Categories: opiniSimponi

Menawar Tuhan

Share

Berdoa. Memohon itu berbeda dengan menuntut. Kadang manusia tergiur dengan janji Tuhan yang akan mengabulkan setiap doa hambanya. Namun terjebaknya adalah tuntutan seorang hamba kepada Tuhannya. Sehingga agama hanya dijadikan alasan karena ketidaklogisan kehidupan di dunia. Semua akhirnya dikembalikan kepada sang Maha. Seharusnya memang demikian. Asal memahami tatacara memasrahkan keingan dunia secara benar.

Berdoa itu wajib. Seperti juga ikhtiar. Jangan menafsirkan terlalu jauh tentang makna rukun iman ke-6 tentang qodho dan qodar. Sehingga tidak ada alasan bahwa semua sudah ada yang mengatur dan menjadikan manusia “diam” menunggu kematian. Agama tidak bisa dilandasi hanya pada pola pikir realitas. Bukan juga harus menolak ajaran filsafat. Namun agama lebih kepada norma hamba kepada Tuhannya. Tarik ulur perjanjian atas janji dan hadiah kepada manusia. Hak dan wewenang itu yang tidak boleh disalahartikan oleh manusia. Itulah sebab-akibat. Jadi jangan heran jika ada hajat yang tidak terkabul, bukan karena Tuhan ingkar, namun karena manusia telah melanggar perjanjian utama (menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya).

Kalau kita kaji tentang tafsir Alquran dalam ayat pertama, ada kata rahmaan rahiim. Sebagai orang beragama tentu tidak akan heran dan bertanya tentang ketidakadilan Tuhan. Sehingga hajat bukan diukur dari seberapa sering dan lama dia beribadah. Namun lebih kepada seberapa ia pantas memohon sebuah hajat. Rahmaan ditujukan Tuhan kepada semua umat manusia. Sedangkan rahiim dimaknakan lebih sempit, yakni kepada hamba yang lebih ingin mendapatkan balasan atas kepantasan doa yang dipanjatkan.

Dalam kadar Ar-Rahmaan, tidak ada batasan berapa rezeki dan kebahagian yang diberikan Tuhan kepada manusia. Sehingga meskipun ada orang yang ahli maksiat pun bisa mendapatkan limpahan rezeki. Pembagian takdir ini sudah ditentukan Tuhan sejak zaman Ajali, dimana semua ruh manusia diciptakan secara serentak setelah nur nabi Muhammad. Jadi jangan heran jika dalam kebangkitan dari alam kubur, ruh yang dibangkitkan akan berusia sama. Karena sejatinya ruh dalam manusia itu sama yang terlihat membedakan adalah waktu kelahiran ke dunia. Dan ketika semua ruh yang telah diciptakan Tuhan di zaman Ajali tersebut habis. Maka tidak akan ada lagi kehidupan di dunia (kiamat).

Sedangkan Rahiim diperuntukan untuk mereka yang meyakini (beriman dan bertaqwa) kepada Tuhan. Semakin tinggi keimanan manusia, maka ia akan semakin mudah terkabul hajatnya. Itulah kepantasan. Tak heran jika banyak ulama yang kelihatanya tidak bekerja keras dan hanya berdzikir namun rezeki bisa lancar dan diberikan kesehatan serta umur panjang dalam kebahagiaan. Sedangkan dilain pihak banyak orang kaya yang jauh dari agama namun tidak pernah merasakan ketentraman dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Kedalaman agama akan dirasakan bagi mereka yang benar-benar ikhlas beragama. Perhatian dan penuh kasih dalam beragama. Puncaknya adalah kebersihan hati. Karena muara dari agama bersumber dari hati. Hati adalah sesuatu yang tidak pernah dimengerti oleh siapapun, kecuali dirinya dan Tuhan. Di situlah pertanggungjawaban yang akan dijelaskan manusia di akhirat kepada Tuhannya.

Ada 3 hal yang meliputi manusia. Jasad, Jiwa dan Ruh. Namun saya tidak akan membahas jauh ketiganya. Yang ingin saya tekankan adalah fungsi dari ketiganya sebagai mediator dalam menjalani kehidupan. Pusat dari diri manusia adalah hati. Yang kemudian bisa di fasilitatori oleh otak dan diekspresikan melalui ucapan dan tindakan. Tidak heran jika hati terlalu kelam maka yang timbul adalah perkataan dan perbuatan yang tidak begitu disukai oleh manusia lainnya.

