Categories: opiniSimponi

Kita Hanya Manusia

Share

Saya bertanya-tanya, seperti saat sekarang ini dalam perjalanan pulang selepas salat berjamaah dari masjid yang terletak tak jauh dari tempat saya menginap di kota bertuah, Pekanbaru.

Kenapa manusia bisa begitu bengis terhadap manusia lainnya. Mengapa kita merasa harus menganggap yang berbeda dengan melihatnya sebagai musuh yang harus ditaklukan, ditempat bernama bumi yang sangat-sangat kecil di dalam sistem tata surya yang begitu luas. Apakah kita tidak sadar jika melihat dari sudut pandang agama samawi, kita berasal dari manusia yang sama yaitu, Adam dan Siti Hawa.

Dengan berjalannya waktu kita tidak mau belajar barang sedikit dari pengalaman masa lalu yang sama dan berulang. Tentang keserakahan dan kesombongan yang membuat sesama manusia menumpahkan darah saudaranya, sesama ciptaan Tuhan. Sehebat itukah kita hingga berani menghabisi ciptaan-Nya yang lain. Manusia masih saja sama, merasa satu sama lain dialah yang paling benar, yang menjadi salah satu akar persoalan terjadinya kerusakan di mana-mana. Biarlah seharusnya kesombongan tetap milik iblis dan keturunannya saat berani bersikap pongah di hadapan Tuhan.

Sehebat apakah akal manusia dalam menerjemahkan nilai-nilai agama sehingga merasa tindakan kekerasan mendapat pembenaran dari Tuhan?! Dari manakah sifat hasut dan ujaran kebencian sesama manusia itu berasal?! Apakah mungkin Tuhan yang menginginkan perpecahan, sedangkan firman-Nya

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Tuhan memerintahkan sesama manusia untuk saling mengenal tanpa terkecuali dari yang merasa beragama sampai yang tidak merasa beragama. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Baca Juga : Agama Kemanusiaan

Menjadi manusia sajalah. Tidak usah berlebih-lebihan, yang idealnya seperti contoh sebaik-baiknya manusia dialah Muhammad – Rasulullah, tidak usah terlalu ingin menjadi iblis yang merasa benar dengan kesombonganya, atau merasa menjadi malaikat yang tidak pernah berbuat salah. Muhammad – utusan Tuhan berdakwah di tengah-tengah komunitas masyarakat yang tidak memiliki kitab sebagai panduan hidup. Tentu yang dituju sewaktu itu bukanlah umat Yahudi atau Nasrani, yang dalam literatur Alquran di antaranya dipanggil dengan sebutan Ahli Kitab. Melainkan bangsa Arab jahiliyah, khususnya suku kafir Quraisy.

Nabi Muhammad hadir di tengah-tengah komunitas yang sedang mengalami kamajuan dalam bidang ekonomi perdagangan tetapi mengalami kemunduran dan kemerosotan moral yang amat sangat parah. Perbudakan merajalela, pembunuhan bayi perempuan, penyembahan berhala, pria merasa superior terhadap kaum wanita dan lain sebagainya.

Moralitas adalah yang pertama kali menjadi sasaran perbaikan utama dakwah Muhammad, beliau memperbaiki moralitas dengan contoh sebaik-baiknya yang ada di dalam prilaku dan tindaknya sendiri. Bagaimana mungkin ingin memperbaiki moral masyarakat, tetapi moral sendiri sangat jauh dari kata baik?! Seperti yang sekarang banyak dipertontonkan para pendakwah di ruang publik yang gemar menghujat sana-sini, gampang mengafirkan sesama muslim, juga memunafikan saudaranya sendiri dengan merasa dia sendirilah yang paling benar. Seolah-olah sudah tersertifikasi oleh malaikat Jibril atas perintah Tuhan untuk mewakili-Nya menghukum hamba yang lain.

Padahal instrumen untuk menyematkan sebutan kafir dan munafik seperti tersebut di atas, sebagai manusia biasa kita dibatasi oleh informasi yang sangat-sangat minim. Barangkali penilaian tersebut hanya berdasarkan sudut pandang subjektif manusia yang sangat mungkin untuk tergelincir dalam hasutan setan melalui nafsu kepentingan pribadi. Tetapi efek sebutan kafir dan munafik yang terlanjur tersematkan ke orang lain sangat luarbiasa akibatnya dalam Islam, sampai-sampai orang tersebut boleh dibunuh.

