Lembar Maiyah: Halaman 1

Dari jangka waktu sekian lama saya Sinau Bareng bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng, dari beberapa pertemuan saya tadabbur bareng Muhammad Ainun Najib, dari beberapa pengalaman saya dengan maiyah. Maka saya baru menyempatkan untuk menulis halaman demi halaman setiap yang saya dapatkan. Saya tidak mengerti nanti apakah halaman ini akan menjadi sebuah buku atau hanya artikel berserakan yang tidak mengalir. Namun yang jelas akan selalu ada ilmu dan pesan dalam setiap halaman bermaiyah.

Halaman pertama saya mulai hari ini – Sinau Bareng di Sleman, Yogyakarta. Tidak tahu sebenarnya ini sudah menginjak semester berapa dalam mata kuliah Mbah Nun. Karena banyak pesan yang sudah terlanjur saya tulis pada artikel saya lainnya. Jangan takut tidak bisa mengikuti setiap materi yang disampaikan. Karena halaman demi halaman akan selalu nikmat untuk dibaca dan dipelajari. Maiyah adalah ruang bagi kita menemukan sebuah bentuk dan keputusan.

Halaman pertama tentang sebuah kebenaran.

Kebenaran abadi hanya milik Allah. Sehingga yang kita harapkan hanya qod’i-Nya. Sedangkan yang diterima manusia hanyalah sebuah dhonni prasangka atau pendapat. Kalau kita bicara ke ranah syariat. Bukan sebatas mempelajari tentang rukun islam dan iman. Namun termasuk pada nilai-nilai artivisual. Tentang gravitasi, tentang rantai makanan, tentang proses kimia, dan hukum alam lainnya. Itu yang disebut sunatullah. Sedangkan yang sering dipelajari dan diperdebatkan adalah sunaturasul.

Jika kesadaran akan kebenaran Allah ini dipahami oleh semua manusia, maka manusia perlahan akan mengurangi nafsu terhadap kebenaran diri. Dalam bahasa sederhananya adalah menyalahkan perilaku orang lain. Karena semua orang akan mempunyai “kebenaran” masing-masing dalam hidupnya.

Klaim akan kebenaran sebuah ajaran adalah sesuatu yang tidak akan pernah selesai. Dakwah bukan memaksakan kehendak, apalagi kehendak dhonni manusia lain. Jadikan kebenaran sebagai sebuah bekal atau modal untukmu sendiri. Kemudian bisa diekspresikan dalam bentuk kebaikan demi tujuan keindahan berperilaku. Silahkan berkeyakinan tentang kebenaran masing-masing, tapi jangan pernah menyalahkan kebenaran orang lain. Karena kebenaranmu dan kebenaran orang lain tidak sebenar-benarnya benar.

Kembali kepada masalah syariat tentang hukum alam. Bahwa kita dilahirkan di Indonesia adalah bentuk syariat Allah. Jangan menolak bahwa dalam diri kita tertanam jiwa nasionalisme. Jiwa tersebut yang akan menolak jika ada intervensi budaya atau ajaran dari luar yang masuk ke dalam dirinya. Jangan malah membuka diri untuk diubah dirinya dari ketentuan Allah bahwa kita adalah orang Indonesia.

Syariat-syariat dari Allah ini yang seharusnya saling dipahami. Jangan sampai ayam menuduh anjing hanya karena suara yang diucapkan berbeda. Biarkan ayam tetap bersuara demikian dan anjing juga bersuara demikian. Itu adalah hukum Allah, jangan memaksakan ayam untuk menggonggong dan jangan memaksa anjing untuk berkokok. Qod’i Allah ini berlaku dalam setiap ayat Alquran. Alif Lam Mim itu adalah kebenaran! Kebaikan! Keindahan! Namun setiap orang akan mempunyai tafsir masing-masing dalam memaknai ayat pertama Albaqarah tersebut. Jadi bukan lantas menyalahkan tafsir masing-masing orang hanya karena berdasarkan kebanaran berdasarkan versi salah satu orang.

Allah menyuruh kita berlomba dalam kebaikan, bukan kebenaran. Sedangkan yang sering diperdebatkan adalah sebuah kebenaran, melupakan esensi kebaikan. Bahkan secara tidak sadar, banyak istilah yang mengajarkan tentang kebaikan. Misalkan nominasi pemain terbaik, mahasiswa lulusan terbaik, penyanyi terbaik dan lainnya. Tidak ada istilah pemain terbenar, lulusan terbenar, dan penyanyi terbenar. Karena dalam hakekatnya kebenaran hanya milik Allah.

“Suatu saat di tengah kaum murtad akan dikirimkan sebuah generasi yang mengubah peradaban”.

Istilah murtad bukan hanya tentang orang islam yang keluar dari agama. Melanggar perintah dan menjalankan larangan Allah juga termasuk murtad. Misalkan orang diwajibkan salat, tapi dia tidak melakukan, berarti dia juga “murtad”. Dalam konteks budaya, murtad adalah hal yang seharusnya dilakukan tapi tidak dilakukan atau sebaliknya. Generasi tersebut adalah manusia yang sudah berhasil menaklukan nafsunya.

من عرف نفسه فقد عرف ربه

(Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya ia mengenal Tuhannya)

Maksud dari ungkapan tersebut dijelaskan oleh Imam Abu Hasan Syadzili: “Barangsiapa mengenal dirinya fakir, niscaya ia mengenal Tuhannya Maha Kaya, barangsiapa mengenal dirinya lemah niscaya ia mengenal Tuhannya maha kuat, barangsiapa mengenal dirinya tak kuasa niscaya ia mengenal Tuhannya maha kuasa, dan barangsiapa mengenal dirinya hina niscaya ia mengenal Tuhannya maha mulia” (Tanbih al-Masyi karya Syaikh Abdurrauf Assinkili)

Sehingga jika ada yang memfitnah, menuduh, dan menganiaya dirinya, dia tidak marah. Malah mendoakan kebaikan atas dirinya. Misalkan itu terlalu susah, maka minimal ada perasaan, “Sudah to, jangan merepotkan aku lagi. Kalau setiap saat kamu menyakitiku, berarti aku harus mendoakan kepada Allah atas dosamu, dan aku juga setiap saat memberikan maaf kepadamu”

Pencarian dalam kehidupan itu adalah keindahan. Maka puncak ibadah adalah khusuk. Khusuk itu adalah keindahan, dan keindahan dalam beribadah adalah cinta. Sehingga selalu rasakanlah perasaan cintamu kepada Allah. Dengan demikian kamu akan merasakan cinta kepada setiap makhluk ciptaan-Nya.

“Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam” – Jalaludin Rumi


(Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU)

2 tanggapan untuk “Lembar Maiyah: Halaman 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!