Manusia Super

“2 tahun yang lalu aku diterima di perguruan tinggi negeri”. Ujarku kepada beberapa teman yang sedang seksama memperhatikanku. Dengan cerita penuh kebahagiaan dan semangat atas berbagai pencapaianku. Hingga ada salah satu yang nyletuk, “Namines yang super”. Sambil berdiri dan bertepuk tangan diiringi gemuruh suara kekaguman dari temanku lainnya.

Di umurku yang baru 20 tahun-an, aku bisa membuktikan bahwa hidup harus dilalui dengan perjuangan. Mulai merintis usaha, predikat mahasiswa berprestasi, benyak bersosialisasi, dan masih banyak kebanggaan lainnya. Yang penting tetap selalu bisa membahagiakan orang tua dengan segala usahaku. Bukankah manusia diciptakan untuk berikhtiar dan berdoa?

Sore itu aku duduk di bawah rindang pohon beringin pinggir danau kampus. Membaca buku yang baru saja dibeli secara online. Itulah hobiku, membaca dan mencari informasi agar tidak mudah dibodohi oleh informasi palsu dan kemudian bisa nyambung dengan segala pembahasan ilmu. Tiba-tiba ada seorang kakek tua. Berjenggot panjang putih. Pakaiannya lusuh dan membawa sebuah tongkat. Sedangkan di tangan kirinya membawa tas kresek hitam berisi sesuatu. Dia mendekatiku dan duduk tepat di sampingku.

“Maaf”, katanya. Aku hanya menganggukkan kepala sambil tetap melanjutkan membaca buku. “Kamu punya cita-cita?”, dia menanyaiku lagi. Sebuah pertanyaan ritoris. Memancing untuk kesedianku ngobrol dan bercerita.

“Bukankah setiap manusia selalu mempunyai cita-cita? Termasuk Anda bukan?”

“Aku tidak punya cita-cita” menggelengkan kepala.

Dahiku mengerut mendengar jawabannya. Untuk apa hidup kalau tidak punya cita-cita?! kemudian dia kembali melanjutkan cerita.

“Manusia selalu menganggap dirinya ada. Tidak mempercayai Tuhan. Katanya beragama, tapi tidak pernah mengakui kekuasaan-Nya. Merasa mencapai segala sesuatu atas jerih payahnya. Sedangkan di sana ada campur tangan Tuhan sang maha pemberi. Hati manusia diuji agar tidak jumawa. Meski kadang dialibikan untuk membahagiakan orang lain. Selama manusia mengaku bahwa segala hal yang didapatkan adalah karena usahanya, selama itulah keimanan manusia masih selalu dipertanyakan”

Banyak dia bercerita tentang kebesaran Tuhan. Posisi manusia sebagai hamba. Sedangkan aku hanya membeku dengan mata nanar. Tubuhku gemetar. Sepertinya aku belum benar-benar menjadi hamba. Aku masih mempunyai sifat-sifat yang itu seharusnya milik Allah, Tuhan yang memiliki segala sifat.

Sejam kemudian senja menutup waktunya menuju petang. Kakek tersebut melebur dan mnghilang perlahan. Berganti peran dengan temanku sambil berteriak “Hebat, tidak ada waktu untuk tidak belajar. Sudah pintar, berprestasi, dan terkenal kamu”

Seketika aku menangis. “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah”

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!