Menyelami Makna Makrifat

Tentu sudah banyak orang yang memahami istilah makrifat. Namun kadang pengertian tersebut kurang begitu didalami. Mungkin hanya strata atau derajat manusia di hadapan Allah. Dari syariat menuju tarekat menuju hakekat dan puncaknya adalah makrifat. Kalau kita lebih sederhanakan lagi, bahwa semua orang sedang menjalani fase kemakrifatan masing-masing. Sehingga makrifat adalah sebuah perasaan ingat dan peka bahwa dia adalah manusia.

Perjalanan dari tingkat satu menuju ke tingkat yang lain mempunyai cerita masing-masing. Makrifat akan susah dilogikakan oleh jamaah syariat, begitun hakikat dan tarekat. Setiap tingkat mempunyai pemaknaan masing-masing. Proses pencarian ini disebut ubudiyah. Dalam kajian tasswuf adalah proses mencari kebenaran pada strata kehambaan manusia di hadapan Tuhan.

Baca Juga : Peran Akal Dalam Islam

Dalam pencarian kebenaran ubudiyah ini, manuisa harus ingat 4 sifat kehambaan.

1. Al-Faqru. Fakir. Miskin terhadap semua yang ada. Tidak merasa memiliki apapun, karena semua yang dimiliki adalah kepunyaan Allah. Jika seseorang merasa mendapatkan sesuatu karena usahanya, maka hilanglah sifat kehambaan manusia tersebut. Hal dunia tersebut termasuk, rezeki, kepandaian, pangkat, dan lain-lain.

2. Ad-Dhullah. Merasa hina. Itulah kenapa dalam beberapa tulisan saya sering mengutip tentang ketidakmampuan kita untuk memutuskan sesuatu. Nabi sering mencotohkan tentang doa dengan kalimat “Dholim, dholim, dholim”. Kemudian dibarengi dengan pesan istighfar. Bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bukan sebuah keberhasilan, melainkan takdir dari Tuhan.

3. Ad-Dho’fu. Lemah. Dalam bahasa Jawa. Lemah berarti tanah. Seperti hakekat manusia, bahwa kita hanyalah sebuah ketidakmampuan. Perasaan lemah inilah yang akan mampu mendekatkan diri kepada Allah.

4. Al-’Ajzu. Tidak berdaya. Ketika kita merasa kagum kepada sesuatu, maka hilanglah sifat kehambaan. Kealiman, kekuatan, kekuasaan, keberanian, kecantikan, kekayaan, dan lain sebagainya sering mengelabuhi manusia. Bahwa semua karena Allah.

Setelah berhasil melalui sifat ubudiyah, selanjutnya manusia akan dihadapkan pada sifat Rububiyyah Allah. Sifat Rabb ini berbeda dengan sifat Illah. Kapan-kapan bisa saya tuliskan dalam artikel berikutnya. Bahwa dalam hamdallah menggunakan kata Rabbil’aalamiin yang seharusnya bisa diselami tentang hakekat Tuhan.


Sifat Rubbubiyah ini bertolak belakang dengan sifat ubudiyah manusia. Sehingga Allah mempunyai sifat Al-Ghaniyyu. Allah mempunyai segalanya, maha kaya. Kekayaan Allah sering dibagikan kepada hamba yang dikehendakinya. Sifat ghaniyy ini diiringi dengan sifat dermawan bagi hambanya yang meminta kekayaannya. Sehingga tidak ada kekayaan manusia berkat tangan manusia itu sendiri, jika tanpa kehendak Allah.

Kedua adalah sifat Al-Aziz. Cukup. Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Karena konsep ibadah adalah kebutuhan kita (manusia), bukan Allah. Allah tidak terganggu dengan kelakuan maksiat hamba-Nya, kemungkaran umat-Nya, dan ketidaktaatan ciptaan-Nya. Allah sudah sangat cukup dengan apapun. Tuhan tidak butuh pembelaan, karena yang pantas dibela adalah kita (manusia).

Ketiga, sifat Al-Quah. Kuat. Tidak ada daya dan kuasa kecuali dari Allah. Merasa memiliki kekuatan dan kemampuan, maka manusia telah memplagiati sifat Rubbubiyah Allah. Keempat adalah sifat Qudrah. Allah maha berkuasa atas apapun. Ketika Allah bilang “Kun” maka logika, rencana, kenyataan dari manusia bisa hilang.

Baca Juga : Phobia Tuhan

Dalam kajian tasawuf sangat menekankan ilmu adab dan akhlak. Itulah kenapa rasulullah diajari adab, Addabani Rabbi. Adab adalah ilmu batin, sedangkan akhlak adalah ilmu jasad. Adab ini digodog sedemikian rupa dalam menempa diri manusia dari segala tipudaya dunia. Sehingga dalam kata MAKRIFAT, terdiri dari beberapa huruf.

1. Mim. Malakanafs: Menaklukan hawa nafsu.

Nafsu adalah sesuatu yang selalu meminta “jatah” dalam setiap aktivitas manusia, termasuk beribadah. Barang siapa yang mampu menguasai atau menaklukan nafsunya sendiri, maka ia bisa mengenali dirinya sendiri

2. ‘Ain. ‘Isdi’anatuhu: Terus meminta tolong kepada Allah.

Jika seseorang sudah pada fase munuju jalan maqam satu persatu. Maka puncaknya adalah ia akan sangat merasa butuh sama Allah. Kedekatan kepada Allah ini diwujudkan dengan permintaan tolong akan segala apapun yang telah, sedang dan akan dilakukan manusia. Karena jika manusia tidak pernah meminta tolong, hilanglah sifat kehambaan pada dirinya.

3. Ra’. Rahiba fillah: Mencintai Allah

Kita tahu sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah. Kita menghafal asma Allah. Tapi kita susah mencintai Allah. Wujud cinta ini adalah kadar kemakrifatan masing-masing manusia. Ketika seseorang sudah mahabah kepada Allah, maka semua yang ada adalah Allah. Yang tersembunyi dalam suara adalah “huwa” (Dia). Laailahaillahu. Yang tersembunyi dalam wujud dan warna adalah af’alullah, asmaullah, dan sifatullah. Tiada apapun kecuali Allah.

4. Fa. Wafauhu. Memenuhi janjinya kepada Allah

Manusia selalu terikat pada pertalian janji antara khalik dan makhluk. Dibaca berulang kali dalam surat Al-Fatihah ayat 4. Janji ini adalah wujud cinta dan kesetiaan di antara keduanya. Manusia diberi hak apapun dalam permintaannya, sedangkan manusia mempunyai kewajiban menjalankan perintah dan menjauhi larangannya.

5. Ha. Harabba amaa dunallah. Lari dari hal selain Allah

Tidak ada sedetikpun manusia lalai kepada Allah. Setiap hembusan nafas adalah Allah, setiap jangkauan memandang adalah wujud Allah, setiap suara yang didengar adalah nama Allah. Dia selalu ada dan mengadakan diri di sepanjang perjalanan kehidupan manusia. Merasakan kehadiran Allah adalah level makrifat yang tinggi. Seperti takaran islam-iman-ihsan.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU


7 tanggapan untuk “Menyelami Makna Makrifat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!