Mengingat Mati

Sudah malam.

Namines masih duduk di balkon rumah. Menatap bulan purnama. “Masih setengah perjalanan”, katanya lirih. Semakin larut, dia mencengkram kedua lututnya. Menginggil. Memejamkan mata dan berimajinasi tentang mati. Iya, MATI!

“Sudah sering saya bilang, bahwa kunci hidup itu adalah ingat mati”

Namines perlahan meneteskan air mata. Sesekali berteriak ketika mengingat betapa sadisnya peristiwa sakaratul maut. Merasakan sakit dari ribuan penyakit di seluruh dunia. Rambut serasa terlepas dari kulitnya. Kulit terasa tersayat dari dagingnya. Tidak mungkin kuat menghadapinya – rasanya.

Sedangkan setiap detik Namines hanya dihabiskan waktu untuk merenung, membaca, menikmati hidup. Seorang pemuda yang menurut banyak orang sudah bisa mengenali dirinya. Ada masa ketika dia lemah, rapuh, dan bersimpuh. Dia tiadalah apa-apa. Debu yang sebentar lagi akan tersapu angin. Masa itu adalah ketika Namines ingat mati.

“Kamu kenapa?”, tanya seorang yang begitu hangat dengan Namines. Membangunkan dari lamunan dramatis menuju kematian. “Aku ingat mati”. Kata Namines datar.

Namines yang menurut kisah temannya jarang berbuat kemungkaran masih bisa merasakan ketakutan yang begitu hebat. Meneteskan air mata dari kokohnya tembok keimanan. Apalagi aku yang setiap detik bermaksiat, berprasangka buruk, membenci, serakah, berbohong, munafik, dan ribuan spesies dosa lainnya. Sedangkan aku tidak pernah menyempatkan semenit pun untuk mengingat mati seperti yang malam ini Namines lakukan.

Bagaimana kalau besok aku mati?

Bagaimana kalau sekarang aku mati?

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan” )


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!