Categories: LiputanSimponi

Lembar Maiyah: Halaman 3

Share

Melanjutkan halaman berikutnya dalam diary santri maiyah. Tanpa sebuah alur tulisan yang runtut, seperti konsep yang dibawa oleh mbah Nun itu sendiri. “Melingkar”, katanya. Sehingga ruang diskusi tidak terbatas dimensi umur, latar belakang, waktu, dan tema. Seperti itulah yang diajarkan Alquran untuk senantiasa di-tadabburi, tanpa ada perintah untuk menafsiri, apalagi menerjemahkan.

Setiap tafsir tentu bisa dimungkinkan tentang benar dan salah. Karenanya, tafsir menjadi modal sebuah perdebatan dan pertentangan di antara ulama atau kelompok/ aliran. Tafsir hanya sebagai alat bantu untuk memahami yang tidak dipahami, bukan malah membuat buta manusia untuk menghalalkan segala cara sesuai tafsir yang dipelajari.

Baca Juga : Lembar Maiyah : Halaman 1

Tadabbur adalah proses merenungi, memahami, dan mempelajari ayat-ayat Alquran yang tujuannya adalah kebaikan, minimal bagi dirinya sendiri. Hidayah Allah selalu turun kepada hamba-Nya melalui proses tadabbur. Membuka Alquran secara acak, kemudian menemukan sebuah ayat, membacanya, dan kemudian menjadi manusia baik kerenanya. Sejatinya semua manusia sama di hadapan Allah. Itu juga yang selalu ditekankan dalam Alquran. Seruan kepada seluruh manusia dan orang yang beriman. Tidak ada pengecualian dan pengkerucutan untuk mendapatkan hidayah dan keberkahan dari ayat-ayat Allah.

Maka dari itu, sebelum muluk-muluk untuk bercita-cita menjadi manusia terkenal, kaya, pandai, dan berjabatan. Setidaknya manusia punya prinsip dasar ingin menjadi manusia baik. Baik sebagai hamba di mata Tuhan, dan baik sebagai manusia di hadapan manusia lainnya. Kemudian baru menemukan lingkaran-lingkaran dalam menganalisa kehidupan secara mikro dan makro. Dalam hidup, ada konsep lapis luar dari diri kita. Sehingga kita tahu sesuatu keluar dari lapis mana.

Lapis paling dalam, yakni lingkar pengaruh. Manusia menjadi pengendali kebijakan kepada dirinya dan orang lain. Lapis ini bisa mempengaruhi lingkungan sekitar.
Lapis kedua, yakni lingkar peduli. Peduli tapi tidak bisa melakukan apapun untuk merubah sesautu. Jadi jangan terlalu stres jika kita sudah memahami konsepsi awal dalam diri kita, karena pada lapis kedua ini sudah ada kesepakatan awal dalam setiap diri manusia.
Lapis ketiga, Lingkar perhatian. Sama sekali tidak berpengaruh pada hasil. Jika menimbulkan kegelisahan, ketakutan, dan stres, maka tinggalkan!

Lingkar ketiga merupakan sesuatu di luar kendali kita. Sehingga tidak bisa mengubah sesuatu. Tapi bisa dijadikan pelajaran dalam mengambil keputusan. Banyak orang berbicara dan berdiskusi di lingkar perhatian, tapi melalaikan lingkar peduli dan lingkar pengaruh.

Cari pacar, jika meletakan posisi yang salah, maka juga akan mengalami kegagalan. Sehingga saat bertemu seseorang bisa meletakkan posisi lingkar pengaruh dan menunjukkan identitas dirinya kepada orang yang dicintainya.

Jika manusia diberikan kuasa untuk tinggal di lingkar pengaruh. Sesuatu yang ada di depan mata, maka lakukanlah yang terbaik. Tuhan memasrahkan sesuatu dalam diri kita untuk diperbuat dan diperbaiki. Aku akan memperlakukan makhluk-Mu seperti Tuhan memperlakukanku. Tarik ulur dalam lingkar ini sering terjadi pada setiap diri manusia. Anak yang mendapat lingkar pengaruh di rumah, beralih menjadi lingkar peduli saat sekolah, dan sangat fleksibel berubah setiap saat dan dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Kemampuan melihat dan mengetahui posisi lingkar pada dirinya, disebut kebijaksanaan. Kebijaksanaan digunakan untuk memilah agar efisien dalam mengambil sebuah keputusan hidup manusia.

Ketika di dalam lingkar perhatian, bukan berarti mengabaikan lingkar peduli dan lingkar pengaruh. Karena suatu saat jika Tuhan mengijinkan, semua bisa bertransformasi dalam lingkar pengaruh. Pada lingkar pengaruh jangan berlaku menjadi orang yang besar dan berkuasa. Lakukanlah lingkar pengaruh kita untuk berlaku baik dan benar sesuai kadar pengaruh kita.

Baca Juga : Lembar Maiyah: Halaman 2

Pas dan benar! Menurut Tuhan, manusia tidak akan tahu kapan titiknya. Yang bisa dilakukan manusia sebagai hamba adalah husnudhon (berprasangka baik) kepada-Nya. Manusia mempunyai perjalanan panjang yang manusia tidak pernah tahu bagaimana hasilnya. Untuk itu, manusia hanya bisa setia mengabdi pada lika-liku perjalanan yang menjadi takdir Tuhan kepada hamba-Nya.

Semua orang selalu meminta sesuatu kepada Tuhan. Namun tidak semua yang diminta dan diharapkan bisa diberikan atau dikabulkan. Tinggal bagaimana manusia bisa meminta sesuatu yang bisa mendekatkan diri dengan Tuhan, bukan meminta sesuatu yang malah menjadikan jauh kepada Tuhan.

Manusia selalu membutuhkan tolok ukur pada sesuatu. Baik dan buruk itu sangan subjektif. Banyak variabel untuk menentukan baik dan buruk sesuatu. Jadi lakukanlah lingkar pengaruhmu dengan sebaik-baiknya sesuai kadar manusia itu. Tuhan bisa mengubah lingkar pengaruh manusia, entah menjadi sempit atau luas ke depannya.

Kedamaian dan ketrentraman. Meletakkan sesuatu yang pas pada tempatnya. Bukan hanya benar, tapi pener. Ketika manusia meletakkan informasi tidak pada tempatnya, dia akan mengganggu linkarnya sendiri. Karena kegelisahan tidak sesuai lingkarnya. Rumus Cak Nun, kamu berekreasi ketika berkreasi, dan menempatkan berkreasi dalam berekreasi. Kreasi dan rekreasi bukan sesuatu yang terpisah.

Tuhan tidak akan kehabisan pintu untuk manusia membuka pintu jalan. Menariknya dalam perjalanan hidup adalah bisa menghabiskan semua pintu yang sudah dibukakan sama Tuhan. Karena setiap pintu mengandung ilmu, bukan mengandung keberhasilan yang manusia bayangkan. Dan keberhasilan manusia adalah mengandung ilmu di setiap pintu. Tuhan menjamin rezeki setiap manusia, sedangkan manusia hanya pasrah pada setiap pintu yang dibukanya, sehingga rezeki bisa menghampiri pada dirinya.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU