Sebuah Kritik atas Kecacatan dalam Pemahaman Toleransi dari Warga Nahdlatul Ulama

Nahdlatul Ulama dan toleransi. Kedua hal ini mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang tak dapat dipisahkan. Organisasi yang lebih akrab disapa NU ini memang menjunjung tinggi kesatuan di atas banyak perbedaan. Sudah sering kita melihat usaha para pemuda sampai para ulama yang bergelut dalam NU untuk senantiasa menjaga nilai persatuan di atas banyaknya keberagaman di negeri ini.

Bahkan banyak orang yang menganggap organisasi yang didirikan oleh Kiai Haji Hasyim Asy’ari ini sebagai bentuk dari pertahanan terakhir Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam menghadapi ancaman radikalisme yang makin berkembang. Sebuah anggapan yang cukup hiperbolis saya kira. Karena NU sendiri memiliki satu cacat besar dalam pemahamannya terhadap nilai toleransi.

Cacat tersebut terletak pada kebanggaan atas kesukuan yang dimiliki oleh para anggota Nahdlatul Ulama. Seperti yang kita ketahui, Nahdlatul Ulama memang berdiri dan memiliki basis tertinggi di pulau Jawa. Lebih dari itu, suku Jawa menjadi basis pemeluk tertinggi organisasi yang menganut paham islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah ini.

Baca Juga: Ikon dan Kesenian Budaya Menjadi Alat Memungut Harta di Jalanan

Apakah hal tersebut sesuatu yang salah?

Jawaban dari pertanyaan terakhir tentu bisa iya, bisa tidak. Dikatakan tidak salah, tentu karena Nahdlatul Ulama memang lahir dan tumbuh besar di antara suku Jawa. Maka tak heran hingga kini budaya Jawa (termasuk bahasa Jawa) selalu muncul dalam tiap dakwahnya. Tapi sebagai organisasi yang mengaku pemersatu bangsa, penjaga nilai toleransi, bahkan hingga benteng terakhir keberagaman NKRI, fanatisme kesukuan ini tentu bukan suatu hal yang baik.

Sebuah infografik dari nahdlatululama.id menyatakan bahwa 85 % warga NU ada di pulau Jawa. Sedangkan jumlah warga NU sendiri ada sekitar 57,33 juta jiwa. Jumlah yang fantastis bukan? Coba perhatikan berapa banyak ulama NU di media sosial yang berdakwah menggunakan bahasa Jawa. Mungkin hampir semuanya menggunakan bahasa Jawa. Bukankah data di atas menunjukkan betapa kesukuannya Nahdlatul Ulama ini?

Saya di sini bukan berbicara sebagai ahli ataupun orang yang sudah bergabung berpuluh-puluh tahun sebagai anggota dari ormas NU ini sendiri, melainkan sebagai orang yang selama hidupnya mengikuti amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah namun baru menyadari bahwa saya merupakan sosok yang NU kultural, bukan struktural. Tinggal di tanah perantauan agaknya membuat saya menyadari, meskipun organisasi ini kerap disebut organisasi Islam terbesar di Indonesia, masih banyak masyarakat di luar daerah berbasis suku Jawa yang mengetahui organisasi ini.

Hal ini bisa dibilang merupakan akibat dari betapa fanatiknya para pemuda NU terhadap kesukuannya. Hal ini pula yang menjadi salah satu pintu dari banyaknya radikalisme yang muncul di Indonesia. Karena saya meyakini masih banyak pemuda di luar sana yang bernasib seperti saya. Tiap hari menjalankan amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah tanpa mengetahui adanya Nahdlatul Ulama.

Baca Juga: Mengenal Syekh Subakir, Anggota Walisongo Generasi Pertama

Akan tetapi saya cukup beruntung. Lahir sebagai pemuda dari suku Jawa agaknya membuat saya memahami banyak ceramah yang disampaikan oleh banyak ustaz ulama dari Nahdlatul Ulama. Berbeda dengan mereka yang tak lahir maupun besar di antara suku Jawa. Bagaimana bisa mereka memahami isi dari ceramahnya apabila mengerti bahasanya pun tidak?

Karena hal itu lah pilihan jatuh pada ustaz baru yang fasih menggunakan bahasa Indonesia. Ustaz baru ini pun apabila ditilik secara kualitas pendidikan agamanya mungkin bisa dibilang di bawah kualitas para ustaz dari Nahdlatul Ulama. Akan tetapi karena tidak adanya pilihan, ustaz baru yang piawai menyampaikan dakwah dengan bahasa Indonesia yang baik inilah yang akhirnya menjadi pilihan.

Hasilnya mungkin kita semua sering melihat di sosial media, betapa banyak ustaz baru yang tak kompeten terhadap isi dakwahnya. Tentu masih segar di ingatan kita terkait ustaz dari tanah Sunda yang dengan enaknya mengatakan bahwa peringatan kelahiran Rasulullah adalah peringatan terhadap kekafiran Muhammad dalam satu ceramahnya. Atau sosok mualaf yang hampir selalu mengangkat topik khilafah dalam tiap dakwahnya. Warga NU pasti paham terhadap banyaknya ketidakkompetenan para ustaz baru dalam menyampaikan dakwahnya.

Akhirnya pembubaran kajian serta penolakan kedatangan mereka dalam mengisi ceramah pun digaungkan di berbagai tempat. Banyak warga NU yang mewajarkan hal tersebut, dan menyalahkan mereka atas konten ceramah radikalisme yang kerap mereka bawa. Akan tetapi warga NU sendiri seakan menutup mata (atau mungkin memang tidak merasa) atas kesalahan yang mereka buat. Banyaknya ustaz baru dengan pemahaman radikalisme juga menjadi dosa dari warga NU yang dalam tiap dakwahnya hampir selalu menggunakan bahasa Indonesia.

Baca Juga: Kangen Indonesia

Penolakan serta pembubaran kajian seperti ini tentu akan merusak stigma masyarakat umum. Tidak semua orang paham terkait konten radikalisme yang dibawakan oleh para ustaz baru ini, sehingga perlakuan seperti pembubaran atau penolakan inilah yang bisa dianggap masyarakat umum yang tak paham sebagai bentuk penyimpangan terhadap nilai toleransi yang selama ini Nahdlatul Ulama junjung. Dan hal tersebut saat ini bisa dibilang sudah terjadi di mana-mana.

Padahal sejatinya warga NU memiliki sebuah konsep Islam bertajuk Islam Nusantara. Konsep Islam yang mengambil sari-sari kebaikan budaya Indonesia tanpa menghilangkan unsur budaya itu sendiri. Istilah mudahnya adalah menjaga budaya Nusantara dengan meleburkan kebaikan Islam dalam budaya Nusantara itu sendiri. Ya, konsep besarnya adalah menjaga budaya Nusantara, bukan budaya Jawa.

Tentu menjaga dan memperkenalkan budaya Jawa juga diperlukan, apalagi untuk mereka yang berada di tanah perantauan. Namun apabila budaya Jawa tersebut terus dipertahankan tanpa memerhatikan situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang mayoritas bukan pengguna budaya Jawa, maka hal itu secara tak sadar akan membangun tembok pembatas antara mereka yang NU dan Jawa dengan mereka yang bukan.

Dan tembok pembatas tersebut adalah sebuah cacat atas pemahaman terhadap toleransi dari warga NU sendiri. Sebuah cacat yang tak dapat dimaafkan dengan mudah mengingat betapa dimanfaatkannya hal tersebut untuk penyebaran radikalisme di Indonesia.


Achmad Zulfikar – Seniman NU Regional Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!