Categories: AransemenKajian

Hormati Orang yang Tidak Berpuasa

Share

Shiyam dan Shoum menurut bahasa adalah Imsak (menahan). Menurut istilah Syara’ yaitu menahan dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, disertai dengan niat yang telah ditentukan dari semua siang hari yang menerima terhadap puasa dari seorang muslim, yang mempunyai akal, yang suci dari Haid dan nifas. Syarat wajibnya puasa yaitu ada 3 perkara, dan menurut sebagian salinan matan ada 4 perkara yaitu: Islam, baligh, berakal, mampu/ kuasa untuk berpuasa. Dan yang keempat (kudrot/ mampu) yaitu perkara yang gugur dari tulisan 3 perkara. Maka tidaklah wajib bagi orang yang terkena lawan dari 4 sifat perkara di atas. Demikian adalah perkara yang seharusnya dijadikan pegangan untuk menghormati orang yang tidak berpuasa.

Selain kajian fikih yang memuat rukun, fardhu, sunah, dan yang membatalkan. Puasa juga bisa dimaknai dari perspektif tasawuf. Puasa itu ada dua, yaitu puasa ‘aam (umum) dan puasa khos (khusus). Puasa khos bukan hanya tidak makan dan tidak minum, tetapi juga termasuk menjaga hati. Ada lima hal yang bisa membatalkan pahala ibadah puasa, yaitu berbohong, mengadu domba, gibah, bersumpah palsu, dan mengumbar pandangan secara syahwat.

Baca Juga : Taklidku Karena Cintaku

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah mengatakan, “Allah berfirman: Semua amal anak turun Adam (manusia) adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa, karena puasa adalah milik-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Jadi, jika salah seorang di antara kamu berpuasa, maka hendaklah ia tidak berlaku dan berkata kotor, tidak berteriak-teriak, dan tidak bertindak layaknya orang bodoh. Jika ada salah seorang yang mencaci-makinya, atau mengajaknya berkelahi, maka hendaklah ia mengatakan, saya sedang berpuasa. Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad SAW, sungguh bau mulut orang yang berpuasa bagi Allah di hari kiamat jauh lebih wangi daripada aroma wangi misik. Dan orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya.”

Puasa kepada Allah

Allah Swt. menyertai pembicaraan dengan-Nya dengan hijab, dan munajat adalah percakapan serta pembicaraan. Dia berfirman, “Aku membagi salat menjadi dua bagian antara Aku dan hamba-Ku. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya lagi untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Hamba berkata: Alḥamdulillahirabbil‘alamin’, Allah menjawab: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’.” Sementara itu, tidak ada pembagian dalam puasa. Ia hanya milik Allah Swt. dan bukan milik hamba. Tetapi hamba memperoleh imbalan dan ganjarannya dikarenakan puasa itu sendiri adalah milik Allah Swt.

Dalam hadis qudsi disebutkan bahwa Allah Swt berfirman: Puasa berhubungan dengan-Ku dan Aku pula yang akan membalas orang yang berpuasa. Bila orang yang berpuasa melakukan puasanya dengan ikhlas, cinta dan ‘ubudiyyah (penghambaan) serta pelaksanaan perintah Ilahi maka sejatinya puasa sekelas ini lebih tinggi daripada sekadar masuk surga dan tidak masuk neraka. Dengan demikian, puasa dapat ditafsirkan secara sufistik seperti ini bahwa aku berpuasa bukan untuk mendapatkan surga dan terhindar dari neraka, tetapi karena cinta kepada Ma’bud (yang berhak disembah), Ma’syuq (kekasih) dan Mahbub (yang tercinta). Dan karena Allah memerintahkan puasa maka saya memperhatikan perintah ini.

Abu Thalib Makki mengatakan: “Allah berfirman, dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan (mengerjakan) salat,’ dan dalam pelbagai kitab tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud sabar dalam ayat ini adalah puasa. Karena itu, Rasulullah saw menamakan bulan puasa dengan sebutan syahru ash-shabr (bulan sabar). Sebagian ulama mengatakan bahwa tujuan meminta pertolongan pada sabar dalam ayat tersebut adalah zuhud di dunia melalui puasa. Sebab orang yang berpuasa bagaikan zahid (orang yang mempraktikkan zuhud) sekaligus ‘abid (ahli ibadah), dan puasa adalah kunci zuhud serta pintu ibadah kepada Maula (Sang Pemimpin Agung). Karena puasa mampu menahan nafsu makan dan minum.

Baca Juga : Puasa – Saleh Ritual, Saleh Sosial

Menghormati orang yang tidak berpuasa

Sedang ramainya berbagai pemberitaan tentang “kegagahan” muslim yang berpuasa. Seolah berhak dan harus dihormati. Bahkan ada daerah yang menuntut warga non-muslim untuk tidak makan dan minum di siang hari selama bulan puasa. Mengucilkan iman seseorang dengan segala bentuk godaan yang bisa membatalkan puasa. Muslim bukan hanya bocah yang sedang dan baru belajar puasa!

Kalau melihat penjelasan dari tulisan di atas, sejatinya puasa adalah ibadah yang melatih diri dari godaan setan dan hawa nafsu. Dimana kita menghindarkan diri dari makan dan minum dan menggantinya dengan mengkonsumsi zikir atau wirid, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, dan lain sebagainya. Puasa adalah dimensi ketauhidan antara Tuhan dan hambanya. Semakin besar godaan muslim yang berpuasa, maka akan semakin istimewa kualitas ibadah kita di hadapan Allah.

Jangan sampai puasa hanya dijadikan aktivitas “kuat-kuatan” menahan lapar dan dahaga. Sehingga dalam prosesnya masih disisipi sifat-sifat kebencian, kedengkian, kemarahan, dan tindakan kriminal yang dialamatkan kepada orang lain yang tidak berpuasa. Semua orang mempunyai hak masing-masing dalam beribadah, karena semua akan dipertanggungjawabkan sendiri oleh orang tersebut. Sebagai muslim yang berasaskan adab Nabi Muhammad, seharusnya kita belajar mencintai dan menghargai sesama, meskipun berbeda keyakinan dengan kita. Hormati mereka seperti halnya mereka menghormati kita dalam ritual ibadahnya.

Bulan puasa jangan dijadikan alasan tersendatnya rezeki bagi mereka yang memaksakan berjualan di siang hari. Mari di bulan yang penuh berkah ini kita perbanyak berprasangka baik kepada sesama, termasuk menghargai orang yang tidak berpuasa. Memperbanyak ibadah untuk bakti ketaatan kita sebagai hamba Allah Swt.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU