Lembar Maiyah: Halaman 2

Karena banyak kegiatan akhir tahun kemarin, serta cuaca yang kurang mesra di awal tahun, saya belum sempat lagi untuk sinau dengan mbah Nun. Jadi kali ini saya akan coba menulis lembar maiyah halaman kedua saat terakhir kami bisa bercengkrama hangat di bulan Oktober, dalam kuliah lanjutan macapat syafaat di Bantul, Yogyakarta. Tulisan ini akan terus mengalir dari halaman 1 ke halaman lainnya.

Halaman ini tidak memuat semua materi yang di sampaikan oleh “dosen” saat itu, termasuk dalang kocak yang berhasil “mempermalukan” mbah Nun di depan panggung. Pun juga bukan tentang seorang bule pemerhati lingkungan alam di Indonesia. Jadi kali ini saya hanya akan menulis sesuatu yang menurut saya penting, itu pun karena proses limitasi daya ingat saya. Kalau maiyah sering di identikan dengan sosok Muhammad Ainun Najib, tulisan ini akan coba mengulas materi atau bahasan dari putra beliau Sabrang Mowo Damar Panuluh. Semoga bisa langsung dipahami dan tidak ada pertanyaan konyol seperti, “Sabrang itu adiknya Noe Letto ya?”.

Sebelum ke materi di macapat syafaat, saya akan sedikit memberikan kenangan romantis tentang pemikiran indah dari Sabrang. Ketika itu dalam diskusi peringatan ulang tahun perdana, suluk surakartan, Sabrang ditanya oleh salah seorang pemuda berpakaian ala kadarnya, “Gus, sampean itu kan dulu kuliah di luar negeri mengambil jurusan fisika dan matematika. Jadi saya mau tanya dan sampean jawab dengan ilmu sains. Bagaimana peristiwa Isra’ Mi’raj bila dijelaskan dengan ilmu fisika atau matematika?”

Mendengar dari belakang saya terkejut, “Kok ya ada-ada aja pertanyaan manusia-manusia maiyah ini?!”. Namun kepasrahanku karena (menurutku) pertanyaan konyol, akan coba di jawab pria berusaia 39 tahun ini. “Gila, mukjizat kok coba dirumuskan dalam ilmu sains”, batinku.

Dengan menyuruh panitia mempersiapkan whiteboard, Sabrang mulai berdiri dengan gaya khas beliau. Diselipi dengan sedikit guyon dan penyampaian tutur bahasa yang membuat otak serasa oleng sebelah. Kurang lebih begini penjelasan beliau. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah untuk memlakukan sesuatu, termasuk peristiwa Isra’ Mi’raj dalam waktu kurang dari semalam. Kalau dalam hukum fisika, sebenarnya jarak yang ditempuh itu bisa sama, tapi waktu yang ditembuh bisa berbeda. Misal dalam sebuah garis yang mempunyai titik awal dan titik akhir bisa ditempuh dengan waktu sehari (1000 km). Maka (mungkin) Allah memberikan ijin kepada manusia terkasihnya dengan perhitungan lain, yakni menarik titik akhir persis di samping titik awal. Jadi untuk melakukan perjalanan 1000 km bisa ditempuh dengan waktu 1 detik (selangkah). Kemudian Sabrang juga menjelaskan tentang rahasia ilmu nglipet donyo (melipat dunia). Seperti kisah banyak ulama Indonesia yang bisa melakukan salat jumat di Masjidil Haram dengan sekejap mata. Bisa dakwah puluhan kota dalam sehari. Dan kisah almusthail lainnya.

Manunggaling Matematika

Saya bingung menulis istilah untuk mengawali pembahasan gus Sabrang dalam diskusi macapat syafaat tersebut. Manunggaling Matematika, karena ada penonton yang bisa meresapi pesan dari hal sepele dari matematika – angka tunggal 1. Esa, kalau cak Nun mengatakan dalam buku Slilit Sang Kiai itu artinya bukan satu, tapi kesatuan – manunggal. Tapi bukan itu yang ingin saya bahas.

Matematika adalah ilmu paling suci. Kacaunya di zaman sekarang adalah “pertempuran” tidak pernah lekang oleh waktu antara kaum progresif dengan kaum konservatif. Progresif adalah generasi yang buru-buru melakukan kesalahan, sedangkan konservatif adalah generasi yang tidak mau mengakui kesalahannya. Kemudian ada istilah baru dalam maiyah, yakni pembaharu – generasi yang tidak buru-buru melakukan kesalahan, juga tidak eyel dalam mempertahankan kesalahan. Kalau ada yang baik diteruskan, kalau ada yang buruk ditinggalkan. Itulah yang seharusnya dipahami, bahwa yang dilakukan Newton itu benar, namun disempurnakan oleh Einsten, dan akan kembali disempurnakan oleh ilmuan lain. Karena sains akan selalu berkembang untuk mendekatkan dengan kebenaran yang tunggal.

