Toleransi Kok Gitu?

Banyak orang mengaku sudah bertoleransi, tapi tidak paham makna toleransi. Kata toleransi diserap dari bahasa Inggris, toleration. Secara etimologis, toleration yang mulai dikenal pada sekira 1510, berasal dari bahasa Latin tolerationem (nominative toleratio). Tolerationem kemudian diserap oleh bahasa Prancis pada 15 Masehi menjadi tolération. Tolération akhirnya dibajak oleh bahasa Inggris pada 1510-an itu, jadilah toleration, yang maknanya adalah permission granted by authority, licence. Jadi muasal toleransi adalah izin atau lisensi yang diberikan oleh sebuah otoritas.

Dalam konteks agama, aktivitas yang dilakukan secara toleran sering diartikan sebagai aliran baru yang disebutnya: Islam Liberal. Semakin ngawur melakukan penuduhan. Kalau kita bicara islam, tentu sebuah ajaran yang damai. Jadi agak sedikit gimana gitu kalau ada istilah islam liberal, islam radikal, islam anu dan anu lainnya. Lebih bijak itu pernyataannya diganti orang liberal yang kebetulan beragama islam atau orang radikal yang kebetulan muslim.

Kembali ke topik. Lalu toleransi itu apa? Bukankah menghargai perbedaan? Mungkin iya, salah satunya. Tapi kalau kebablasan dalam memaknakan toleransi, juga akan menjadi kacau. Pejabat negara ketika sambutan tidak perlu mengucapkan, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita semua, shalom, om swastiastu, namo buddhaya, salam kebajikan”. Kalau Cak Nun pernah menganalogikan, ayam kalau bertemu anjing tidak harus menggonggong. Pun sebaliknya anjing tidak perlu berkokok jika berpapasan dengan ayam. Ayam akan memaklumi anjing, bahwa dia anjing, tidak perlu berpura-pura menjadi anjing untuk dihargai bahwa dia adalah anjing. Itulah toleransi!

Intinya kalau islam ya salam, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” saja. Semua non-muslim akan tetap menghargai kepercayaan orang tersebut. Pun juga orang Nasrani, Budhis, Hindu, dan yang lain. Jangan hanya dengan tidak mengucap salam agama lain terus dituduh anti-toleransi: Jangan paksa Anjing untuk berkokok.

Kita coba tarik lebih luas lagi tentang pemaknaan toleransi dalam kesehariaan manusia. Cukup heran dengan fatwa beberapa ngulama yang mengatakan tidak boleh mendoakan atau hanya sebatas simpati dan empati kepada manusia berbeda agama. Saya tidak bisa membayangkan jika ada anak kecil tertabrak mobil, kepalanya berdarah, kakinya pincang, sedangkan di situ yang ada tinggal kita. Kemudian kita bertanya, “Dek, agamamu apa?”. DJANCUK!!! Sebegitunya agama dijadikan tameng untuk berlaku menjadi manusia baik?

Jika susah menghargai orang lain karena perbedaan agama, hargailah dia sebagai manusia sesama ciptaan Tuhan.

Ada sebuah kisah, saat kanjeng Nabi berdiri ketika ada orang Yahudi meninggal dan mayatnya akan dikuburkan. Kemudian para sahabat bertanya, “Untuk apa berdiri ya Nabi? Bukankah dia orang Yahudi?”. Dengan senyum lembutnya, kanjeng nabi bilang, “Bukankah ia manusia?”.

Ada kisah lain ketika Nabi Muhammad bersedih dan bilang bahwa Mukhayriq (non-muslim) adalah yang terbaik bagi kaumnya. Ini karena Mukhayriq adalah orang kaya raya dari golongan Yahudi. Dia bilang kepada seluruh pengikutnya untuk membantu nabi Muhammad jika dia nanti meninggal. Padahal kejadian tersebut terjadi di perang Sabat, yang merupakan hari suci kaum Yahudi.

Masih berat kah kalian menghargai sesama manusia meski berbeda agama?

Miris rasanya ketika kita sakit parah dan membutuhkan donor darah. Dan memprihatinkannya adalah sempat-sempatnya kita bertanya, “Maaf pendonor agamanya apa?”. Seolah dalam diri terpatri jiwa manusia harus seagama. Sedangkan Tuhan selalu menciptakan dengan takdir-Nya manusia yang berbeda-beda. Dakwah itu mengajak, bukan menghakimi dan mengaburkan makna toleransi.

Saya punya banyak teman berbeda agama. Minimal saya punya hati sehingga tidak perlu memposting di media sosial sesuatu yang sekiranya menyinggung perasaan teman yang berbeda agama. Kita cukup tahu kalau saya muslim dan mereka Nasrani, Budhis, dan lain sebagainya. Seharusnya setiap individu manusia sudah punya batasan tertentu dalam bersikap toleran. Pergi ke Gereja jangan dituduh dia sudah pindah agama (Muslim ke Nasrani). Begitu juga orang Nasrani yang istirahat sejenak di masjid terus jangan disimpulkan mualaf.

Manusia harus bisa memilah hubungan horizontal dan vertikal ketika mereka menjadi makhluk individu dan makhluk sosial. Kemudian juga bisa dipelajari hakikat akidah dan akhlak atau adab. Sehingga tidak ada lagi prasangka-prasangka lucu. Berprasangka baiklah kepada Tuhan, bahwa segala bentuk perbedaan adalah berkah. Jangan nodai kebaikanmu dan kebaikan temanmu (non-muslim) dengan sesuatu yang berlebihan.

Selamat hari toleransi internasional!


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Satu tanggapan untuk “Toleransi Kok Gitu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!