Categories: kolase

Memarginalkan Kaum Pelangi

Share

Gerimis baru saja menyisakan genangan air di jalanan kota Pekanbaru, terlihat sendu seperti biasnya pantulan sorot cahaya lampu sepanjang jalan jendral sudirman. Sesekali terlihat kendaraan bermotor melaju dengan kecepatan sedang.

Aku masih membaca buku karya ilmiah Buya Syafii Marif yang sengaja kubawa kemana-mana karena belum selesai “kuhabisi” dan ada beberapa buku lainnya, sambil menunggu salah seorang teman di warung kopi dekat perempatan Jalan Nangka: tempat biasa kami sekedar bercengkrama melepas penat rutinitas bekerja.

Beberapa waktu yang lalu pengguna media sosial khusunya masyarakat Pekanbaru, Riau dihebohkan dengan penolakan dan ditutupnya sebuah rumah yang disangka sebagai tempat perkumpulan LGBT (Lesbi, Gay, Biseksual, Transgender) di tengah pemukiman penduduk di Jalan Uka Tampan. Tentu ini menjadi perhatian masyarakat sampai anggota DPRD pun ikut menyuarakan pendapatnya.

Baca Juga : Jangan Ragu Dituduh Sesat

Tetapi sedikit sekali, malah tidak ada satu pun yang berkomentar sebagai manusia solutif, hampir semua dari komentar-komentar tersebut berisikan hujatan, cacian dan hinaan kepada kaum LGBT tersebut. Syukur jika merasa prihatin saja tanpa dibarengi rasa benci dan jijik. Tentu hal tersebut menjadi keperihatian kita bersama, mencari solusi agaknya lebih bijaksana dan diharapkan dapat menyelamatkan semua. Karena di balik perilaku mereka yang abnormal, tentu mereka juga manusia yang juga merupakan makhluk Tuhan yang harus diselamatkan. Bukan malah dianggap sebagai sebuah objek yang wajar untuk dihina bahkan mendapatkan perlakuan kekerasan.

Secara subjektif penilaian bahwa prilaku LGBT merupakan penyakit yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat luas dan tidak boleh perilaku tersebut dianggap bukan sebuah masalah merupakan hal yang benar. Apa lagi jika ada keinginan untuk melegalkan segala perilaku tersebut di bawah payung konstitusi juga merupakan hal yang harus ditolak. Karena tidak ada alasan yang dapat membenarkan secara moral, agama, budaya, bahkan atas nama kemanusiaan hal tersebut.

Tetapi dengan menganggap mereka sebagai manusia, juga penting diingat. Berkaca dari pengalaman pribadi dan dari cerita teman jurnalis yang pernah mewawancarai salah seorang LGBT dalam laporan investigasi. Mereka juga sebenarnya ingin hidup normal, kembali diterima di tengah-tengah masyarakat. Bahkan dari mereka yang sering diledek dengan sebutan “Banci Kaleng” ada yang mulai ikut salat Jumat dan kegiatan sosial lainya. Tetapi persoalan yang melatarbelakangi mereka hingga menjadi kelompok LGBT tidaklah semudah hujatan yang gampang disematkan kepadanya. Selain rumit butuh pemahaman dari semua lapisan masyarakat akan hal tersebut.

Dan sangat disayangkan orang-orang yang selama ini menjadi tokoh masyarakat, maupun kebanyakan masyarakat menjadi manusia yang menggampangkan masalah dan lebih mudah untuk menghujat dari pada memahami, mencari solusi, dan malah menjadi masalah baru daripada menguraikan masalah yang terjadi. Pendakwah yang paham agama seharusnya mengayomi dan menyadarkannya dengan pendekatan agama, serta pendekatan kemanusiaan yang merupakan inti dari ajaran agama itu sendiri, untuk memanusiakan manusia. Pemerintah juga bisa memfasilitasi mereka dengan kegitan-kegiatan positif, mengadakan bimbingan konseling psikiater, dan juga membuatkan wadah untuk mereka supaya bisa dikontrol keberadaanya daripada dibiarkan tanpa pengawasan di tengan masyarakat.

Baca Juga : Memanusiakan Manusia

Andaikan saja semua manusia mau menjadi manusia, seperti yang sering disampaikan KH. Mustofa Bisri atau kerap disapa Gus Mus. Mungkin saja, daripada menatap orang lain dengan sinis, kita lebih bisa memandang semua orang dengan kasih sayah dan belas kasihan, karena tidak bisa dipungkiri bahwa mereka adalah makhluk Tuhan yang juga harus diselamatkan dan dilindungi. Jika mereka kita anggap melakukan penyimpangan, daripada harus menghakimi seolah-olah kitalah yang paling tahu akhir dari perjalanan kehidupan setiap hamba Allah lainnya.

Tidak lama jam menunjukan pukul sembilan malam, dari balik kaca warung kopi yang tersamarkan rintik hujan, datang juga teman yang sedari tadi ditunggu dan buku berjudul Gandhi The Man telah selesai kubaca setelah buku sebelumnya telah berganti tempat dengannya di dalam tas selempang yang kubawa kemana-mana.


Riki Asiansyah – Seni tablig Seniman NU

Tags: lgbtmarginal