Mencari Celah

“Namines…. Namines…. Namines….”

Teriak beberapa orang memintanya kembali. Beberapa bulan ini Namines menghilang entah kemana. Semua keluarganya juga tidak mengetahui keberadaan Namines. Mungkin dia sedang semedi. Ah, tidak. Paling dia sedang mencari jati diri atau hanya sekedar butuh inspirasi.

Sore itu datanglah Namines bak seorang musafir. Pakaian lusuh, beberapa bekal dan sebuah tongkat yang menyangga tubuhnya. Semua menghampirinya, membantunya, dan merawatnya. Namines adalah manusia dari dimensi lain yang dihadirkan ke dunia. Manusia yang mengajari cara menjadi manusia.

Malam itu Namines bercerita banyak tentang pengembaraannya selama ini, “Manusia jaman sekarang itu selalu mencari celah yang dianggap lawannya. Mereka ingin sekali menang beargumen, berdebat, dan berperang. Ketika ada orang baik bicara sesuai kapasitas dan kemampuannya memahami agama, sedangkan mereka berada pada pihak yang dianggapnya musuh. Maka pihak lain akan berusaha mencari celah untuk menjatuhkan martabatnya, mempermalukan atas kesalahan yang disampaikan. Sampai pada akhirnya para dermawan ilmu tersebut mempetuahiku, “Semakin banyak bicara, maka akan semakin terlihat kekuranganmu. Maka dari itu diamlah”. Diam adalah emas, katanya. Di sisi lain, guru kami menasehati, yang waras jangan ngalah. Itu menandakan betapa gilanya jaman sekarang. Yang bodoh tidak mau mengaku bodoh, sedangkan yang pintar ikutan pura-pura bodoh. Sehingga kebodohan dianggap sebagai kebenaran.

Malam itu begitu spaning melihat suasana yang tidak biasa dari Namines. Pemuda yang begitu ditunggu setiap kisahnya. Pesan-pesan pun mengalir mengguyur perasaan warga. Bahkan setiap kami yang terlihat saling menyayangi, teriak sama-sama saudara, juga kadang suka mencari celah kelemahan lawan. Bahkan kebenaran dari lawan dipelintirkan untuk kemenangan atas dirinya. Intinya mereka selalu berpedoman bahwa di dunia ini yang berhak dianggap pemenang dan pemegang kebenaran adalah dirinya dan kelompoknya.

Melihat yang dianggapnya musuh malu adalah tujunannya. “Tidak apa-apa”, katanya. Bahkan bila sampai kita harus saling perang dan menaklukan. Menunjukkan kepada Tuhan, bahwa “Tuhan, akulah yang paling benar dan kuat di muka bumi. Akulah yang sejatinya khalifah. Dan mereka semua sesat!”


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!