Categories: opiniSimponi

Mereka yang Merindukan Kebodohan

Share

Kisah tentang mereka yang merindukan kebodohan….

Ora usah kuliah, mengko ndak pinter terus ora srawung karo tonggo….
(Tidak usah kuliah, nanti malah tidak membaur sama tetangga)
Kuliah dadi keminter, ra gelem macul karo gawe sumur…
(Kuliah menjadikan sok pintar, tidak mau mencangkul dan membantu membuat sumur).

E-Lae-Lae…. Ki Semar sedang mengawasi tingkah lucu dan menggemaskan ketiga putra angkatnya, yakni Gareng, Petruk, dan Bagong. Suatu ketika mereka berbincang tetang perilaku Bima yang sudah tidak begitu hormat dengan Yudistira. Kejadian tidak sopan dalam ranah kultural budaya Jawa ini ditengarai karena kepandaian Bima yang bersekolah ke sana ke mari. Arjuna yang sempat mengikuti pengembaraan ilmu Bima pun tak kuasa mengikuti arah pembicaraan Bima. Yudistira menggeleng-gelengkan kepala. Nakula dan Sadewa merindukan “kebodohan” Bima.

“Semakin pintar, kok tidak semakin bijaksana”, celetuk Bagong yang sedari tadi ngemil palawija. “Kalau kata bapak, semakin banyak ilmu maka ia akan semakin toleran. Pintar seharusnya menjadi bijaksana, bukan sok pinter.”

“Lha bijaksana itu bagaimana to, Gong?” balas Gareng.
“Lhayo, bisa menghargai perbedaan. Tidak ngeyelan dan menganggap semua yang menjadi lawan mainnya bodoh dan tolol. Apalagi sama orang yang lebih tua dari dia. Itu kurang ajar namanya”
“Lha kalau memang yang tua itu bodoh dan ngeyel-an?”
“Dicerdaskanlah…. Biar seluruh negeri ini menjadi pintar. Menebar ilmu, bukan hujatan”

“Sudah, sudah, sudah…. Simak lagi kisah Pandawa yang saling adu kebijaksanaan”, Petruk mengakhiri.

“Kakak seharusnya menyadari. Pintar boleh, tapi jangan lupa akhlak. Apalagi sama kakak Yudistira. Sopan santun mana yang mengajarkan seorang yang lebih muda berani menentang yang lebih tua? Kakak lupa apa yang selama ini diajarkan sama Ibu Kunti.” Arjuna menghardik.

“Heh! Kamu itu juga termasuk tidak sopan bicara demikian sama saya! Dasar kalian semua itu bodoh. Dibilangi susah! Bagaimana bisa maju bangsa kita, kalau dipimpin orang-orang tak berpendidikan seperti kalian” Bima berlalu meninggalkan 4 saudaranya. Arjuna hendak melawan dan perang dengan Bima. Pun demikan dengan Nakula dan Sadewa. Tapi Yudistira menahannya. Dengan senyum mesranya, “Suatu saat dia akan menyadari bahwa ilmunya tidak seberapa dari pengalaman hidup yang sudah saya jalani.”

Baca Juga : Mari Membaca

Agama Adu Pintar

Benda mati beserta tumbuhan begitu takdhimnya sama (gravitasi) Allah. Rumah di lereng gunung tidak bediri tegak searah garis tanah, tapi berdiri searah garis gravitasi bumi. Mereka semua tunduk pada sunatullah. Mereka hanya ada dan berubah (tumbuh dan berkurang) sampai takdir meniadakannya. Pun demikian dengan hewan yang diberi kelebihan nafsu. Dari binatang terkecil sampai terbesar, dari yang jinak sampai yang buas semua mengabdi kepada Pencipta. Tidak ada pemberontakan. Semuanya taat.

Namun ada yang lebih sempurna dari itu semua, yakni manusia. Mereka diberikan kelebihan lainnya, yaitu otak atau akal. Kelebihan itulah yang memungkinkan makhluk Allah untuk tidak taat kepada-Nya. Maka tidaklah heran bahwa Iblis adalah makhluk terpandai di dunia. Jika memang itu yang diidamkan oleh manusia sebagai wujud ketidaktaatan kepada Tuhannya. Akal memantik logika untuk “merendahkan” sifat Tuhan, menyepelekan segala kekuasaan Tuhan, memuaskan segala hasrat dan nafsu manusia itu sendiri. Akal menjadi media berlaku sombong kepada batu, tumbuhan, dan kawanan binatang di sekitarnya.

Demikan yang biasa para alim ulama sampaikan dalam setiap petuahnya, “Dahulukan akhlak, setelah itu ilmu”. Sedangkan kita sejatinya kalah jauh dengan akhlak para binatang yang tidak pernah berontak dan kewcewa dengan Tuhan. Bahkan banyak di antaranya yang begitu alim (mengusai segudang ilmu), memperlihatkan kebodohannya. Mereka adalah barisan yang begitu merindukan kebodohan dan keindahan, bukan adu argumen kecerdasan untuk menikam lawannya. Islam mengajarkan persaudaraan, bukan adu kepintaran.

Seperti kutipan dari Imam Syafi’i,

[فكلما ازددت علماً ازددت معرفة بجهلي]

“Maka, setiap bertambah ilmuku, semakin bertambah aku tahu akan kebodohanku.”
— Al-Imam Asy-Syafi’i —


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tags: akhlakilmu