Lupa Memakai Jubah

“Kenapa kalian tidak memakai jubah?”

Namines melanjutkan perjalanan dan melihat semua orang memakai jubah di setiap kali berpapasan. Mereka berduyung membawa kitab, menghitung tasbih, dan beradegan seperti sang orator agama. Anak kecil pun sudah fasih mengeja setiap kalimat-kalimat dengan bahasa Arab. Sedangkan orang dewasa di belakangnya mengamininya. “Ada yang aneh! Bukankah anak itu sedang mengumpat menggunakan bahasa Arab? Kenapa diamini?!”.

Namines merasa dunia semakin tidak karuan. Tidak bisa menjelaskan mana yang hitam dan putih, baik dan buruk, bejat dan taat! Simbol-simbol berkeliaran untuk eksistensi dirinya sendiri. Bahkan di seberang jalan ada sebuah tanah lapang. Setiap lelaki berjubah diikuti ribuan lelaki berjubah di belakangnya. Imam melakukan apapun diikuti oleh jamaahnya, termasuk ketika adegan kencing di jalan.

Menariknya ada dua orang tidak berjubah yang terlihat mencolok di antara yang lainnya. Dia duduk dibawah pohon karena menghindari terik matahari. Mereka bercengkrama hangat. Membahas masa lalu (sejarah), masa kini (isu), hingga masa depan (harapan). Saling melempar tawa. “Ah, dia mungkin bukan orang kami (muslim)”, gumam Namines.

Membuang jauh pandangan ke arah yang lain, Namines melihat sekumpulan manusia berjubah berkata-kata kotor, ada yang sesekali melakukan pelecehan seksual, wajahnya begitu menyeramkan, membuang sampah sembarangan di jalan! “Tapi dia adalah golongan kami”.

Membalikkan pandangan kembali ke dua orang yang masih nyaman berdiskusi. Di sampingnya ada tas kresek hitam yang digunakan untuk membuang setiap camilan ketika ngobrol. Sejenak Namines memejamkan mata. Kemudian nampak jelas, dua orang tersebut begitu megah mengenakan jubah, sedangkan yang lain adalah kerumunan orang telanjang!

(Cerita fiksi “Namines Mencari Jalan” )


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!