Menerima Perbedaan Cerminan Asli Bangsa Indonesia

Kalau orang Indonesia pasti paham jika sedari lahir dan kecil tanpa kita harus pergi ke seberang pulau sana (sambil nunjuk Australia) kita mengerti bahwa bangsa kita adalah kumpulan dari berbagai macam latar belakang komunitas masyarakat, yang tidak hanya berbeda dalam hal warna bulu ketiak tetapi seluruhnya dari mulai pucuk rambut sampai ujung kaki, dari yang bersifat lahiriah maupun yang batiniah kita ini berbeda dari sononya.

Bukan suatu yang asing jika di kampung-kampung selain ada masjid yang berdiri ada juga gereja, pura, wihara, dan beberapa tempat ibadah kepercayaan lainnya yang berdampingan. Jikalau jumlah penyebaran berbeda-beda secara kuantitas, tetapi satu hal yang pasti itu semua ada di bumi Indonesia. Dan kita harus bangga, bahwa sampai saat ini, secara umum meskipun letupan-letupan kecil gesekan beberapa terjadi yang itu pun diakibatkan dari pengaruh idiologi transnasional.

Negara kita Indonesia relatif aman dibandingkan negara-negara yang mayoritas berpenduduk beragama Islam lainya, yang sampai sekarang ribut tak berkesudahan. Seprti Libiya, Somalia, Suriah, Afganistan, Pakistan dan beberapa negara lainnya. Jangankan memikirkan kemajuan bangsanya, menyelesaikan konflik tak berkesudahan tentu sudah habis menguras banyak energi. Seperti ngelupain gebetan yang ditikung teman pas detik-detik terakhir. Nyesek tenan!

Mungkin diperkotaan jumlah rumah ibadah bisa jadi lebih banyak secara kuantiatas dan kualitasnya tentu lebih megah-megah atau memang sengaja bermegah-megahan, dengan perabotan interior dan eksterior yang bikin pengemis compang-camping segan sekedar mampir buat menyapa Tuhan sangking takjubnya, dibanding rumah ibadah di daerah pedesaan atau kota kecil setingkat kecamatan yang relatif lebih sederhana.

Baca Juga : Tanpa Pluralisme Tidak Akan Pernah Ada Indonesia

Tapi tunggu dulu, rumah ibadah jika diliat secara materil mungkin tak ubahnya seperti bangunan beton, kebanyakan tanpa esensi sebagaimana fungsinya untuk menjadi tempat dalam membentuk moralitas masyarakat. Makanya jangan heran jika meskipun tempat ibadah besar dan mangkin banyak, tetapi moralitas masyarakat kian merosot dan melorot dari kepribadiian bangsa yang toleran. Bisa jadi bangunan beton itu hanya sekedar bangunan dalam ruang hampa saja. Sedih miris teriris.

Jikalau boleh membandingkan tanpa ingin mendiskriminasi prilaku manusia perkotaan yang sangat-sangat “purba” dalam beberapa hal terutama dalam keberagaman. Seperti di pedesaan bernama Sialang Indah, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan rasanya sangat bagus dijadikan contoh dalam hal toleransi beragama.

Di sana masyarakat mayoritas beragama Islam dan hanya ada hitungan jari kepala keluarga yang Kafir – eh Non Muslim maksudnya. Akan tetapi saat terjadi kemalangan salah seorang warga muslim yang meninggal, yang Non Muslim ikut berduka di rumah keluarga yang kemalangan sampai-sampai juga mengantarkan bersama-sama masyarakat lainya ke pemakaman desa tersebut.

Dan sebaliknya begitu juga, beberapa tahun yang lalu keluarga Bapak Sihombing yang non muslim harus kehilangan pak Sihombing di tengah-tengah keluarganya, dan yang membuat takjub yang melayat atau takziah juga seluruh masyarakat desa yang mayoritas mulim tadi. Keluarga bersangkutan juga sampai menyediakan makanan halal yang dipesan dari tetangga muslim yang punya warung makan untuk menjamu dan bersedekah bagi masayarakat muslim yang datang ikut membantu prosesi pemakaman.

Indah bukan? Apakah hal tersebut terjadi di masyarakat perkotaan yang dicitrakan beradab dalam tayangan televisi, sedangkan masyarakat pedesaan yang dianggap “gelugak-geluguk”. Padahal jika dilakukan peneliaan secara umum. memang masyarakat desa lebih berdab dalam hal bertoleransi dan beragama. Mungkin ini juga dikarenakan basis Nahdlyiin (sebutan warga NU) yang mayoritas berada di kampung-kampung dan pedesaan.

Kita sama-sama tahu, organisasi Islam terbesar segalaksi bimasakti ini satu-satunya organisasi yang paling getol menyuarakan keberagaman dengan efek yang tentu besar juga, karena para ulama dan kiai merupakan panutan yang digugu dan ditiru, bukan sekedar tontonan kayak ustaz yang tampil klimis di depan televisi yang penuh dengan sekenario. Tetapi mereka adalah panutan yang hadir di tengah-tengah masyarakat yang saat dibutuhkan bantuan mereka selalu hadir tanpa tarif yang terselubung “seikhlasnya saja” atau yang terhubung “silahkan bicarakan masalah tarif ke menejer saya”.


Riki Asiansyah – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!