Menjadi Pribadi yang Patuh

Hubbul wathan minal iman” adalah slogan yang pertama kali dilontarkan pendiri NU, mbah Hasyim Asy’ari. Kalimat itu berisi perintah mencintai tanah air sepenuh-penuhnya tanpa basa-basi. Dengan mencintai, setiap orang dituntut memberikan sesuatu yang terbaik untuk bangsa dan negara. Ahli pertanian misalnya, harus mewakafkan dirinya untuk memajukan pertanian bangsa, mungkin melalui penerapan agroteknologi, dan seterusnya.

Mencintai tanah air menuntut kita untuk “patuh” terhadap hal-hal yang telah dipikirkan para founding fathers. Terutama pikiran-pikiran mereka tentang kemajuan bangsa. Kata “patuh” di sini harus ditopang dengan rasa percaya. Artinya, kita bisa patuh kalau ada rasa percaya kepada seseorang yang dipatuhi. Seseorang yang dipercayai pun harus memiliki kualifikasi, paling tidak punya bukti bahwa dirinya telah berjuang memerdekakan Indonesia dari tangan penjajah. Soekarno, bung Hatta, mbah Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dst, sudah punya banyak bukti untuk hal itu. Artinya, kita bisa mempercayai apapun yang di pikirkan mereka dan sekaligus juga patuh.

Kepatuhan tidak berarti sama dengan “patuh begitu saja” atau dalam istilah Soren Kierkegaard ialah “fideistis”, yakni lompatan kepercayaan kepada “sesuatu” (pikiran para founding fathers) tanpa menelaah apakah mereka sudah punya banyak bukti untuk memajukan bangsa ini ataukah tidak. Jika terbukti bahwa mereka (founding fathers) telah berjuang memajukan bangsa ini, maka istilah fideistis menjadi tidak berlaku, dan karena itulah kepatuhan harus menjadi “kepribadian” dalam kehidupan berbangsa-bernegara.

Kepatuhan (istilah psikologi: obedience) adalah bagian dari struktur kehidupan sosial, yang mana seseorang di tuntut untuk menaati serta mematuhi permintaan orang yang memiliki “power” (Baron, Branscombe, dan Byrne). Kalimat “orang yang memiliki power” bermakna bahwa orang tersebut tidak sekedar punya kekuatan secara struktural melainkan juga kultural-spiritual, seperti mbah Hasyim Asy’ari.

Dalam kacamata psikologi, untuk menjadi pribadi yang patuh, kita harus memiliki tiga aspek psikologis yakni, sifat percaya, menerima, dan melakukan. Sifat percaya bermakna bahwa seseorang harus memahami betul ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi. Menerima berarti kecenderungan seseorang untuk menghargai ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi. Terakhir, melakukan adalah upaya seseorang untuk merealisasikan ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi.

Baca Juga: Dosakah Menjadi Indonesia?

Ketiga aspek itu bagaikan siklus. Jika salah-satu dari ketiga aspek tersebut tidak saling mempengaruhi, maka akan melahirkan tipologi “kepribadian patuh” yang cukup beragam.

Misalnya, individu yang hanya percaya saja tapi tidak menerima ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi, maka wujud dari kepribadian patuhnya ialah compulsive deviant atau kepatuhan yang “plin-plan”. Kepribadian jenis ini banyak kita temukan pada individu yang senang memperjuangkan negara khilafah. Pada dasarnya mereka percaya atau memahami betul ide-ide demokrasi. Karena tanpa demokrasi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi di sisi lainnya, mereka menolak (tidak menerima) demokrasi. Mereka, kalau bisa dikategorikan sebagai individu yang compulsive deviant atau kepribadian patuh yang “plin-plan”.

Selanjutnya, jika individu hanya melakukan saja tanpa ada rasa percaya dan memahami ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi, maka kepribadian patuhnya masuk dalam kategori otoritarian atau “bebekisme”. Kepribadian jenis ini banyak kita temukan pada kelompok Wahabisme. Yakni kepatuhannya tanpa disertai nalar kritis (percaya) terhadap ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi.

Selanjutnya, jika individu hanya memiliki sifat percaya saja tanpa memahami dan melakukan ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi, maka kepribadian patuhnya masuk dalam kategori hedonik psikopatik. Yakni patuh terhadap ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi, tapi tidak menghargai jerih-payah pihak yang dipatuhi, sehingga ruh untuk memperjuangkan ide-ide besar itu akhirnya hilang. Sederhanya, individu yang hedonik psikopatik ini seperti kalangan oportunistik, yaitu individu yang menjadikan ide-ide besar dari pihak yang dipatuhi sebagai batu loncatan dirinya untuk bisa menguasai organisasi tertentu. Kepribadian patuh jenis ini banyak kita temukan di kalangan salafi-puritan, yang mencoba masuk melalui akar rumput organisasi, dengan misi menyuntikkan ide-ide salafinya ke dalam tubuh organisasi tersebut. Individu seperti ini bisa dikatakan sebagai individu yang setengah patuh, sangat merusak atau trouble maker bukan problem solver.

Terakhir, jika individu memiliki ketiga aspek (percaya, memahami, dan melakukan) ini, maka kepribadian patuhnya dapat dikategorikan supra-moralist. Yakni kepatuhan karena keyakinan yang tinggi terhadap nilai-nilai moral (ide-ide besar) dari pihak yang dipatuhi dan berusaha untuk merealisasikannya. Kepribadian patuh jenis ini bisa diistilahkan sebagai kepribadian patuh yang kamil (sempurna).


Muh Kashai Ramadhani Pelupessy – S2 Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!