Lupa Menjadi Bebek

Namaku Namines. Lahir 20 tahun yang lalu. Aku muslim sejak lahir. Mungkin karena bapak-ibuku juga sebelumnya muslim. Demikianlah yang seharusnya aku syukuri. Bahwa kemuslimanku tidak separanoid para sahabat kanjeng nabi. Menjadi muslim di antara mayoritas muslim adalah mudah. Menjadi muslim di antara mayoritas non-muslim adalah dahsyat. Itulah derajat para sahabat nabi selalu tidak akan pernah mungkin untuk disamai oleh umat kanjeng nabi lainnya.

Agama adalah keyakinan. Meyakini sesuatu yang belum ada sebelumnya adalah rumit. Sedangkan hakekat manusia selalu berada dalam zona nyaman: pengikut. Tidak bisa dielak, bahwa manusia diajak menjelma menjadi bebek. Ketika yang satu menemukan tentang kebenaran atau kenyamanan, maka yang lain akan mengikuti. Tanpa niat untuk mencari tantangan dan mengambil risiko.

Agama adalah keyakinan. Meyakininya sesuatu yang belum ada sebelumnya adalah rumit. Sedangkan hakekat manusia selalu berada dalam zona nyaman: pengikut. Tidak bisa dielak, bahwa manusia diajak menjelma menjadi bebek. Ketika yang satu menemukan tentang kebenaran atau kenyamanan, maka yang lain akan mengikuti. Tanpa niat untuk mencari tantangan dan mengambil risiko.

“Hidup itu melawan arus. Hanya sampah dan ikan mati yang ikut arus” – Emha Ainun Najib

Manusia satu adalah pemimpin manusia lainnya. Orang akan lebih nyaman menggunakan gadget merk A yang sudah mendapatkan komentar baik dari mayoritas orang. Enggan memilih membeli gadget B yang merupakan barang baru, meski harganya lebih murah. Analoginya adalah biarkan orang pertama yang mendapat celaka, selebihnya yang lain adalah makmum yang sudah tahu medan sebelumnya dan mencari sifat aman berdasarkan pengalaman orang pertama.

Itulah sesungguhnya manusia yang sulit mencapai tingkatan berikutnya. Nyaman berada dalam lingkaran syariat. Membela, memenangkan, dan menyombongkannya. Sedangkan banyak di antaranya sudah perlahan menuju tarekat, hakekat, dan makrifat. Mereka adalah manusia yang sudah bisa memilah mana akidah dan mana akhlak. Memilah konsep ketuhanan dan kemanusiaan yang terikat dan tidak terpisahkan.

Pantaslah banyak di antara manusia yang gagal paham dengan manusia lainnya. Itulah aku yang selalu menganggap diri belum bisa menjadi manusia. Manusia yang diperintahkan Tuhan untuk memimpin dan menjaga bumi. Aku yang merasa tak pantas dan belum pantas untuk menjadi wakil Tuhan. Karena aku masih merasa menjadi bebek-bebek yang belum bisa mandiri mencari jalan.

Entah sampai kapan aku menjadi bebek di saat yang lain mulai menjadi anjing-anjing. Menggonggong begitu kerasanya. Menggigit mangsa yang dirasa mengganggunya, kelompoknya atau rumahnya. Barangkali manusia anjing itu lupa menjadi manusia bebek

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan”)


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!