Memaknai Hari Santri

Hari Santri yang kita rayakan hari ini tidak terlepas dari dukungan para masayikh, ulama, kaum sarungan (santri) serta para pendiri bangsa ini. Resolusi jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim As’ari pada 22 oktober 1945 menjadi tonggak utama untuk mengusir para kolonialisme di negeri ini. Dengan seruan yang dilakukan olehnya sehingga membuat masyarakat berkobar-kobar dalam hati, jiwa dan raganya untuk melawan dan mengusir para penjajah.

Pada peringatan Hari Santri yang juga sekaligus dibarengi dengan Kirab Satu Negeri pada 16 September sampai 26 Oktober 2018 ini membawa beberapa bendera merah putih dari Sabang sampai Merauke dan akan berakhir di Yogyakarta tepatnya di Ponpes Krapyak, Yogyakarta.

Acara ini begitu semaraknya disambut oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok-pelosok Nusantara. Baik laki-laki, perempuan, tua, muda, hingga sampai anak-anak ikut larut merayakannya. Ini menandakan bahwa Hari Santri Nasional (HSN) disambut dengan baik dan penuh suka cita.

Karena akhir-akhir ini ada sebagian kelompok kecil yang ingin mengubah sistem negara kita ini dengan cara-cara kekerasan, ekstrimis, intoleran. Dan bagi mereka cara seperti ini dianggap wajar. Sungguh ironi sekali, dan bila ini terus didiamkan maka akan mengganggu stabilitas negara.

Kaum santri sudah terbukti dengan kecintaannya terhadap agama, negara dan bangsa ini. Karena mereka sudah diajarkan dan ditempa sedemikian lamanya oleh para ulama, kyai di pondok-pondok pesantren dan di langgar-langgar sekalipun.

Maka tidak heran kalau santri begitu takdim kepada gurunya. Tidak sekalipun santri membantah, pasti akan sendiko dawuh jika diperintahkan oleh gurunya. Dari lingkungan pondok mereka sudah diajarkan yang namanya kemandirian, gotong royong, bersikap prihatin, saling menghargai dan menghormati orang lain walaupun berbeda latar belakang; baik itu dari agama, suku dan budayanya.

Oleh karena itu makna hubbul wathan minal iman tidak hanya sekadar seremonial belaka tetapi sudah tertanam di dalam hati dan pikirannya. Dimanapun sampai kapanpun kaum santri berkomitmen terus menjaga dan mencintai Republik ini.

Diharapkan acara hari santri ini menunjukkan kepada masyarakat bahwa kegiatan ini bukan hanya seremonial belaka yang disombolisasikan dengan merah putih. Tetapi jauh dari itu, yakni memaknai hari santri ini sebagai komitmen bangsa terhadap negeri ini untuk selalu dan terus mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta meneruskan ajaran dan perjuangan Rasulullah yang membawa pesan kedamaian untuk umatnya yang kita kenal sebagai Islam Rahmatan lil’alamin.

#HariSantriNasional

#BersamaSantriDamailahNegeri


Kang Galih – Seni Tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!