Categories: SimponiWarganet

Kosmopolitanisme dalam Prespektif Islam

Share

Di dunia ini tentu banyak hal yang sering kita jumpai salah satunya, yaitu sebuah perbedaan. Manusia diciptakan dengan berbagai macam perbedaan, baik itu perbedaan fisik, maupun non fisik. Oleh karena itu, sebagai manusia kita harus mempunyai kesadaran untuk bisa menerima sebuah perbedaan dan menghargai akan sebuah perbedaan. Kosmopolitanisme muncul sebagai sebuah pemikiran bahwa kita hidup tidak hanya di negara yang kita tempati saja, tetapi menjadi sebuah bagian dari masyarakat dunia. Kosmopolitanisme mempunyai gagasan untuk menyadarkan manusia bahwa semua orang harus saling bekerja sama dan saling menghormati di dunia ini. Yang dengan itu maka akan menumbuhkan rasa adil dan sejahtera.

Kosmopolitanisme merupakan sebuah paham yang muncul pada 25 abad yang lalu dari negeri Yunani. Bapak kosmopolitan modern yang terkenal adalah Immanual Kant, beliau menyatakan bahwa “saya dari bumi, dan saya juga bagian dari masyarakat dunia.”

Beliau juga menegaskan bahwa semua manusia adalah sama-sama bagian dari masyarakat dunia. Tidak menganggap lagi adannya sebuah perbedaan baik perbedaan negara, agama, ras, dan budaya. Difference yang menjadi nilai dasar paham ini tidak mengharuskan kita untuk saling menghina, saling menghujat, bahkan saling berperang. Toleransi merupakan senjata utama dalam memandang sebuah perbedaan, karena dalam toleransi kita dituntut untuk menghargai dan menghormati akan perbedaan. Perbedaan merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang perlu kita syukuri bersama, agar kita bisa hidup berdampingan. Hidup penuh kedamaian, penuh ketenangan, sehingga kita dapat menjalankan kewajiban agama masing-masing.

Baca Juga: Menerima Perbedaan adalah Cerminan Asli Bangsa Indonesia

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. yang mampu hidup secara berdampingan dengan umat agama lain atupun bangsa lain. Rasul Saw. tidak pernah mempertentangkan sebuah perbedaan. Bahkan Rasul Saw. sendiri membantu dan menolong orang yang berbeda dengannya, sekalipun orang tersebut mencaci, mengolok-ngoloknya setiap hari. Rasul Saw. tidak pernah punya rasa dendam sedikit pun kepada orang tersebut. Itulah pelajaran yang dapat kita ambil agar kita senantiasa bisa menghargai perbedaan, mau menolong dan membantu kepada orang yang berbeda dengan kita. Sekalipun hal itu rasanya sulit, tetapi tetap harus kita latih dan biasakan dari hal terkecil, tak perlu tinggi-tinggi untuk melatih itu, cukup melatih dengan teman dan sahabat sekitar yang tentunya memiliki perbedaan dengan kita.

Negara kita tercinta Indonesia yang memiliki ribuan bahasa dan budaya, serta bermacam-macam agama telah mampu memberikan contoh kepada bangsa lain. Bahwa masyarakat di negara kita mampu hidup berdampingan dan nyaman di tengah-tengah banyaknya perbedaan, sangat jarang ditemukan kasus yang dilatarbelakangi oleh perbedaan, kalaupun ada tentu sangat sedikit. Hal itu merupakan sebuah kenikmatan dari Allah Swt. yang harus kita pertahankan selama-lamanya. Sehingga anak cucu kita kelak bisa menikmati indahnya bangsa ini.

Kita itu satu dan sama, yaitu sama-sama makhluk Allah Swt. Sudah seyogyanya kita jadikan sebuah pebedaan sebagai wasilah atau jalan untuk mengetahui dan memahami akan kebesaran dan keindahan Allah Swt. Sebuah perbedaan, baik perbedaan yang kecil maupun besar, jangan sampai menjadikan kita untuk saling mencaci, menghina, dan juga meremehkan orang lain. Karena belum tentu orang yang kita hina, caci, dan remehkan tersebut lebih rendah dari kita. Bisa jadi justru lebih mulia dari kita.

Oleh karena itu, Islam sangat melarang keras hal tersebut. Pembeda antar manusia adalah hanya tingkat ketakwaan dan ibadah kepada Allah Swt. Oleh sebab itu kita dituntut untuk terus meningkatkan ketakwaaan dan ibadah kepada Allah Swt. Jadikan sebuah perbedaaan sebagai kekuataan persatuan terbesar kita dan tentunya untuk lebih mengenal akan keindahan dan kebesaran Allah Swt. Dan Jangan sampai perbedaan menghancurkan hubungan kita dengan sesama.


Muhammad Alvin Jauhari – Ketua PK MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya