Categories: opiniSimponi

Mari Membaca!

Share

“Kami tidak pernah takut kepada umat Islam, karena mereka bukan umat yang gemar membaca”

Kamu akan bertemu kalimat di atas jika sudah cukup banyak membaca buku-buku yang membahas Israel dan Yahudi. Ya, itu perkataan mereka ke kita, umat Islam. Jadi kenapa kok mereka bilang begitu?

Menurut data tahun 2015, penduduk dunia berjumlah 7,3 miliar. 24% darinya adalah muslim (1.8 miliar). Sangat tidak sebanding dengan jumlah umat Yahudi yang hanya 14,7 jiwa (data tahun 2018). Meskipun minoritas, mereka menjadi bangsa paling berjasa bagi perkembangan dunia. Sebut saja Mark Zuckerberg, Bill Gates, Larry Page, Albert Einstein, Karl Heinrich Mark, dan banyak lagi. Oke, keliru juga jika kita menafikan ilmuwan muslim kita yang bahkan jauh lebih hebat dari nama-nama di atas.

Sebut saja Ibnu Sina, menulis lebih dari 450 kitab berbagai disiplin ilmu. Al-Qanun fi At-Thibb (Canon of Medicine) hingga sekarang menjadi rujukan wajib bagi pelajar kedokteran di dunia. Al-Muqoddimah dari Ibnu Khaldun, atau the Introduction merupakan bacaan wajib bagi cendekiawan dunia, termasuk yang diketahui menjadi daftar buku favorit dari Zuckerberg. Rasanya jika kita menyodorkan nama-nama ilmuwan muslim abad lalu, Eropa dan para ilmuwan di sana seperti terlihat kecil, newbie, masih baru kemarin sore.

Tapi sampai kapan kita hanya mengagungkan masa lalu?

Saya ambil satu contoh mudah. Al-Muqoddimah Ibn Khaldun, sudah kah kalian membacanya? Atau terlalu tinggi? Oke kita turunkan menjadi: Apa kalian tau siapa itu Ibnu Khaldun?

Lihat, sedikit sekali. Jangankan membaca karyanya, tahu siapa-nya saja minim. Bahkan di kalangan pelajar (baca: mahasiswa) pun gak banyak. Toh mereka tahu, tidak sampai ke pemikiran. Mustahil bisa tahu pemikiran tanpa lewat karyanya. Al-Muqoddimah pun mereka baca juga terjemahan, yang faktanya terjemahan di Indonesia adalah terjemahan dari bahasa Inggris, The Introduction yang artinya kita membaca terjemahan dari terjemahan. Saya cukup takjub ketika salah satu kawan santri senior sudah khatam dan punya Al-Muqoddimah versi asli, bahasa Arab. Hebat sekali.

Itu di kalangan kita, yang katanya “bukan umat yang gemar membaca” tadi. Di kalangan umat yang kita tuduh “kafir” nama Ibn Khaldun bukan nama asing, tapi justru wajib diketahui. Faktanya, Al-Muqoddimah sempat sengaja “dihilangkan” kajiannya oleh umat Islam sendiri, terkubur selama berabad-abad dan muncul kembali pada tahun 1932. Muhammed Abdullah Enan berkata, “Pemikiran Ibn Khaldun dilupakan di Timur dan warisan intelektualnya nyaris dilempar ke keranjang sampah”.

Lewis menambahkan, “Yang berjasa menemukan kembali Ibn Khaldun adalah kesarjanaan Barat”. 300 tahun setelah wafatnya Ibnu Khaldun, Paris menerbitkan Al-Muqoddimah edisi bahasa Arab, tepatnya tahun 1858. Ya, Baratlah yang menghidupkan dan yang mengapresiasi karya ulama kita. Pakar sosiologi Barat seperti Alfred Kremer, Robert Flint, Ludwig Gumplowicz, Rene Maunier, Franz Oppenheimer, Ortega, dan masih banyak lagi mengakui jika Ibnu Khaldun adalah Bapak Sosiologi Dunia. (Baca di Abdul Kadir Riyadi, Tasawuf Antara Penafsiran Normatif dan Sosiologis dalam Pemikiran Ibn Khaldun, jurnal Islamica. Recommended!)

Orang Barat begitu mengagumi karya ulama kita, dan kita justru melupakannya. Kita memang bukan umat yang gemar membaca, berseberangan dengan wahyu yang diturunkan pertama kali. Maka wajar, umat muslim saat ini jauh tertinggal. Hampir 200 orang Yahudi telah memenangkan Nobel, dan muslim baru sekitar 10 orang. Jauh sekali. Pantas mereka berbangga diri dan meremehkan kita sebagai umat yang lemah, karena tidak bisa dipungkiri bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Di saat kita masih ribut tentang hukum ucapan selamat natal dan tahun baru, mereka sudah mengeksplorasi Mars.

Di saat kita ribut tentang dalil, di sisi lain, orientalis mengkaji Alquran dalam berbagai sudut pandang. Di saat tokoh muslim kita memiliki pandangan luar biasa seperti Gus Dur, Nurcholish Madjid dan Ulil Abshar Abdalla, justru kita menuduh mereka sesat dan liberal; kafir! Ah, teruslah saling tuduh dan ribut, dengan melupakan wahyu pertama kita sendiri. Ah, justru “mereka” yang mengaplikasikan ajaran islam di kehidupan, di pendidikan. Ah, kita hanya rindu ketika Islam mencapai puncak kejayaannya, tapi tidak ada keinginan meraihnya kembali dari diri sendiri; membaca. Angan yang kosong.

لَنْ يَصْلُحَ آخِرَ هَذِهِ الْأُمَّة إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا

“Generasi akhir umat ini tidak akan kembali jaya, kecuali dengan apa-apa yang telah mengantarkan kejayaan generasi awal” – Imam Malik

Jadi, kapan kamu akan membaca kembali?


Moh. Adib Amrullah – Seni tablig Seniman NU

View Comments

  • Makanya saya bikin blog bhs inggris, mskipun grammarnya ngawur krna google translitan, minimal ada aktifitas mmbacanya,hehe

Tags: bacamembaca