Categories: biografiFolkor

Meneladani sang “Guru Bangsa” Gus Dur

Share

Siapa yang tidak kenal dengan Guru Bangsa kita ini, ia adalah salah satu ulama besar di Indonesia yang merupakan cucu pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari. Sikap kontroversial dan nyelenehnya adalah ciri khas beliau. Namun, bagaimana pun ia tetap  dicintai masyarakat banyak karena sikapnya dalam membela kaum minoritas dan kaum kecil.

Di balik sikap nyelenehnya beliau mampu menelurkan tokoh-tokoh besar baik secara langsung maupun tidak antara lain: KH Hasyim Muzadi, KH Said Aqil Siradj, Mathori Abdul Jalil, Muhammad As Hikam, Alwi Shihab, Choirul Anam, Saifullah Yusuf, A Muhaimin Iskandar, Mahfud MD dan Khofifah Indar Parawansa seperti yang dikutip dalam bukunya Hanif Dhakiri 41 Warisan kebesaran Gusdur.

Ketika menjadi Presiden pun beliau tetap seperti biasanya mengayomi siapa saja tanpa membeda-bedakan orang lain; baik itu suku, agama dan budayanya semua ia rangkul. Dari sikap egaliternya ini beliau sangat disayangi seluruh masyarakat Indonesia.

Bahkan Istana Negara, rumahnya Presiden ia buat senyaman mungkin, semua rakyat bisa memasukinya tanpa tedeng aling-aling. Rakyat kapan pun bisa memasukinya walau itu hanya sekadar silaturahim saja. Gus Dur dengan senang hati menerima semua tamu yang hadir ke Istana. Ia akan melayaninya, baik dari masalah yang kecil hingga yang paling besar.

Dan setiap permasalahan yang beliau hadapi pasti akan dilakukan dan dijalaninya dengan woles. Pasti kalian semua ingat dengan jargon ini, “Gitu Aja Kok Repot“. Nah inilah hebatnya seorang Gus Dur ia mampu menempati posisinya kapan pun dan di mana pun dan sebagai apapun dengan santai.

Karena beliau dari kecil pun sudah dididik oleh kakeknya KH Hasyim Asy’ari tentang kesederhanaan dan bagaimana cara  menghormati orang lain tanpa membeda-bedakan latar belakangnya apa. Karena sejatinya perbedaan itu adalah rahmat. Seperti dalam QS. Al-Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Jadi jelas ya ayat di atas kita hidup di dunia ini akan menemui berbagai macam suku, budaya dan agamanya itu untuk saling mengenal bukan malah memusuhinya dan mengklaim bahwa sukunya yang paling baik, inilah itulah tidak. Karena di mata Allah semua sama, yang membedakan hanya iman dan taqwanya.

Kita selayaknya manusia jadilah manusia yang memanusiakan manusia. Jangan dikit-dikit beda pandangan saja sudah dianggap sesat, beda pilihan dianggap kafir. Gak gitu juga wong ketika jaman Rasulullah sampai jaman sekarang kita kiai-kiai orang pondok pesantren hal seperti itu biasa. Kenapa harus dipermaslahkan.

Kalau tidak percaya datang saja ke pondok pesantren di situ ada yang namanya Batsul Masail. Forum Bahtsul Masail atau pembahasan sebuah persoalan yang mendasarkan pada kitab-kitab rujukan ulama klasik atau kitab kuning menjadi tradisi Nahdlatul Ulama (NU) sejak lama. Bahkan, Bahtsul Masail yang membahas berbagai permasalah kehidupan telah mewarnai jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara (nu online).

Kiai-kiai  di sana mendiskusikan atau berdebat suatu permasalahan dan di sana tidak ada yang menganggap bahwa pendapatnya paling benar. Karena pendapat-pendapat yang sudah dikumpulkan itu nanti yang akan dijadikan fatwa untuk suatu masalah itu dan itu dilakukan dengan cara musyawarah. Karena itu yang diajarkan Islam.

Sebagai penutup tulisan ini…

Pelangi tidak akan indah jika hanya memiliki satu warna saja. Begitu pula dengan Indonesia akan lebih indah jika memiliki banyak warna dan macam-macam coraknya.


Kang Galih – Seni Tablig Seniman NU

View Comments