Categories: AransemenHikmah

Membedah Seniman NU: Kebenaran Agama #2

Share

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai definisi benar. Saya selalu tertarik dengan kalimat Sabrang MDP, “kebenaranmu saat ini adalah kesalahan yang belum kamu pahami.” Menjelaskan tentang betapa malunya kalau kita ngotot mempertahankan kebenaran yang suatu saat akan disesali karena menemukan kebenaran baru berdasarkan pengalamannya. Pentingnya ilmu akan membuat manusia menjadi toleran atau dalam kaidah kemanusian bisa saling menghargai karena perbedaan itu adalah mungkin pengalaman baru untuk kebenaran berikutnya. Seperti halnya dalam mencapai kebenaran agama.

Baca Juga : Konsep Seniman NU, Apa itu Benar?

Ada perbedaan mendasar mengenai kebenaran sains, kebenaran agama, dan kebenaran filsafat. Namun di sini saya akan mencoba membedah sedikit dari banyaknya bahasan mengenai kebenaran itu sendiri. Kebenaran agama. Kalau Gus Baha’ bercerita tentang kisah seorang sufi, “Kebenaran sejati itu ibarat gelas yang diisi air bening. Setelah itu tidak bisa dilihat lagi kedua unsur tersebut. Seolah air mengambang tanpa gelas atau gelas yang masih kosong belum terisi air.” Menyatunya kesatuan ini adalah kebenaran sejati yang selalu akan berproses berdasarkan pengalaman manusia itu sendiri.

Alat Mencapai Kebenaran

Kebenaran selalu menggunakan akal, budi, fakta, realitas, dan kegunaan. Dalam agama digunakan wahyu atau firman yang bersumber dari Tuhan. Istilahnya kalau kebenaran agama disebut pula kebenaran normatif. Keyakinan atau kepercayaan pada sebuah ajaran untuk berperilaku baik. Karena Nabi mengajarkan kebaikan, bukan mengajarkan kebenaran.

Dalam mencapai kebenaran tertinggi, ada aliran yang begitu mengagungkan akal – logikanya. Sebut saja Qodariyah atau Mu’tazilah yang muncul sekitar tahun 689 Masehi. Aliran yang mengingkari takdir, sehingga mempercayai bahwa rukun iman hanya ada lima. Sedangkan dalam ahlussunah waljamaah, seharusnya akal tunduk pada ketentuan Alquran dan hadis.

Kembali pada masalah kebenaran. Cara membenarkan sebuah kesalahan adalah dengan cara membenarkannya, bukan menyalahkannya. Persepsi ini yang perlu diperhatikan. Keadaan yang dialami saat ini adalah begitu banyaknya individu atau kelompok yang gemar menyalahkan individu atau kelompok lain. Sedangkan cara membenarkan itu bukan dengan menyalahkan. Ini ketidaktahuan seperti pada materi sebelumnya tentang navigasi pernyataan pada pertanyaan.

Analisis dari Gus Candra Malik, bahwa kebenaran itu tidak perlu dibuktikan. Cukup diyakini dan dipercayai. Itulah kenapa dalam pengadilan yang ada adalah keputusan, “terbukti bersalah”, bukan “terbukti terbenar”. Karena memang kebenaran tidak butuh pembuktian. Hanya kesalahan yang butuh pembuktian.

Baca Juga : Konsep Seniman NU, Jahat – Tidak Baik

Siapa yang benar?

Ada pertanyaan menarik yang mengganjal pikiran saya, ketika ada yang tanya, “siapa yang benar?”. Spontan pasti menjawab, “aku atau kami.” Karena kalau menjawab “kita” dalam lingkup agama, akan dengan mudah dicap liberal. Dalam kehidupan yang pluralis seperti saat ini, beberapa individu dan kelompok masih setia menggunakan cara berpikir matrealistik.

“Aku yang benar, kamu salah. Sesat, masuk neraka! Agamaku, kelompokku, penafsiranku yang benar, kalian salah!”

Saling klaim kebenaran ini memicu adanya kecurigaan antara satu dengan yang lain. Muncul perdebatan, pertikaian, dan saling serang secara fisik maupun psikis. Lucunya adalah mereka semua mengatasnamakan agama, Tuhan! Tidak bisa dipungkiri, akhirnya agama menimbulkan konflik horizontal. Agama yang seharusnya menciptakan kedamaian lahir dan batin bagi kehidupan manusia malah dijadikan pembenaran atas terjadinya kekerasan, intoleransi, apriori, ekslusif, dan anarki.

Tuhan merupakan sumber kebanaran dan satu-satunya kebenaran. Dalam konsep pemahaman agama melahirkan konsep kebenaran yang bersifat ekstensial, moral, dan proporsional.

Doktrin untuk mendapatkan kebenaran mutlak dirasakan sejak usia dini. Sehingga peran mereka adalah sebagai pembenar yang berhak menyalahkan perilaku atau bahkan individu lainnya. Tafsiran yang beredar di lini masa dengan ribuan informasi kontradiksi tersebut menjadikan betapa mengerikannya klaim kebenaran. Kapling surga pun diperebutkan, karena dianggapnya surga secuil imajinasi manusia kaku di bumi ini.

Iming-iming kebenaran menjadikan manusia gemar menyalahkan orang lain. Karena baginya kebenaran adalah jawaban yang lebih dulu diketemukan olehnya. Tidak ada lagi gairah dakwah untuk mengajak “sama-sama benar”. Karena alam bawah sadar manusia yang dilatih untuk menghukum orang lain yang dianggapnya bakal merusak kebenarannya.

Kebenaran Dinamis Agama

Pendapat yang demikian seharusnya bisa lebur dan menjadi luwes ketika Prof. Quraish Shihab memaparkan secara bijak tentang sebuah kebanaran yang begitu universal. Kebenaran mutlak hanya milik Allah. Sehingga tafsiran yang muncul, bilangan sepuluh adalah penjumlahan atau pengurangan atau perkalian atau pembagian atau pengakaran dari berapa dan berapa?! Sehingga akan ditemukan jalan atau proses yang begitu banyak untuk mencapai kebenaran.

Keresahan umat saat ini adalah adanya monopoli kebenaran dengan pernyataan bahwa lima tambah lima itu hasilnya sepuluh. Tidak ada toleransi bagi tujuh tambah tiga, lima kali dua, empat puluh dibagi empat, dan macam sebagainya. Pemikiran konservatif dengan slogan kembali ke Alquran dan Sunah semacam ini menjadikan islam begitu sumpek!

Wal hasil, Nahdlatul Ulama menempuh jalan tengah dengan tetap berpedoman pada Alquran dan hadis tapi tetap progresif mengikuti perkembangan zaman. Seperti halnya Muhammadiyah dengan Islam yang berkemajuannya. Era post-modern yang mengabaikan kebenaran untuk terlihat berkuasa (meraih kemenangan) dengan segala cara, termasuk menjatuhkan teman atau saudaranya sendiri. Sehingga kawan dan lawan tidak lagi jelas bagi umat yang begitu fanatiknya terhadap kebenaran semu.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU