Categories: opiniSimponi

Malati (Bagian 1)

Share

Malati merupakan istilah Jawa, dengan pengertian singkatnya adalah hal yang dimiliki oleh sesuatu yang keramat. Keramat, sesuatu yang diperlakukan secara khusus. Dalam Islam, Alquran, Hajar Aswad, air zamzam merupakan hal yang keramat; perlu syarat khusus dan bisa berdosa/ kena hal buruk bila melanggar pantangan. Di Jawa; keris, jimat, makam juga sesuatu yang dianggap keramat. Masalahnya, NU juga keramat. Hal ini cukup aneh mengingat NU hanyalah ormas Islam, tidak jauh beda dengan ormas keislaman yang lain. Lalu apa bedanya?

Baik, kita berbicara tentang eksistensi. NU adalah wadah, dan isinya adalah para ulama khos. Jika wadah (katakanlah “ormas A”) besar karena didirikan/ berisi satu atau dua tokoh besar, maka jika tokoh-tokoh tersebut wafat, ormas A akan mundur, hancur (contohnya Masyumi). Atau sebaliknya, wadahnya memang sejak awal besar namun diisi oleh orang-orang yang tidak keramat – tidak khos. Atau malah isinya hanya yang haus kekuasaan, ya wadah ini mungkin tetap kuat (baca: ada), tapi tidak punya kekuatan (contohnya D*R). NU punya keduanya; wadahnya kuat, isinya kuat. Pendirian NU tidak terjadi satu dua malam, tetapi melalui proses yang sangat panjang, dramatis dan melibatkan banyak tokoh besar.

Ada tiga proses panjang dan luar biasa yang melatarbelakangi lahirnya NU. Pertama, lahirnya NU berdasarkan musyawarah 50 ulama yang tidak hanya alim, tetapi juga alamah. Kedua, lahirnya NU di istikarahi dengan sungguh-sungguh. Ketiga, lahirnya NU ditanyakan dulu kepada ulama ahli kasyaf. Dalam hal ini mbah Kholil Bangkalan. Dawuh beliau Romo Yai Dimyati Kaliwungu. Pembentukan wadahnya yang tidak sembarangan, membuat “kekeramatan” wadah tersebut terbentuk. Tentu beda dong hasil tempaan keris dari tukang besi pinggir jalan dengan Empu Gandring, misalnya.

Isi, tidak perlu diperjelas. Dari tahun 1926 hingga 2019, tingkat Ranting hingga Pengurus Besar, semua berisi orang-orang alim. Semua Banom didirikan oleh sosok yang keramat pula. “Maka jangan jauh-jauh dari NU”, pesan Mbah Dimyati.

Hal tersebut menjadi alasan kenapa NU itu keramat. Ingat, sesuatu yang keramat itu malati : bikin kualat. Ibu kita keramat (sesuai dengan lagunya Roma Irama), berani melukai hatinya ya auto azab. Alquran keramat, coba injak, ya pasti ada aja hal buruk terjadi.

Lalu kenapa akhir-akhir ini mulai banyak yang terang-terangan menyerang NU? Amaliah disalahkan. Banser dikafirkan. Bahkan Maulana Habib Luthfi pun difitnah. Sebagai pemuda yang lahir dan besar di NU, saya sempat gusar dan naik pitam. Tapi Kiai saya, yang kini juga sebagai wakil Rois Syuriah PCNU Tuban menjawab singkat, “Ojo kuatir. NU iku malati, cung”.

Malati. Ya, inilah kenapa kiai kita begitu santai menghadapi fitnahan. Malah dijadikan guyon. Kaum Nahdliyyin juga bersikap biasa ketika NU dan para kiainya direndahkan. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi memang inilah kualitas kaum nahdliyyin yang tidak kagetan dan tetap slow. Tidak ada “aksi bela2” yang aneh-aneh. Kiai kita toh memaafkan, lalu ngapain ribut? NU juga malati, ngapain khawatir? Siapapun yang berniat buruk kepada NU, para kiai dan bahkan kepada anggota baru makesta IPPNU tingkat anak ranting sekali pun akan kualat. Ya, kualat hanya terjadi pada sesuatu yang keramat, karena tadi, keramat itu malati. Saya berani bilang begini karena memang faktanya seperti itu, dan insyaallah akan saya tulis di bagian kedua.

Meyakini bahwa NU itu malati, membuat kita harus tenang dengan hantaman media (sosmed) yang begitu kejam. Biarkan mereka memfitnah atau apapun, kita cukup berdoa agar mereka sadar dan bertobat. Toh jika tidak, maka (tanpa berniat mendoakan yang jelek kepada sesama muslim) mereka juga akan kualat, akan hancur sendiri. Hal ini sudah lama dikatakan oleh kiai kita, KH. Hasyim Asy’ari, “Barangsiapa yang berani kepada Jam’iyyatul Ulama’ (NU) maka akan hancur” (diriwayatkan oleh KH. As’ad Syamsul Arifin, disampaikan oleh KH. Kholil As’ad Syamsul Arifin, Dewan Khos Pencak Silat NU Pagar Nusa)

NU iku malati, cung.”


D. Amrullah – Seni tablig Seniman NU

View Comments