya, namun jika ia tidak menggunakan kata “Simon berkata” maka audience tidak perlu mengikuti apa yang dikatakan pemandu tersebut.

Cukup sederhana bukan? Permainan ini menarik, melatih konsentrasi apakah dia memperhatikan simon atau tidak. Di sini kadang masih ada saja audience yang tidak memperhatikan Simon, akhirnya ia pun harus mendapatkan hukuman di akhir permainan dan hukumannya biasanya tergantung kesepakatan bersama. Mau coba ?

Apakah permainan ini terlalu menyenangkan bagi kebanyakan orang sehingga diterapkan dalam kehidupan nyata ? Money says, bisa dibilang seperti itu sejak era revolusi industri atau apalah itu yang saya sendiri juga tidak terlalu paham. Dinamika pasar, modal, atau mungkin yang lebih dikenal kapitalis dimana yang menjadi komando utama adalah uang. Penulis tidak ingin berbicara terlalu panjang mengenai ini karena basic dari penulis bukan bagian ekonomi, sehingga ditakutkan akan terjadi pembicaraan tanpa dasar. Namun, lihat saja dalam kehidupan kita sehari-hari. Bukan kah uang yang menentukan hampir segalanya ?

Seseorang dinyatakan bersalah oleh Sang Hakim di pengadilan, namun vonis itu dapat berubah jika uang tidak ingin berkata demikian. Seseorang yang ingin menang dalam pemilihan umum, ia akan berorasi dengan berjuta kata mutiara seharusnya ia bisa saja menang, namun tidak jika uang dari kubu lawan berkata bukan ia yang menang. Entah kenapa, namun memang benar jika tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh uang, di akhir akan mendapatkan hukuman. Pengadilan memvonis yang tidak bersalah karena uang berbicara demikian. Kemanusiaan dan nurani hanya omong kosong yang terus menerus digaungan tanpa perwujudan.

Uang seakan bisa mengalahkan jabatan dan kewenangan, semua bisa diselewengkan oleh uang. Apapun yang lurus bisa dibengkokkan, apa yang bengkok bisa diluruskan. Bahkan, hampir tak ada yang tidak mungkin jika uang sudah berkata demikian. Larangan Tuhan dilanggar, tak apa masih bisa dimaafkan ada kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Namun, bila Anda melanggar apa yang uang katakan, maka tidak ada ampun untuk anda. Suara uang dianggap sebagai suara Tuhan, bahkan seakan-akan mengalahkan perintah dan larangan dari Tuhan. Manusia lupa akan siapa penciptanya dan mirisnya ia dilupakan oleh apa yang sudah ia ciptakan. Manusia membuat uang dengan tujuan menjadi pembantu/ budak manusia meski tanpa disadari justru sebaliknya yang terjadi.

Manusia berani menerjang larangan Tuhan apabila uang yang memerintahkannya, tak tahu mereka sadar atau tidak jika sudah mempertuhankan apa yang bukan Tuhan. Pernah juga hal ini disinggung oleh KH Ahmad Musthofa Bisri dengan puisi beliau berjudul “Negeri Amplop” yang menurut penulis isinya sungguh luar biasa menarik dan menggambarkan dunia di masa kini. Meskipun saya tidak ingin mengatakan di negeri ini semua demikian, karena masih ada banyak manusia dengan nurani yang dipegang teguh sebagai keyakinannya.

Mungkin hanya sifat zuhud yang bisa diterapkan oleh manuia agar terhindar dari sifat tamak, rakus, dan mempertuhankan uang. Namun sifat ini terus saja terkikis seiring perkembangan zaman, hanya orang dewasa lah yang bisa menerapkannya.

Bukan dewasa dalam artian usia, tapi dalam kebijaksanaan. Buktinya, simon says hanya untuk anak-anak. Pertanyaan terbesarnya adalah apakah kita hanya akan terus menjadi anak-anak yang selalu memainkan money says?


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!