Membedah Seniman NU: Jahat, Tidak Baik #4

Dalam kajian metafisika, ada banyak pelajaran yang menggelitik bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Ketika saya harus dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan orang ateis untuk menguji keimanan seseorang.

Salah satunya saya jabarkan dalam tulisan berikut.

Jika Allah Maha Segalanya, kenapa Dia menciptakan kejahatan dan kemaksiatan? Kenapa dia tidak menciptakan kebaikan saja di muka bumi ini? Supaya kehidupan bisa damai dan tentram?

Baca Juga : Konsep Seniman NU, Kebenaran Agama

Silahkan direnungi dulu pertanyaan di atas, karena jika akal memaksa untuk melogikan segalanya, termasuk Tuhan. Iman harus bisa menjadi benteng dari segala tipudaya pertanyaan-pertanyaan yang menjatuhkan. Mengendalikan nafsu untuk menjernihkan pikiran. Karena hanya dengan mengenali diri sendiri maka kita bisa mengenali Tuhan.

Pertanyaan di atas cukup menarik untuk dijawab. Hal tersebut seperti pertanyaan mengenai hakekat dingin. Bahwa dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin sebenarnya adalah ketiadaan panas. Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam. Tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Penciptakan kata dingin digunakan untuk mengungkapkan ketiadaan panas.

Begitu pula dengan gelap. Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana ruang itu tiada cahaya. Cahaya bisa dipelajari. Sedangkan gelap tidak bisa. Peneliti bisa menggunakan prisma Newton untuk mengurai cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari panjang gelombang setiap warna. Tapi! Mereka tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur melalui seberapa besar intensitas cahaya di ruangan itu. Kata gelap dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan cahaya.

Jadi! Apakah kejahatan dan kemaksiatan itu ada?! Kejahatan itu tidak ada. Allah tidak menciptakan kejahatan atau kemaksiatan. Seperti dingin dan gelap juga. Kejahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk menggambarkan ketiadaan Allah dalam dirinya. Kejahatan adalah hasil dari tidak hadirnya Allah dalam hati manusia.

Baca Juga : Konsep Seniman NU, Hakikat Baik

Kenapa Harus Baik?

Seperti dalam materi sebelumnya, bahwa semua orang menginginkan menjadi atau terlihat baik di hadapan orang lain dan menurutnya sendiri. Meskipun kebaikan itu adalah subjektivitas dari orang yang memandangnya. Cara pandang mengenai hakikat baik ini selalu menarik untuk diteliti dan diaalisis untuk menciptakan budaya tertentu, entah dalam etintas agama atau kelompok tertentu.

Baik atau kebaikan adalah subjektivitas. Ucapan atau perilaku kadang dianggap baik seseorang, tapi tidak dianggap baik oleh orang lain. Jika kita lebih sederhanakan makna baik, sesungguhnya adalah ucapan atau prasangka atau perilaku yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Jika sesuatu itu bisa bermanfaat dan membahagiakan orang lain, tentulah itu sekian dari konsep hakikat kebaikan.

Membahagiakan orang lain adalah ibadah yang utama dan dicintai oleh Allah. Manusia diperintah beribadah syariat karena memang untuk kemanfaatan diri mereka sendiri. Sedangkan berbuat baik dan membahagiakan orang lain adalah ibadah yang bukan hanya untuk mereka sendiri, tetapi juga untuk Allah.

Muhammad bin Abdurrahman Asy-Syafi’i, berkata kepada kami Al-Qasim bin Hasyim As-Samsar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Qais Adl-Dlibbi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sukain bin Siraj, berkata kepada kami Amr bin Dinar, dari Ibnu Umar bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, maka ia bertanya: “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah? Dan apakah amal yang paling dicintai Allah azza wa jalla?” Rasulullah SAW bersabda : “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain…” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir li Ath-Thabrani juz 11 hlm.84)

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُم

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (QS. Al-Isra:7)

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Orang Lain”
Ada ungkapan menarik dari tokoh ulama atau ilmuwan, bahwa sejatinya benar itu belum tentu baik, sedangkan baik sudah tentu benar. Jadi fase kebaikan adalah satu tingkat di atas kebenaran. Karena setiap kebenaran tidak mesti selalu disampaikan jika itu menimbulkan dampak keburukan bagi orang lain atau diri sendiri. Pada akhirnya, manusia akan memilah (filter atas pengetahuan dan pengalaman) mana yang seharusnya disampaikan dan mana yang seharusnya hanya menjadi bekal untuk pengambilan keputusan atau kebijakan.

Demikian yang menjadikan manusia dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan berlomba-lomba dalam kebenaran. Karena manusia hanya diminta untuk menjadi baik, bukan untuk menjadi benar. Sedangkan kebenaran hakiki hanya milik Allah.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!