Merampas Ahli Kubur

Hari Kamis pukul 4 sore seperti biasa aku datang ke makam untuk mengunjungi ibuku. Sudah ramai ternyata para penduduk desa mendatangi makam sanak saudaranya, orang tua, maupun istri atau suami mereka.

Perasaan nyaman, kekeluargaan yang hangat, dan kedekatan antar keluarga dan sanak saudara begitu kental ku rasakan. Mulai dari berbagi sapu lidi secara bergiliran, kadang bergantian alas duduk, hingga ada yang nampak ramai karena membawa semua anggota keluarga untuk zikir bersama di makam tersebut. Memang ziarah kubur khususnya hari Kamis sore/malam jumat sudah menjadi kebiasaan di desa kami dan beberapa desa tetangga sehingga tidak kaget melihat pemandangan seperti itu.

Sebenarnya tidak pernah ada larangan untuk ziarah selain hari Kamis, namun kembali lagi bahwa yang melatarbelakangi hal tersebut adalah memang sudah menjadi kebiasaan. Apakah kebiasaan tersebut datang dari nenek moyang yang notabene tidak tahu akan ilmu agama ? Tentu saja tidak, dalam majelis majelis ilmu yang diadakan di desa kami memang para kiai sering menyinggung keutamaan dan kesunahan untuk melakukan ziarah kubur.

Jangan sampai orang tua sudah meninggal menjadi alasan untuk tidak berbakti pada mereka. Jangan sampai pula hanya karena warisan hingga semua tali persaudaraan hancur berantakan tak karuan. Terlalu sibuk memikirkan warisan dan hak dari ahli kubur hingga lupa bahwa mereka juga masih punya hak dari kita yang masih hidup khususnya dari para ahli waris (anak dll).

Kadang aku merasa sangat trenyuh ketika ada seorang simbah yang datang sendirian ke makam, mungkin beliau hendak menengok sang suami yang sudah wafat. Dengan susah payah beliau berjalan menuju makam sambil membawa peralatan berupa sapu lidi dan koran bekas untuk alas. Seakan besarnya rasa rindu untuk bertemu meskipun jelas tidak mungkin lagi ada tatap muka antara mereka, namun beliau percaya bahwa pertemuan secara batin adalah hal utama dan bukti nyata dari sebuah rasa cinta. Ingin ku menangis rasanya, betapa besar cinta beliau kepada suaminya, apakah kelak aku bisa mendapatkan cinta yang seperti itu? Cinta yang tak terpisahkan hanya karena sebuah kematian.

Kadang aku berpikiran, bagaimana nasib mereka yang tak dikunjungi? Sepi, sedih, gundah, resah, atau bagaimana? Tak terbayang olehku perasaan sang ahli kubur. Bagi mereka yang memang sudah meyakini bahwa bacaan Alquran dan doa tidak sampai kepada mereka yang sudah meninggal. Oke tidak saya permasalahkan karena itu adalah keyakinan. Namun, bagaimana dengan mereka yang sedari kecil sudah diajarkan untuk ziarah dan berbakti pada orang terdahulu, tidak memutuskan tali silaturahmi meskipun sudah meninggal, dan selalu diajarkan doa-doa “sebisanya”, tiba-tiba ketika menginjak dewasa menjadi anti terhadap ziarah? Lantas menebar tuduhan bahwa mereka yang melakukan ziarah kubur adalah syirik, ayo bertaubatlah, hijrahlah, karena sesungguhnya syirik adalah dosa yang tak akan diampuni oleh Allah.

Bagiku, tidak ada masalah kamu percaya atau tidak bahwa bacaan quran, sedekah, dan sebagainya itu sampai atau tidak. Yang saya permasalahkan adalah semua tuduhanmu kepada mereka yang menjalankan perintah agama namun kau sangkal dan salahkan pula atas nama agama. Mereka hanya ingin melaksanakan perintah agama, memberikan hak ahli kubur yang memang sudah tidak bisa melakukan ibadah apapun lagi, serta mengekspresikan cinta mereka.

Apakah kau tega merusak harmoni dan semua keindahan silaturahmi yang terjalin di makam? Apakah kau tega merampas hak ahli kubur yang hendak diberikan oleh keluarganya yang masih hidup? Gus Dur pernah ditanya mengapa senang sekali mengunjungi makam, beliau menjawab, “Di sini orangnya baik-baik, tidak ada caci maki, ghibah, dll”

Daripada berkumpul bersama dengan yang masih hidup tapi banyak cacian, makian, hoax, dan lain sebagainya. Bukankah lebih baik bercengkerama dengan mereka yang sudah tiada dalam lantunan zikir dan doa untuk mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah ta’ala?

Sekali lagi, penulis menekankan bahwa tidak ingin menyalahkan mereka yang memiliki pemahaman bahwa zikir, doa, dan Alquran tidak sampai kepada ahli kubur, tapi penulis hanya ingin agar jangan menuduh sesat kepada mereka yang mengamalkan ziarah.

Karena sesungguhnya mereka melaksanakan itu dengan penuh ketulusan cinta dan tanpa paksaan maupun bayaran.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis meminta bantuan seikhlasnya kepada pembaca untuk mengirimkan Alfatihah kepada Ibu Penulis, semoga semua amal ibadahnya diterima Allah dan ditempatkan di tempat terbaiknya.

ila Ibu Tuniyem binti Bp Amat Wiharjo, Allahummaghfirlaha,  warhamha, wa’afiha, wa’fu’anha
Al Fatihah


Yogi Tri Sumarno – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!