Categories: AransemenKajian

وليتلطف

Share

Bagi pecandu Alquran, tentu tidak asing dengan kata ini. Dulu semasa SD, ada salah seorang kiai bilang, “Seringlah baca Walyatalaththaf”. Karena masih anak-anak, mendingan main kelereng daripada mengamalkan kalimat tersebut. Apalagi kebiasaan kalau kiai daerah itu memberi amalan, tidak sekalian dijelaskan manfaat atau faedahnya amalan tersebut.

Masa SMA baru saya menemukan secara detail kalimat tersebut yang tersembunyi di tengah-tengah Alquran. Setelah itu mulai iseng mencari maknanya. Kalau tidak salah, lemah lembut (berlemah lembut). Karena saya bukan seorang tafsir Alquran, jadi saya tidak berani menerka makna di balik kalimat tersebut. Asbabun nuzul dan tujuan firman tersebut. Katanya, ada yang diwarnai merah karena menghormati Sayyidina Utsman waktu dibunuh dan darahnya bercecer di kalimat tersebut. Ada pula yang bilang itu adalah kata/ kalimat paling tengah dalam Alquran.

Kalau mereka yang sering bermaiyah (ngajak muter-muter otak) oleh Cak Nun. Tentu tidak akan puas dengan jawaban demikan. Pasti ada sesuatu di balik kata tersebut? Jadi nanti semua bisa men-tadabburi masing-masing. Pun demikian saya akan mencoba mengulas dengan tulisan berikut. Diambil dari beberapa referensi ceramah, referensi bacaan, dan perenungan.

Walyatalaththaf berada di salah satu ayat di surah Al Kahfi. Tepatnya di ayat ke-19. Ayat ini menceritakan tentang Ashabul Kahfi, kisah para pemuda yang mempertahankan keimanannya di masa pemerintahan seorang raja zalim lalu melarikan diri di gua. Sesampai di sana, mereka ditidurkan oleh Allah dalam rentang waktu yang cukup lama, sekitar 300 tahun masehi atau 309 tahun hijriyyah. Ketika terbangun dan merasakan kelaparan, mereka menganjurkan salah satu dari mereka untuk membeli makanan di kota dengan uang yang ada pada mereka. Mereka juga menyarankan temannya itu untuk tidak memperkenalkan diri kepada siapa pun dan bersikap lemah lembut agar tidak ada yang curiga. Mereka takut teman mereka itu akan dikenali oleh pegawai kerajaan dan akan dibunuh. Padahal ketika itu, kerajaan sudah dipimpin oleh seorang raja yang adil.

Kenapa Allah menaruh kalimat Walyatalaththaf tepat di tengah ribuaan ayat Alquran?

Berlemah lembut. Sepertinya itu sebuah rumus dari ribuan teka-teki untuk memecahkan segala problematika kehidupan. Bagaimana Rasulullah berdakwah dengan kaum Quraisy dengan begitu lemah lembut. Menyuapi pengemis Yahudi, menjenguk musuh nabi, mendoakan hingga menghormati kematian kaum Quraisy.

Dalam kasus sosial saat ini. Kiranya berlemah lembut adalah solusi alternatif memecahkan segala permasalahan. Misal ada tuduhan, “Kamu kafir!”, maka berlemah lembutlah, “iya, saya kafir”. Lemparkan senyum dan ciptakan keindahan. Bukan malah saling eyel dan keras kepala agar terkesan sebagai pemenang. Sifat atau watak lemah lembut, jika sudah melakat pada manusia, yang terpancar dalam dirinya hanyalah kenyamanan. Suami-istri jika ada pertengkaran dan diekspresikan dengan lemah lembut, akan malah terlihat sebuah keharmonisan.

Islam diajarkan untuk berlemah lembut. Jika ada perilaku radikal yang mengatasnamakan islam, hendaknya perlu dirumuskan dari awal tentang konsep islam rahmatan lil ‘alamin. Kekarasan bukan cara islam mengajarkan agama. Pun diberikan sebuah gambaran/ contoh yang jelas, yakni Muhammad bin Abullah. Jika kita dihimbau untuk meneladani beliau kanjeng nabi, maka cara yang paling utama adalah tentang sifat kenabiannya. Bagaimana rasulullah berakhlak dan beradab. Sehingga bisa dipahami setiap maksud yang disampaikan dan diperilakukan oleh nabi Muhammad.

إِنَّا للهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ‎‎

Sangkan paraning dumadi. Kalau dalam bahasa jawa, lemah itu artinya tanah. Menyadari bahwa manusia tercipta dari tanah dan akan kembali lagi menjadi tanah (baca: mati). Jika kita bersikap lemah lembut – maka secara tidak langsung, kita sudah satu tahap sadar diri, bahwa kita manusia. Keras kepala adalah perwujudan tuan Azazil. Lemah lembut adalah para malaikat. Jika dicaci, dimaki, dihina, dilecehkan, dikafirkan, disesatkan orang lain. Ingatlah bahwa menjadi manusia (adam) selalu ditakdirkan untuk digoda oleh (iblis) yang nantinya makan buah khuldi. Jangan balas mencaci, memaki, dan menghina. Karena menghadapi iblis tidak harus menjadi iblis.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU