Lupa Pada Kekasih

Sudah sebulan ini, kekasih Namines sulit dihubungi. Dihampiri ke rumah selalu tidak ada, ditelfon tak pernah diangkat. Namines teramat gelisah dengan keadaan yang demikian. Merasa didiamkan tanpa ada kabar sama sekali. Sekali lagi kisah cinta ini bukan tentang lelaki yang lihai mengatur hubungna, namun tentang kekasih yang sangat sangat amat sempurna di mata Namines. Semuan kebaikan dan keindahan melekat pada dirinya. Kekasih yang tidak pernah usai mendampingi dan membahagiakan Namines.

Beberapa hari merenung dan menginstropeksi diri. Apa yang salah? Salahku apa? Karena sebelumnya tidak pernah terjadi percecokan atau perdebatan di antara keduanya. Semakin larut, semakin kepikiran tentang kesalahan apa yang dibuatnya, hingga kekasihnya memperlakukan demikian. Kemudian ia merasa ada yang salah atas perbuatan yang dilakukan selama seminggu aau bahkan sebulan ini.

Selama ini Namines merasa tujuan hidupnya adalah makan dan minum kemudian melupakan ibadah dan puasa. Ketika yang lain disibukan dengan bersedekah dan mencari ampunan kekasihnya, Namines malah bertindak rakus pada beberapa hal dan selalu mempunyai angan-angan yang panjang dan berlarut-larut. Ketika yang lain menyerahkan harta untuk kekasihnya, Namines malah membanggakan ilmunya untuk mendapatkan keuntungan dan melupakan kekasihnya. Ketika yang lain merasa aman dari semua orang karena kekasihnya, Namines malah berbuat jahat namun masih bisa tertawa lepas. Orang-orang aktif menanam dan khawatir kerusakannya, sedangkan Namines malah mencabut dan mengharapkan panen. Bahkan saat semua orang mematuhi perintah dan menjauhi larangan kekasihnya, Namines malah menjadi penguasa dengan memerintah sesuai kehendaknya.

Dalam perenungannya Namines merasa dirinya sudah sangat jauh dengan kekasihnya. Melupakan kekasihnya. Dia merasa dirinya terbelenggu sifat kemunafikan. Ego terhadap diri sendiri. Merasa benar, merasa berkuasa, merasa berkehendak, dan sifat perasa lainnya. “Seharusnya aku menggunakan logika, bukan perasaan”.

Dan ia sadar sifat yang demikian sangat hina di mata kekasihnya. Melebihi sifat selingkuh atau menduakannya. Setiap malam ia merenung dan bersembahyang menyebut nama-nama kekasihnya. Dengan tangisannya yang pilu dan tengadah tangan yang penuh dengan penyesalan.

Di tengah penyesalan tersebut, terdengar lirih suara kekasihnya. “Tahukah engkau? Pemimpin yang baik adalah ia yang takut berdosa atas kekasihnya. Dan penyesalan yang ikhlas adalah tangisan dari seorang lelaki”. Sontak Namines bangkit dari tempatnya ia bersujud. Mengambil air sumur di belakang rumah. Segera kembali ke tempat tidur dengan melempar senyum ke seluruh ruangan kamar. Pertanda kekasihnya sangat pemaaf dan penyayang.

Keesokan harinya, Namines mendatangi kekasihnya yang sedang menyapu di halaman rumah. Wajahnya yang anggun menggetarkan seisi jiwa. Dihampirinya kemudian disapa lembut, “selamat pagi Dinda”. Kekasihnya tersenyum manis. “Terimakasih dinda, permohonan maaf saya semalam diterima”

“Asal jangan kau ulang. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan manusia selalu mengambil keputusan terburu-buru sebelum berfikir panjang. Ingat. Setiap apa yang engkau lakukan pasti akan mendapat balasan dan karma, apalagi kepada kekasihmu sendiri.”

“Saya siap menjalankan hukuman dari Dinda. Asal dinda setia bersama saya”

Kemudian mereka berdua melanjutakan obrolan di halaman rumah. Sambil menikmati teh hangat. Bukan karena tidak sopan karena tidak mengajak Namines masuk ke dalam rumah, namun ini etika dari kekasihnya untuk bakti kepada agama yang dianutnya.

Setelah itu Namines beranjak pulang. Selama perjalanan, ia menjanjikan dalam dirinya sendiri untuk setia tidak melupakan kekasihnya. Ini adalah etika saat seseorang sedang memadu kasih. Saat sang kekasih selalu memafkan segala apapun yang telah dilakukan Namines, kemudian luntur hanya dengan permohonan maaf. Melupakan kekasih bagi Namines adalah menyelingkuhi dengan cara samar. Melupakan yang bertujuan untuk memfoya-foyakan diri dan mencari kebahagian lain selain bersama kekasihnya.

“Meskipun sering aku melupakanmu, tapi aku yakin kamu tidak pernah sedetik pun melupakanku.”, teriak Namines dalam kesunyian perjalanan.

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!