Categories: kolase

Manusia Maha Besar

Share

Tidak tahu kenapa sekarang banyak yang menjulukiku “Namines Maha Besar”. Apa karena dulu sempat ikut aksi dengan teriak-teriak takbir. Yang menjadi masalah adalah aku sangat tidak pantas menyandang nama “Maha Besar”. Bukankah itu hanya untuk Allah?! Maha itu tidak terbatas, sedangkan aku (manusia) selalu penuh keterbatasan.

Jadi ingat sama ceramah KH. Mustofa Bisri :

Dulu sahabat nabi itu ketika akan melaksanakan salat sering jatuh pingsan. Tepat ketika mereka mengucap takbir. Maha besar Allah itu tidak terkira. Para sahabat membayangkan betapa kecilnya mereka di hadapan Allah. Sangat amat kecil. Sehingga tidak ada daya dan kekuatan lantaran belas kasih Allah.

Makanya ketika beribadah, jika tidak mampu membayangkan betapa besarnya Allah, maka bayangkan betapa kecil diri kita di hadapan Allah.

Andaikan saja semua orang begitu adanya. Pasti tidak akan ada pertikaian dan watak mendebat saling mengalahkan. Sedangkan yang tampak sekarang banyak ulama dan pemuda yang begitu menyombongkan ilmunya, eksistensinya, dan kebesarannya sebagai manusia di hadapan manusia lain. Menganggap manusia lain lebih kecil derajatnya, lebih sedikit ilmunya, dan lebih buruk perilakunya.

Manusia memang sudah menjadi maha besar. Tatkala mereka saling berebut barisan untuk menyelamatkan agama dan Tuhan. Agama yang begitu universal disempitkan menjadi hak miliknya sendiri. Tuhan yang besarnya tak terhingga dianggapnya masih bisa dilecehkan. Seolah pembela mempunyai kedudukan lebih tinggi dari pada Tuhan. Begitulah hakekat membela. Yang kuat melindungi yang lemah. Kebesaran manusia menandingi kebesaran Tuhan.

Sedangkan manusia yang merasa masih hina dan sangat kecil di hadapan Tuhan, dituduhnya tidak mempunyai agama. Kesombongan ini hanya milik Allah. Manusia selalu berusaha merebut sifat-sifat yang mereka sebenarnya tak pantas menyandangnya. Semoga Tuhan tidak murka melihat tingkah laku umat-Nya yang mencoba menyamai dan menandingi-Nya.

Ah, paling ini semua juga sudah menjadi rencana dan alur cerita yang memang sengaja Tuhan buat untuk konklusi adegan atau drama kehidupan.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU