Mbah Minggir Benowo

Ngringo merupakan salah satu desa di Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Lebih dikenal dengan daerah Palur yang merupakan salah satu dusun di desa Ngringo. Meskipun termasuk daerah keramaian (perbatasan Karanganyar dan Solo), Ngringo mempunyai daya magis tersendiri dengan adanya makam Mbah Minggir Benowo.

Makamnya yang jauh dari pedesaan atau perumahan, yakni masuk ke dalam alas benowo, makam ini sering dikunjungi oleh masyarakat sekitar untuk melakukan ritual. Kadang juga digunakan untuk menginap dan ngalap berkah. Kondisi makam yang belum begitu dikenal oleh masyarakat umum karena kurangnya informasi mengenai Mbah Minggir Benowo.

Lokasi makam cukup mudah ditemui, meskipun tidak ada papan pengumuman yang menunjukkan langsung ke arah makam seperti makam wali lainnya. Kalau dari arah Solo, setelah jembatan Jurug – ada lampu merah (sebelum fly over palur) kemudian belok kiri lurus ke arah perumahan di Ngringo. Sebelum jembatan Benowo, masuk melalui jalan setapak sekitar 50-100 meter.

Biasanya peziarah datang pada malam hari, kemudian dilanjutkan dengan menginap di makam. Sedangkan waktu pagi atau siang, biasanya (dulu) digunakan untuk bermain anak-anak, karena banyak pohon menjulang tinggi besar dan bergelantungan akar-akar pohon.

Baca Juga : Kiai Minhajdul Abidin

Sejarah
Mbah Minggir Benowo mempunyai kisah unik dari masyarakat sekitar. Dahulu kala ada seorang pencari ikan di sungai bengawan solo bernama mbah Mino. Suatu hari, mbah Mino mencari ikan, kemudian menemukan sesosok mayat yang mengambang di sungai tempatnya ia mencari ikan. Tiba-tiba mayat tersebut mendampar ke pinggiran sungai dekat mbah Mino memancing. Kemudian mbah Mino mendorongnya ke tengah agar terhanyut, namun mayat tersebut kembali ke pinggir sungai.

Akhirnya Mbah Mino berkata, ”Nanti kalau aku sudah mendapat ikan banyak, kamu akan aku makamkan”. Setelah mengatakan itu Mbah Mino langsung mendapat ikan banyak dan Mbah Mino pun menepati janjinya untuk memakamkan mayat tersebut.

Jika dilihat dari busana yang dipakai si mayat, Mbah Mino dan warga desa menyimpulkan bahwa mayat ini masih keturunan atau kerabat kraton dan merupakan orang yang luhur, sehingga dikeramatkan dan diagung-agungkan menjadi ”danyange Benowo”.

Beberapa warga mengatakan bahwa mayat tersebut merupakan Pangeran Benowo. “Dulu pernah akan dibuang dengan kayu yang ada di sekitar ditemukannya mayat itu. Namun gagal. Dan ternyata diketahui itu mayat Pangeran Benowo,” tuturnya. Kemudian mayat itu pun dimakamkan di dekat kawasan Tempuran sungai Bengawan Solo.

Nama Mbah Minggir Benowo diambil dari kata “Minggir” yang artinya menepi di sungai, karena jasad berada di pinggir desa benowo atau sungai benowo. Demikian tadi sekilas tentang makam Mbah Minggir, karena mayat tersebut tidak dikenal dan mayat itu selalu menepi ”minggir” di desa Benowo, warga menyebutnya ”Mbah Minggir Benowo”, sehingga tradisinyapun dikenal dengan istilah ”Sowan Mbah Minggir Benowo”.

Baca Juga : KH. Syaikh Ahmad Mutamakkin

Kayu Donoloyo – Jembatan Benowo
Daerah yang kini dinamakan Benowo ini sering menjadi topik perbincangan masyarakat karena kayu yang ditemukan di sekitar mayat Mbah Minggir dijadikan sebagai jembatan Benowo.

Jembatan kayu tersebut hingga kini masih bertahan, kendati jalan di sampingnya telah diaspal, “Dulu sudah pernah mau di aspal. Tapi gagal. Kejadian tersebut bukannya sekali, namun berkali-kali. Jembatan kayu tersebut tetap dipertahankan apa adanya,” terangnya. Karena banyaknya korban kecelakaan di jembatan Benowo yang “kayu-nya” susah untuk diaspal, masyarakat mempercayai adanya tumbal di kawasan Benowo tersebut.

Sedangkan yang berada didekat lokasi Makam eyang Minggir benowo sendiri merupakan Kayu Donoloyo yang terdampar dan diinginkan oleh danyang pengunggu wilayah ini.

Pohon-pohon rindang yang menyelimuti wilayah makam Mbah Minggir Benowo sering digunakan untuk meditasi, selain beriarah dan ritual tertetntu. Suasana yang nyaman dengan pohon berusia ratusan tahun. Berada jauh dari pemukiman dan suasana yang hening.

Meskipun banyak ritual mistis, diharapkan peziarah untuk tetap istikamah mendoakan ulama tersebut tanpa disertai niat yang tidak-tidak. Semoga ke depan tempat-tempat ziarah seperti Mbah Minggir Benowo bisa lebih diperhatikan dan dilestarikan oleh pemerintah daerah.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!