Dalam pemahaman metematik sebagai ilmu paling suci, pria yang juga menjadi vocalis band Letto ini kembali menemukan definisi tak terhingga pada sebuah bilangan yang bermuara pada angka -1/12. Mencoba merasionalkan bilangan irrasional. Sabrang pun menganalogikan dengan pertanyaan sederhana, “Dalam sebuah hotel yang memiliki jumlah kamar tidak terhingga, apakah bisa dimasuki oleh penumpang sebuah bus yang jumlahnya tidak terhingga?”. Kemudian semua jamaah kompak menjawab bisa. Pertanyaan kemudian dilajutkan, “Kemudian datang lagi sebuah bus kedua yang memilki jumlah penumpang tidak terhingga, apakah penumpang dari bus kedua juga bisa dimasukan ke dalam kamar hotel yang jumlahnya tidak terhingga?”. Jamaah mulai ragu untuk kembali menjawab bisa. “Artinya ada limitasi jumlah dari penumpang bus pertama. Atau ternyata ketidakterhinggaan jumlah kamar hotel lebih besar dari ketidakterhinggaan jumlah penumpang pada bus pertama”. Kasus demikian adalah sedikit dari pengalaman atau ilmu yang didapatkan oleh seseorang. Pembendaharaan ilmu yang dikuasai tentu akan berbeda satu sama yang lain. Sehingga setiap orang akan memperoleh kebenaran masing-masing.

Seperti ketika Sabrang mencoba mengajak berfikir tentang penghitungan dasar dengan hasil 6. Di mulai dari bilangan 9 – 9 – 9 sama dengan enam, 8 – 8 – 8, sama dengan enam, 7 – 7 – 7 sama dengan enam, demikian seterusnya sampai bilangan 0 – 0 0 sama dengan enam. Intinya jika kita mau mencari jawaban dengan angka enam akan bisa didefinisikan dengan berbagai bilangan. Itu yang disebutnya operasi.

Dalam kaitannya dengan agama, setiap ayat dalam Alquran tentu akan memiliki banyak operasi untuk menghasilkan “angka enam”. Ada yang dengan metode penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, kuadrat, hingga pengakaran sekian. Itulah sebab Allah menjadikan sesuatu, sedangkan manusia diberikan hak untuk mengoprasikannya melalui otak dan hati mereka. Itu pun ada limitasi dalam menjangkau kebenaran Tuhan. Sehingga kesadaran dalam sebuah pemikiran/ operasi menemukan kebenaran Tuhan adalah hal yang paling utama untuk manusia berlaku bijak. Setiap manusia mempunyai daya operasi penghitungan yang berbeda dalam melihat sebuah kejadian berdasarkan ilmu dan pengalamannya.

Saya coba mendifinisakan dalam bentuk lain tentang manunggaling matematika. Ucapan syukur dan terimakasih sebelumnya layak kita berikan kepada ulama terkemuka Al Khawarizmi yang berhasil menemukan angka nol kemudian berhasil mengubah peradaban dunia sains, khususnya matematika. Nol adalah kekosongan, kalau dalam angka Arab ditulis dengan tanda titik. Dalam kajian tasawuf adalah renungan untuk senantiasa meniadakan diri (mengosongkan diri), seperti penjelasan sebelumnya bahwa Esa adalah kesatuan, bukan satu. Sedangkan makna titik adalah zikir yang senantiasa dilakukan oleh para alim ulama – pemusatan kata Allah yang difokuskan (dititikkan) dalam hati manusia. Bahkan dalam kajian tafsir yang menjelaskan lebih detail tentang pusat Alquran ada dalam Alfatihah (Ummul kitab), sedangkan pusat Alfatihah ada dalam ayat basmalah, kemudian lebih dalam lagi bahwa kandungan inti dari basmalah ada dalam huruf Ba’, dan inti dari kehidupan ada dalam titik di bawah Ba’ yang kemudian menyatukan menjadi garis, bidang, dan ruang. Menyusun huruf, kata, kalimat, hingga kitab suci Alquran.

Seperti dalam pesan oleh salah satu penanya, bahwa semua bilangan (selain 0) jika dipangkat 0, maka hasilnya adalah satu. Angka tunggal – Allah. Bahwa setiap apapun yang dilakukan dan diperbuat manusia akan kembali kepada Allah – sankan paraning dumadi. Gus Sabrang pun mengapresiasi penafsiran dari salah satu jamaah tersebut, meskipun maksud penjelasan bukan demikian. Itulah yang dinamakan hidayah, bahwa seseorang bisa mendapatkan pesan dari setiap kejadian yang ditemui, dilihat, atau didengarkannya. Bahkan Sabrang lebih menghargai seseorang yang bisa menafsirkan angka 1 dalam kaitannya menambahkan keimanan daripada seorang profesor/ doktor yang ribet dengan pengolahan rumus namun menjauhkan dari keimanannya.

Demikian ulasan sederhana saya di lembar maiyah halam kedua. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan dan keimanan.


(Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!