Karena itu, tahu akan dampak yang begitu besar dalam penyalahgunaan istilah tersebut, yang dalam faktanya. Sejarah seringkali menuliskan tragedi memilukan. Agama seringkali dan sangat dapat digunakan untuk pembenaran dalam melakukan tindakan kekerasan yang dibarengi perasaan fanatik atau berlebih-lebihan. Untuk itu sangat perlu kehati-hatian dalam menghukumi seseorang dengan label kafir atau munafik. Sedangkan Muhammad sendiri pernah bersabda. “Barangsiapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh” (HR Bukhari-Muslim).

Barangkali sebagai pengikut Muhammad, kita juga jangan terlalu ke-pede-an merasa sudah benar sendiri dan merasa mewakili beliau tanpa intropeksi kedalam secara terus menerus. Benarkah kita sudah meniru beliau? Sebaik-baiknya tauladan belajarlah dengan mengenal sisi kemanusiaan dalam hidup beliau. Saat berdakwah contohlah dakwah beliau yang mengajak bukan memaksa, mengayomi bukan memukuli. Bahkan saat beliau dicekik oleh Badui kurang ajar, seperti yang terekam dalam Shahih al-Bukhari. Muhammad tengah berjalan bersama Anas bin Malik, ketika tiba-tiba seorang Arab Badui menarik selendang Najran di kalungan lehernya untuk meminta sebagian harta yang dimiliki beliau.

Apakah lantas Muhammad marah saat dipalak oleh Badui tersebut yang kelakuanya seprti pereman “lontong” itu? Hati beliau terlalu sejuk untuk menghadapi perlakuan tersebut, malah memerintahkan sahabat Anas sambil tersenyum untuk memberikan sesuatu. Itu masih belum seberapa. Muhammad bahkan pernah dilecehkan dengan kotoran hewan, pada punggung, di saat beliau sedang sujud dalam salat oleh Abu Jahal Cs. Abdullah bin Mas’ud jadi saksi, yang kemudian direkam pula dalam Shahih al-Bukhari.

Apakah beliau memerintahkan Sahabat-sahabat untuk membalas balik perlakuan Abu Jahal Cs? Tidak! Beliau hanya berdoa, “Allahumma alaika bi Quraisy, alaika bi Quraisy, alaika bi Quraisy.” Ya Allah, binasakan mereka, bangsa Quraisy yang pongah itu.

Jadi anggapan nabi seorang pemarah, pencaci, pemaki, dan penghujat itu hanyalah prilaku pembenaran sebagain orang yang kepalanya sama tidak warasnya dengan si Badui dan Abu Jahal seperti diceritakan di atas. Dengan dalih bahwa beliau marah saat agamanya dilecehkan, seharusnya kita belajar seperti apa marah seorang bernama Muhammad itu. Bukankah setiap ucapan dan prilakunya semasa hidupnya merupakan esensi dari agama Islam itu sendiri?! Jadi sungguh kurang ajar mereka yang menggambarkan beliau sebagai seorang yang garang dan barangkali kita diam saja bahkan ikut membenarkan klaim tersebut.

Akhirnya telah sampai juga saya di penginapan yang tidak jauh tepatnya di antara kampus UIN Sultan Syarif Kasim Riau dan Universitas Riau. Saat akan memasuki pintu penginapan, saya tertegun melihat potongan video tragedi kamanusiaan yang didapat dari grup whatsapp. Saat jamaah salat Jumat di Selandia Baru ditembaki secara sadis oleh pria bersenjata. Sungguh ini tindakan teroris yang sangat tidak manusiawi. Tiba-tiba saat setelah melihat cuplikan video tersebut saya merasa kepala berat dan mulai sempoyongan. Dengan hati berdebar, dalam hati berharap semoga semua akan baik-baik saja dan bangsa Indonesia dengan jumlah muslim terbesar sentero bumi, dapat dewasa dalam menyikapi persoalan ini. Dan tiba-tiba semua menjadi gelap.


Riki Asiansyah – Seni tablig Seniman NU