Categories: kolase

Menghujani Batu

Share

“Musim hujan”.

Suara rintik yang berirama dari perkusi atap seng dan kemercik kubangan di depan rumah. Sesekali suara petir yang menggelegar dan memecah lamunan, Namines. Di teras. Duduk ia bersama teh hangat. Menyapu pandangan ke segala penjuru. Perenung sejati. Apalagi diiringi suasana meriah air-air yang saling salip menjatuhkan diri ke tanah. Hujan sore ini sangat amat indah.

Halaman rumah sudah mulai becek. Rerumputan patah dihujam berulang kali tetes hujan. Beberapa ranting pohon juga tergeletak tak kuasa mempertahankan kesetiaan dedaunan. “Hujan, kamu itu menghidupi atau mematikan?”. Namines masih meracau. Mencari filosofi hujan yang turun tiada lekas. Disyukuri para petani yang sebelumnya kekurangan air irigasi. Dicaci para pengendara motor yang berteduh di kios-kios pinggir jalan.

Semasa kecil begitu nikmatnya mandi di bawah talang penadah hujan. Tidak perlu beratus ribu uang hanya untuk menikmati air terjun alami. Demikan, masa kecil yang tidak perlu begitu eksis untuk menjadi bahagia. Mereka cukup perlu memamerkan pada dirinya sendiri. Bersama hujan, kawan, dan keceriaan.

Namines kembali mengalihkan pandangan ke halaman rumahnya. Tepat di depan teras rumah dia duduk merenung. Tanah yang begitu lembut melebur bersama hujan. Menyuburkan berbagai tanaman di sekitarnya. Hujan bukan lawan, dia adalah kawan. Tergantung bagaimana tanah memperlakukan serangan brutal hujan berantai tersebut. Di tengah halaman ada sebuah batu yang lumayan besar. Batu itu sudah ada bahkan sebelum Namines lahir. Kata bapak, dulu tidak sekecil dan serapuh saat ini.

Awalnya batu itu sangat kokoh. Seiring puluhan tahun dikeroyok air hujan dan terik matahari, akhirnya luluh juga seperti sekarang. Begitu rapuh. Mungkin sekarang hanya butuh sekali pukul menggunakan martil, batu itu hancur berantakan. “Andaikan semua hati juga demikian…..”, Namines mengigau.

Manusia selalu diberi modal idealis masing-masing. Ada yang begitu kokoh, gampang terpengaruh, dan plin-plan karena gamang untuk menyadari idealismenya. Pria yang identik dengan keras kepala (logika), akan dengan sangat luluh dengan hujan perhatian dari sang wanita (perasaan). Butuh beberapa strategi untuk menghancurkan kerasnya idealisme. Tapi satu yang menjadi pelajaran dari hujan adalah, keistikamahan dan pantang menyerahlah yang akan membuat manusia berkepala dan berhati batu akan hancur.

Hujan tidak perlu menjadi batu untuk menghancurkan batu. Demikian yang akan saling menghancurkan keduanya. Hujan cukup menjadi air yang senantiasa membelai mesra batu untuk ditaklukan. Yang menjadi rumit saat ini adalah semua orang yang menuduh lainnya batu dan dirinya merasa menjadi air hujan. Sedangkan Tuhanlah yang berhak menentukan peran siapa yang menjadi batu dan air hujan.

Jika aku batu, hujanilah aku dengan kasih sayang. Jika aku air, ijinkan aku menghujanimu dengan kasih sayang”, rintih Namines kepada hujan yang perlahan reda bersama pelangi yang membentang sempurna di pematang sawah.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tags: namines