Categories: opiniSimponi

Hari Tolerasi Internasional

Share

Hari Toleransi Internasional sudah diperingati sejak tahun 1996, setiap tanggal 16 November. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus ketidakadilan, kekerasan, diskriminasi, dan marginalisasi di banyak negara. Padahal, keragaman agama, bahasa, budaya, dan etnis dunia bukanlah alasan untuk terjadinya konflik, tapi sebagai pelengkap untuk memperkaya keberagaman. Toleransi dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi terhadap beragam budaya di dunia, bentuk ekspresi, dan cara kita menjadi manusia.

Menurut laman UN.org, berikut ini merupakan cara untuk mewujudkan toleransi.

  1. Penegakan hak asasi manusia

Setiap negara bertanggung jawab untuk menegakkan hukum hak asasi manusia, melarang kebencian, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas.

  1. Pendidikan

Intoleransi sangat sering berakar pada ketidaktahuan dan ketakutan. Intoleransi juga terkait erat dengan rasa harga diri dan kebanggaan yang berlebihan, baik personal, nasional maupun religius. Gagasan yang salah ini seringkali diajarkan dan dipelajari sejak usia dini.

  1. Kesadaran individu

Kesombongan, stereotip, stigmatisasi, penghinaan dan lelucon rasial adalah contoh ekspresi intoleransi individu yang menimpa beberapa orang setiap hari. Intoleransi ini dapat menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat.

Masalah Toleransi

Orang bisa jadi intoleran, mungkin karena kurang kokohnya logika pikir yang berlaku dalam akal manusia sehingga mudah menerima dogma dari luar. Kemudian lebih banyak penanggulangannya justru adalah dengan menyodorkan dogma lain untuk memerangi apa yang dianggap intoleransi. Akhirnya wacana toleransi menjadi bahan baru, doktrin baru untuk menghantam. Jadi hanya ganti dogma dan doktrin. Saling lempar julukan intoleransi.

Orang beragama kata Freud, sering berada dalam suasana “perasaan ketergantungan” (the feeling of  powerlessness) yang membuat orang beragama sulit mencapai kedewasaan beragama karena gagal membangun otonomi dalam dirinya sebagai manusia.

Perasaan tersebut berlainan dengan orang yang berhasil membangun religius feeling yang mampu mengembangkan ritual keberagamaan menjadi konkret dan mencapai kematangan dengan mengembangkan dirinya menjadi khalifah di muka bumi. Keadilan, kebenaran, cinta kasih, persaudaraan, kebijaksanaan untuk terus dikembangkan.

Agama atau sistem kepercayaan pada dasarnya adalah pengalaman batin seseorang yang sifatnya subjektif karena penuh tafsiran (inner state or subjective experience). Permasalahannya daya dorong atau daya himbau ajaran agama yang sudah ditafsirkan tersebut selalu saja menumbuhkan fanatisme sehingga para pengikutnya akan berusaha “mati-matian” untuk mengobjektifkannya di dunia nyata.

Baca Juga: Toleransi Level Sudra

Karenanya Joachim Wach pernah bilang bahwa setiap kemunculan sistem kepercayaan baru, atau tafsir baru, pastilah akan diikuti oleh penciptaan dunia baru dimana konsep-konsep dan kelembagaan lama akan kehilangan makna dan alasan dasar kehadirannya.

Dari titik inilah agama atau kepercayaan membangun basis perkauman dan memberikan struktur rohani, intelektual serta kebudayaan. Kesemuanya elemen ini akan mengintegrasikan setiap kelompok masyarakat yang saling berbeda dan memiliki pandangan dan sistem kepercayaan yang sama.

Pengelompokan dan daya himbau berdasarkan tafsir dan “klaim kebenaran” inilah yang sering menimbulkan krisis dan bentrokan antar pengikut agama atau kepercayaan. Fakta ini sudah lama diamati oleh Geertz yang mengatakan bahwa agama itu bukanlah kesimpulan dari realitas, namun mendahului realitas itu sendiri. Karenanya unsur determinasi mutlak dan tidak mau berdamai dengan realitas, merupakan karakter dasar dari agama.

Sensitivitas Toleransi

Sebenarnya sangat mudah untuk menimbulkan sikap toleransi dalam diri manusia. Selain faktor kepedulian, perasaan merasa bersalah juga menjadi akar bentuk toleransi. Tidak mengherankan jika sekarang muncul berbagai bentuk ancaman intoleransi yang secara tidak disadari bermula dari pikiran dan keyakinan akan kebenaran mutlak dalam diri. Benih ini muncul berdasarkan perspektif pengetahuan dan pengalaman seseorang dalam menjangkau segala bentuk perbedaan.

Bukan hanya tentang agama, bahkan secara perbedaan karakter dan tingkat pemahamanan pun bisa menjadi biang konflik toleransi. Ketidaksesuaian, ketidaksepakatan, dan ketidaksepemahaman dalam menilai sebuah konsep kehidupan. Toleransi bukan lagi bagaimana kita menerima segala bentuk warna, tapi bagaimana kita bisa menyadari bahwa kita juga bagian dari warna.

Bicara toleransi akan selalu menjadi perbedabatan yang kekal tatkala ego dan keyakinan akan sesuatu hal yang belum tentu kebenarannya dipertahankan mati-matian. Apalagi ketika era-digital memaksa individu menerima ribuan giga file pengetahuan yang secara perlahan menggerus fanatisme kayakinan. Saling lempar opini, wacana, dan gagasan tentang sebuah Toleransi.

Introspeksi diri, menyadari dalam setiap perenungan. Bukankah kita selalu melakukan tindakan intoleransi? Bahkan terhadap diri kita sendiri? Jika masih ada perasaan dan sikap membenci dan memerangi mereka yang dituduh intoleransi, berarti kita belum sepenuhnya menjadi pribadi yang toleransi. Kembali pada pembahasan dasar toleransi: menerima segala bentuk perbedaan, termasuk mereka yang dikira, disangka, dan dituduh intoleransi.

Referensi berbagai sumber


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU