Kita Lupa Visi Agama

Permasalahan paling berbahaya yang saat ini menimpa umat islam adalah bencana perbedaan pendapat dan perselisihan faham. Perbedaan dan perselisihan faham yang sifatnya memikirkan kepentingan masing-masing dan ingin menang sendiri. Semakin besar dan besar. Merasuk semakin jauh ke dalam jiwa satu orang ke orang yang lain. Merantai pikiran dan perasaannya.

Hari ini kita dipaksa untuk masuk ke dunia konflik. Kita dipaksa punya musuh banyak. Ketika seseorang mencoba menanggapi suatu hal, apa dan bagaimana pun pendapatnya saat itu juga, dia menambah musuh. Siapa pun yang mencoba membahas saat itu juga, dia dipaksa berada di posisi bersebrangan. Sekali pun memposisikan diri `netral`. Netral sendiri akan dianggap pro oleh pihak yang kontra, dan akan dianggap kontra oleh pihak yang pro. Tanpa kita sadari, sedikit demi sedikit setiap dari kita akan masuk ke dunia konflik itu.

Dalam perjalanannya, kita kehilangan kejernihan dalam memandang. Kita melupakan tujuan utama dan prinsip islam yang utama. Dengan mudahnya kita berkata tanpa pengetahuan, memutuskan hukum tanpa pemahaman, dan menjalankan tanpa dasar.

Tuduhan demi tuduhan membanjir. Sebagian darinya dianggap penuh dosa dan layak di neraka. Sebagiannya lagi dianggap kafir. Kita sibuk dengan kebenaran-kebenaran kita sendiri. Tanpa kita sadari, kita kehilangan perilaku islami yang paling dasar. Kita lupa alasan di turunkannya Islam oleh Allah SWT. Kita lupa visi besar diutusnya Rasulullah.

Jangan berbeda pada apa yang tidak perlu dibedakan. Jangan berbeda pada hal-hal pokok. Namun seandainya jika dalam hal furuiyyah harus berbeda, ingatlah bahwa Rasulullah begitu gembira jika umat bersaudara. Di menjelang akhir hayat, yang terfikir oleh beliau adalah umat, “umati..umati..”.

Manusia memanglah makhluk yang ambivalent (kompleks). Kita semua faham bahwa perbedaan tidak dapat dihindari. Tapi di satu sisi, tidak dapat dibohongi bahwa kita cenderung tidak nyaman bahkan merasa terancam dengan perbedaan. Kita sadar bahwa perbedaan adalah sunatullah. Namun di sisi lain, juga selalu ada rasa pendapatnya ingin dianggap benar. Manusiawi. Manusia dengan segudang hasratnya selalu ingin berkuasa dan dianggap menang. Inilah penyebab konflik. Karakter agresif. Yang ada pada setiap diri kita.

Orang yang susah menerima perbedaan, akan susah hidup. Ia akan merasa tidak nyaman dimana pun berada. Karenanya, kebersamaan harus diupayakan. Ketidaknyaman harus diperjuangkan.

Sadarilah bahwa sebagai manusia kita banyak kurangnya. Jangan mudah menyalahkan, siapa tau yang dimaksud sama, hanya saja penyampaiannya berbeda. Jikalau ada permasalahan, ikutilah orang-orang alim yang mumpuni di bidangnya. Fahami level kita. Jika tak faham ilmu fiqh, jangan selesaikan sendiri perdebatan fiqh, merujuklah kepada ulama alim. Sama halnya ketika kita sakit, bukan kita belajar sendiri ilmu tentang penyakit. Tapi datanglah kepada dokter.

Allah memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Bukan dalam kebenaran. Menghadapi perbedaan, mari  bersabar untuk saling mengingatkan, dan sabar ketika diingatkan.


RNC – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!