Sedangkan hati yang bersih akan terasa jika banyak manusia lain yang nyaman dengannya meski kadang dibungkus dengan jasad yang begitu kotor. Pola perilaku manusia dihadapan Tuhan akan terlihat jelas dalam diri manusia di sekitar kita. Dari ucapan, tindakan, dan pemikiran (prasangka). Jika hati sama-sama kelam maka yang terjadi adalah kesepakatan perilaku yang menyimpang dalam menghadapi permasalahan hidup. Tindakan tercela yang mereka sadari atau orang lain sadari adalah wujud ketidakjernihan hati manusia dihadapan Tuhan.

Kebaikan manusia bukan diukur dari ketekunan dia beribadah. Namun lebih kepada cara pandang mereka terhadap Tuhan. Karena yang dilihat Tuhan bukan jasad manusia namun ruh yang terbungkus oleh jiwa. Seorang yang terlanjur berperilaku baik kepada Tuhan maka ia akan lebih menghargai sebuah kebaikan dan kekhawatiran akan tindakan keburukan.

Sedangkan orang yang terbiasa dengan tindakan keburukan maka ia akan merasa biasa jika ia melakukan kesalahan (dosa) tanpa berfikir tentang resiko terhadap sesamanya bahkan dirinya sendiri. Demikianlah manusia yang akan selalu terbagi menjadi dua berdasar garis keturunan nabi Adam. Sehingga kita akan memilih menjadi keturunan Habil atau Qabil.

Jangan menawar Tuhan dengan doa yang tidak pantas dimohonkan. Setiap manusia mempunyai kadar kemampuan dan kepantasan tersendiri dalam berdoa. Bukan berarti mengesampingkan adanya istidraj, karomah dan mukjizat. Namun lebih kepada kesadaran manusia itu sendiri dihadapan Tuhannya.

Tidaklah pantas jika terlalu menawar Tuhan dengan ibadah yang begitu tekun namun hati masih terikat kepada dunia. Jauh diruntut keluar maka yang terlihat dalam diri manusia adalah usaha “kecantikan” kepada manusia lain (dunia) dari pada usaha “kecantikan” dihadapan Tuhan. Pura-pura “cantik” saat berdo’a dan beribadah ini yang kadang membuat Tuhan tersinggung. Analogi yang terjadi adalah “Aku tahu kamu berbohong, tapi dihadapanku kamu masih tersenyum dengan kebohonganmu”.

Meski ada ribuan ijazah dan doa untuk ini dan itu. Niat menawar Tuhan hendaklah dihilangkan. Tuhan dan manusia bukan pasar yang mempertemukan penjual dan pembeli. Tuhan lebih mengetahui kepantasan hambanya daripada dirinya sendiri. Do’a yang berlebihan diikuti dengan “kepura-puraan” ‘alim akan membuat manusia semakin jauh dari Tuhan, pun sebaliknya akan dijauhi oleh Tuhan.

Lakukanlah hal yang sekiranya membuat Tuhan akan mendekatimu dan tinggalkanlah sesuatu yang sekiranya membuat Tuhan akan menjauhimu. Ukuran kedekatan Tuhan dengan hambanya adalah dalam hati manusia itu sendiri. Hati bukan perkataan atau tidakan yang nyata terlihat oleh manusia lain. Namun lebih kepada kesadaran diri akan tindakannya berpotensi salah atau benar.

Sifat dalam hati yang bersih akan mencerminkan tutur kata dan perilaku yang bersih tanpa kesadarannya. Namun jika ia sadar maka kebersihan hati akan membalik dengan jasad yang dikotori untuk menyembunyikan kebersihan hatinya. Ada pula yang berpenampilan baik, menarik dan begitu alim namun kadang itu hanya sebuah bungkus dari kelamnya hati yang begitu kotor kepada dirinya sendiri bahkan kepada Tuhannya.

Sifat dalam hati adalah sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia lainnya. Seperti berbohong, iri, dengki, hasut, sombong dan lain sebagainya. Manusia harus cerdas menilai dan melihat kualitas hati manusia bukan jasad manusia. Sehingga dalam kedekatan dengan mereka akan lebih membantu membersihkan hati kepada Tuhan. Dan pada akhirnya itu adalah langkah utama dalam kepantasan manusia menawar Tuhan tanpa harapan untuk keberhasilan mendapatkannya. Karena hati yang bersih akan selalu pas menempatkan diri dalam maqom takdir kehadirannya kedunia.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

View Comments

  • Subhanaallah... sungguh mengena artikel diatas. Matur nuwun admin mugi2 saget terus berdakwah lan disukani kesehatan kelancaran dlm berdakwah. Assalamualaikum wrwb

    • Terimakasih kang... semoga bisa sama-sama menebarkan kasih sayang dalam beragama

Tags: doatuhan