Categories: AransemenHikmah

Membedah Seniman NU: Hakikat Kebaikan #3

Share

Setelah sedikit mengupas tentang konsep kebenaran dan identitas kebenaran agama dalam berkehidupan beragama, selanjutnya kita akan membedah konsep Seniman NU tahap kedua, yakni fase Kebaikan – hakikat kebaikan.

Apa itu baik?

Kadang kebaikan diabaikan karena pandangan dan pengetahuan setiap orang mempunyai bentuk masing-masing dan setiap pengetahuan merupakan bentukan kultural. Jika ada orang baik mengutuk kebaikan, maka orang baik yang membawanya juga ikut mengutuk orang yang mengutuk tersebut. Setiap orang punya latar belakang kehidupan, punya budaya, punya orang tua, punya guru, punya banyak teman dan setiap hal tersebut sangat mempengaruhi subjek individu. Manusia akhirnya dalam nalar logis ‘post tradisionalisme‘, logika ‘kulturalisme’ megambil kesimpulan, tak ada manusia yang mandiri, tak ada manusia yang bebas dari budayanya, tak ada manusia yang tak berkepentingan sehingga kebenaran, hakikat kebaikan dan nilai manfaat sesuatu akan bersesuaian jika memiliki dasar kesamaan kultural.

Baca Juga : Konsep Seniman NU, Apa itu Benar?

Pandangan tersebut telah mematahkan logika objektivisme dan normalisasi manusia dari intervensi sebab segala sesuatunya ada intervensinya. Maka yang jadi korban, kebanaran menjadi digugat, dipertanyakan kembali sampai akhirnya melahirkan dialektika baru.
Kemudian orang yang menilai sebuah kebaikan, kebanaran dan nilai manfaat juga sangat dipengaruhi oleh kemampuannya mengeksplorasi fakta melalui logikanya, kemampuan empiriknya termasuk renungannya yang melibatkan hati. Jika orang baik saja bisa mengabaikan hakikat kebaikan apalagi orang jahat.

Tetapi kadang karena orang jahat justru mendukung hakikat kebaikan kalian. Jika orang baik menolak kebenaran dan kebaikan otomatis orang jahat juga demikian, tapi logika kita kadang terbalik jika menggunakan nalar dialektis. Sebab ada kalanya orang yang kita pandang jahat menunjukan kebaikan dan menghargai sebuah kebaikan dibanding orang yang baik.

Kenapa orang baik bisa mengabaikan kebaikan?!

Karena soal kebodohan sesuai penjelasan tadi atau latar budayanya yang kontras. Sementara orang yang kita pandang jahat justru menerima kebaikan dan kebenaran itu jauh lebih fasih dari orang baik alasannya faktor kebetulan dan pengetahuan. Faktor kebetulan ini mungkin karena dia lagi ada masalah maka dia kaitkan dirinya dengan kebaikan agar mendapat simpati publik.

Faktor pengetahuan itu juga penting, orang yang jahat bisa lebih mulia dari orang baik karena ilmunya. Nabi sendiri menggariskan bahwa orang yang tidur tapi berilmu bisa lebih baik dari orang salat karena kebodohannya. Di sini kita bisa melegitimasinya dalam perspektif teologis, tapi bisa jadi maksud nabi Muhammad Saw. adalah orang yang tidur tadi juga sekaligus orang baik.

Tapi tetap saya ingin melegitimasi bahwa seburuk-buruk manusia jika dia memiliki ilmu yang baik suatu saat akan memihak pada ilmunya pada kebenaran yang dia pahami. Jika manusia baik yang berilmu maka tentu akan jauh lebih sempurna lagi makna hakiki kemanusiaan sebab agama sendiri di turunkan buat orang-orang berakal dalam Alquran disebutkan dengan nama ‘Ulul-Albab‘.

Sehingga jalan terbaik untuk menjadi manusia baik adalah menjadi filosof atau arif. Filosof memamdukan hati dan pikiriannya dalam memutuskan kebenaran sehingga dia menjadi arif. Hati berbicara cinta dan ketulusan. Sementara logika atau akal bicara kebenaran. Sehingga bisa disimpulkan filosof adalah orang yang ‘cinta kebenaran’.

Baca Juga : Konsep Seniman NU, Jahat – Tidak Baik

Kebaikan adalah harapan universal manusia. Setiap orang, jauh di dalam hatinya, ingin menjadi orang baik. Mereka ingin melakukan kebaikan, sedapat mungkin setiap saat dalam hidupnya. Dorongan untuk menjadi baik sudah selalu tertanam di dalam diri manusia.

Sedari kecil, kita diajarkan juga untuk menjadi baik. Tentu saja, pemahaman tentang apa yang baik terkait dengan moralitas berbeda-beda. Agama dan budaya memainkan peranan besar dalam hal ini. Namun, ini semua tidak menjawab, mengapa orang menemukan dorongan untuk menjadi baik di dalam hatinya.

self-preservation

Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan, bahwa menjadi baik adalah bagian dari proses pelestarian diri manusia (self-preservation). Orang yang baik hati dan tindakannya cenderung lebih sukses dan bahagia dalam hidupnya. Mereka disukai keluarga dan teman-temannya. Ketika krisis melanda, mereka bisa mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak.

Di samping pertimbangan untung rugi semacam ini, ada orang yang berbuat baik, karena dorongan hatinya (conscience). Ia merasa, jika berbuat baik, ia mengikuti panggilan hidup terdalamnya. Hati nuraninya memanggilnya untuk terus berbuat baik saat demi saat di dalam hidupnya. Pertimbangannya tidak lagi untung rugi demi pelestarian dirinya, melainkan dorongan hati nurani sebagai keutamaan (virtue). Hukum moral sudah selalu tertanam di dalam sanubari manusia, dan mewujud secara konkret di dalam kewajiban hidup sehari-hari yang dijalankan dengan setia.

Kesadaran ini tidak dapat berhenti pada tingkat intelektual saja. Konsep, pengetahuan serta kepercayaan, sebagaimana ditawarkan oleh agama, filsafat dan ilmu pengetahuan modern, sama sekali tidak mencukupi. Kesadaran mendalam atas jati diri sejati kita adalah puncak kebijaksanaan, sebagaimana menjadi cita-cita dari berbagai orang besar sepanjang sejarah manusia.

Ini hanya dapat dicapai, jika orang bisa hidup di sini dan saat ini. Masa lalu ditunda sebagai ingatan semata. Masa depan dilihat sebagai harapan belaka. Ketika tubuh dan pikiran bisa sepenuhnya di sini dan saat ini, semua identitas akan tertunda, dan orang akan bisa menyadari jati diri sejatinya. Kesadaran akan keberadaan tubuh memainkan peranan amat penting.

Keadaan pikiran semacam ini lalu dipertahankan. Orang bekerja dan hidup dengan keadaan pikiran ini. Kebaikan lalu menemukan dasar yang kokoh. Ia tidak lagi dipengaruhi oleh tekanan tradisi, motif keuntungan diri ataupun kerapuhan hati nurani.

Kebaikan akan muncul secara alami. Saat demi saat, kita menemukan kedamaian dalam diri kita. Emosi dan pikiran boleh datang. Namun, kita selalu bisa membawanya ke dalam kesadaran tubuh kita. Di sini, kebaikan menemukan dasarnya yang paling kokoh.

Referensi: Rumah filsafat


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU