Categories: kolase

Mengalasi Kebaikan

Share

Siang itu, Namines menonton televisi sambil tiduran dan main HP. Ibunya memasak di dapur, sedangkan bapak pergi untuk urusan dengan perangkat desa. Adik bermain bersama temannya yang kebetulan berdekatan dengan rumah mereka. Rumah Namines tidak terlalu mewah. Hanya kadang ada beberapa perabotan yang dipajang untuk mempercantik ruangan.

Sesaat kemudian, ada 3 orang pengamen yang rutin mengunjungi rumah. Biasanya tepat jam 1 siang. Seolah ada alarm untuk “wisata” ke rumah-rumah desa. Satu berambut gimbal dengan memegang gitar. Satunya lagi wanita sekitar 17 tahunan sebagai biduan. Lainnya, sebagai figuran dengan memainkan tangannya untuk bertepuk irama.

“Bu, ada pengamen”, ujarnya dengan nada malas mendengar suara racau para pengamen tersebut, “Bu, ada uang tidak?”

Namines bangkit dari posisi tidur. Setengah lunglai dan menatap layar HP. Mendekati ibunya dan meminta uang untuk dikasihkan pengemis. Ibu mengeluarkan beberapa jenis uang dari sakunya. Kemudian dipilihkan nominal terkecil: 500 perak. “Yah, masak tiga orang cuma dikasih 500?”. Wajah ibu menunjukkan ekspresi pengertian. Seolah dia bilang, “Itu nanti sehari bisa mengunjungi 200 rumah. Artinya bisa mendapatkan minimal 100 ribu perhari. Berarti sebulan bisa dapat 3 juta. Itu 2 kali lipat dari gaji bapakmu sebagai perangkat desa”.

Baca Juga: Bhinneka Tinggal Luka

****

“Keluarlah sayang, aku sudah ada di depan rumah”

Namines mengirimkan pesan singkat kepada pacarnya. Seketika dia datang dengan penampilan yang sangat menawan. Segera Namines mulai pacu sepeda motor untuk berkeliling melintasi kota yang begitu cerah malam itu. Mereka biasa berkencan hanya duduk di trotoar jalan, makan di wedangan pinggiran kota, dan berdiri di pinggir jalan raya menghitung jumlah bus yang lewat.

Saat mereka memutusakan untuk makan di pinggiran jalan. Ada seorang ibu-ibu menggendong anaknya. Wajahnya lusuh. Anaknya tertidur pulas. Kakinya pecah-pecah. Matanya sayu. Dia mendekati kami dan menodongkan tangan untuk meminta-minta. Pacar Namines mengeluarkan uang 500 perak dan mengasihkan kepada pengemis tersebut. Dengan santun dia mengucapkan, “Terimakasih. Semoga dimurahkan rezekinya”. Kemudian dia berlalu.

“Kok cuma 500?”, Hardik Namines. “Betapa kasihan wajah pengemis itu. Anakknya juga. Ibu yang tidak bisa menyekolahkan anaknya. Ibu yang ditinggalkan suaminya. Ibu yang sangat mengasihi keluarganya. Dan kamu hanya memberinya 500 perak?”

Pacarnya sambil tetap makan dengan lahapnya. Duduk bersila seolah mengabaikan semua perkataan dan nasehat Namines. “Bahkan doanya sebelum pergi itu bisa tidak ternilai harganya”

“He?!”

“Begini ya sayang, mereka (pengemis) itu hanya akting. Mereka ada koordinatornya. Disuruh ke sana ke mari yang nanti hasilnya akan diserahkan kepada bos-nya. Mereka itu hanya pekerja yang ditugaskan untuk membohongi kita. Berhentilah bersikap empati. Coba kamu baca berita di internet. Bahkan untuk menciptakan rasa iba, mereka rela membeli bayi yang kemudian disuntik dengan narkoba agar dia sakau dan tidak sadar saat mereka mengemis. Gila kan itu! Ibu-ibu semacam itu harusnya bekerja dan mencari rezeki yang halal, bukan malah mengemis dan memanfaatkan kondisi bayi untuk keuntungannya sendiri. Dasar!”

Panjang lebar pacarnya mengomentari kisah pengemis itu. Kemudian baru tersadarkan, bahkan berbuat baik pun harus dialasi. Sumber kebaikan mulai bergeser, yang semula menetap di hati, kemudian berpindah dalam pikiran-pikiran manusia. “Baik bukan perasaan, tapi logika”, bisik setan malam itu.

Bagaimana bisa mereka berteriak tentang keadilan, jika dalam dirinya sendiri saja masih ada keraguan untuk berbagi kepada sesama. Banyak hal. Manusia selalu merasa kebahagian tidak boleh dibagi. Sifat raja hutan, siapa yang menang, dia yang berkuasa. Manusia yang selalu merasa bersyukur karena melihat manusia di sekitarnya sengsara dan menderita.

Apakah ajaran agama belum begitu mereka yakini sebagai sumber pahala dengan ikhlas berbuat kebaikan?


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU