Kok Tidak Dahsyat?

Apa harus nunggu tanggal 2 Desember, biar lebih meriah lagi?

Saya bukanlah orang yang begitu fasih memahami dalil atau hadits. Apalagi persoalan negara dan huruf arab yang disablon. Saya hanyalah seorang bujang lapuk yang selalu ingin berfikir dewasa dan bijaksana. Meskipun kadang kebijaksanaan saya terpinggirkan oleh emosi dan egoisme memenangkan sebuah keyakinan.

Kadang kita suka memaksakan keyakinan (kebaikan menurut personal) untuk bisa diikuti oleh orang lain. Tidak mau menerima kebaikan dari sudut pandang lain. Sedangkan kita selalu diperebutkan tentang kebenaran yang sebenarnya kita tidak sedang tahu kebenaran yang sesungguhnya. Semua hanya persepsi, opini, dan kebenaran semu yang dipaksakan.

Tanggal 26 Oktober kemarin. Indonesia, khususnya umat muslim, melakukan aksi serentak untuk demo seperti tahun kemarin yang sukses menghukum gubernur DKI jakarta ketika itu. Tema dan motifnya sama – penistaan agama – namun anehnya tidak sedahsyat 212 yang lalu. Kenapa?

Tentu akan banyak faktor yang perlu dianalisis. Kalau dalam koridor kemungkinan; mungkin yang menistakan muslim, mungkin alasan penistaan agama kurang kuat, mungkin merasa tersadarkan dampak dari 212, mungkin, mungkin dan kemungkinan lainnya. Jika kita sudah bisa mengendapkan ego saling menang dan ingin mengalahkan, mungkin konflik tidak serumit ini.

Mari kita belajar. Kenapa sebegitu fanatik ingin memperjuangkan islam? Kemudian akan mudah dijawab. “Karena aku islam, aku ingin membela agamaku, aku tidak terima agamaku dilecehkan, aku ingin memerangi orang yang memusuhi islam”. Dari pertanyaan medasar tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan manusia di dunia adalah untuk membela agamanya.

Kita sedikit naikkan level pemahaman secara konsep agama. Apa dampak kalian terhadap agama Anda yang dilecehkan orang lain?. Tentu dalam tingkatan pertanyaan kedua ini akan sulit dijawab. Karena misalpun Tuhan murka, itu ya kepada yang melecehkan agamanya. Demikian yang membuat saya begitu menganggumi Gus Dur dalam petikan sarkasnya. “Tuhan tidak perlu dibela. Dia sudah Maha Segalanya. Belalah meraka yang diperlakukan tidak adil”. Bahkan sering saya menulis, Kenapa kita merasa lebih besar dari pada Tuhan dengan pemahaman kata membela?! Sedangkan kita selayaknya yang butuh pembelaan dari Tuhan

Saya belum melanjutkan pada pertanyaan berikutnya. Karena kalau masih ribut masalah iktilafiyah, kita masih sangat amat jauh untuk hampir mendekati garis finis perjalanan menuju Tuhan.

Sebenarnya saya sudah muak membahas ini. Lha wong sebelum demo masal saja saya pernah ngetwit, “Halah, paling sebulan lagi isunya hilang tertiup angin sepoi-sepoi”. Mungkin karena berkahnya menjadi orang Indonesia, diberikan kekuatan ‘feeling’ maha pener. Jadi saya masih meyakini banyak motif dalam kasus kemarin pembakaran bendera tersebut.

Namun sayangnya masih banyak yang “mabuk” dalam lingkaran kasus ini. Teman yang semula mesra, tiba-tiba menjadi anjing dan kucing. Mengeluarkan argumen masing-masing yang tidak jelas pada substansi pembakaran bendera. Misal boleh memainkan logika, saya akan menjawab beberapa keresahan teman-teman semua. Namun sebelumnya tolong lepaskan sifat antipati terhadap orang atau kelompok lain dulu.

Pertama, kalau kita memperdebatkan soal kasus pembakaran bendera dengan dalil. Maka semua akan berdebat kolot, karena mempunyai dasar masing-masing. Yang seharusnya dipahami adalah bukan saling menolak dalil yang ditawarkan. Tapi memahami dan merenungi setiap dalil yang disajikan. Benarkah ada spesifik haramnya membakar bendera tauhid?

Kedua, kita masuk dalam pemahaman bendera tauhid. Oke, saya akan menyetujui pernyataan tentang istilah bendera tauhid. Adalah bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Seperti halnya bendera HTI, ISIS, Al-Qaeda, dan negara super islami Arab Saudi. Jadi kalau kita sama-sama merasa bersalah dan saling memahami, tentu tidak akan pilih kasih dalam membenci. Ketika bendera tauhid (bendera negara arab) dijadikan celana dalam, bra, dan sepatu sebagai merk brand. Seharusnya semua sepakat marah kepada muslim Yaman karena membakar bendera Arab Saudi karena negaranya dijajah oleh kerajaan arab. Kita juga tidak boleh menutup mata dengan mayoritas muslim yang membakar bendera tauhid (bendera ISIS) karena melakukan terorisme di berbagai negara. Kenapa yang begitu heboh hanya ketika kasus pembakaran oleh banser?

Ketiga, membedah konsep bendera HTI. Sekali lagi tolong lepaskan jerak kebenccian yang terlalu kronis dalam diri kita masing -masing. Pihak satu menuding itu bendera HTI yang dikibarkan di acara HSN, pihak lainnya tidak mengakui bahwa itu bendera HTI. Lucu ketika perdebatan masalah bendera sudah masuk ke dalam detail bendera, sehingga melupakan makna tauhid itu sendiri. Ada yang memperbesar gambar dan menunjukkan perbedaan harokat dalam bendera HTI dan yang dibakar. Jadi hanya gegara dhomah mereka tidak mengakui bendera HTI. Sedangkan substansi dari makna bendera adalah makna yang terkandung. Seperti Gus Muawafiq bilang “Sampean mau menginjak kain warna merah dan putih tidak apa-apa, tapi kalau kalian menginjak bendera merah putih, itu yang jadi masalah. Jadi makna yang terkandung dalam bendera itu yang semestinya dipahami”. Dalam perdebatan ini, kewarasan tiba-tiba menghilang karena kekolotan prinsip tidak mau kalah. Jadi misalpun semua tulisan tauhid mirip dengan lambang HTI, sedangkan ukuran bendera kurang 1 mm. Maka mereka juga tidak akan mengakui.

Keempat, mencintai tauhid. Sampean silahkan saja mengekspresikan kecintaan kepada kalimat tauhid. Termasuk tahlilan rutin setiap malam jumat, menyablon kalimat tauhid di baju, topi, celana, dan aksesoris lainnya. Bahkan mengibarkan bendera tauhid. Tapi jangan terus dimaksudkan untuk memperumit konflik sesama muslim. Jika yang kalian cintai kalimat tauhid, tentu Anda tidak akan membuat bentuk kalimat tauhid yang menyerupai bendera HTI. Kecuali memang kalian menyetujui adanya makar, perubahan sistem di Indonesia, dan pertempuran luar biasa seperti timur tengah. Jadi mulai besok, bisa saja kalian mengibarkan bendera warna hijau atau biru bertuliskan kalimat tauhid. Agar banser tidak langsung emosi, pun demikian kalian tetap bisa mengekspresikan kegilaan terhadap kalimat tauhid.

Kelima, kebiasaan manusia milenial. Terburu-buru menyimpulkan kejadian. Sok memahami isi tulisan dari judul saja. Sok berkomentar dari potongan video ceramah. Dan sok tukang menyimpulkan lainnya. Kalau diruntut kejadian pembakaran bendera tersebut. Seharusnya kita bisa dewasa berfikir sebab-akibat atas tindakan tersebut. Ada peraturan jelas tidak boleh membawa bendera selain merah-putih. Ada banyak pihak seharusnya yang bertanggungjawab dalam kasus tersebut, banser yang membakar, yang memvideo, yang sengaja membawa bendera tauhid, dan polisi yang bisa kecolongan dalam peraturan yang disepakati. Jadi seharusnya tidak pilih kasih dalam membenci dan mencaci.

Kelima, terakhir – analogi – miring. Oke, kita sepakati bahwa pembakaran bendera ditafsiri sebagai pelecehan terhadap kalimat tauhid. Kemudian semua melakukan aksi demo di Jakarta dan beberapa titik daerah di Indonesia. Dari banyak gambar yang tersebar, bendera tauhid banyak yang diseret, ditaruh di atas comberan, diinjak, disablon dan diduduki, dan banyak “pelecehan” lainnya. Coba sedikit merenung, tindakan mereka itu termasuk pelecehan atau pembelaan atas nama kalimat tauhid?. Jika boleh berandai seharusnya banser dan seluruh nahdliyin juga bisa melakukan aksi balasan “AKSI BELA TAUHID” karena diinjak, diduduki, diseret, ditaruh disembarang tempat. Tapi jika usulan tersebut saya lemparkan kepada kalian (yang anti-banser), maka akan menjawab, “Jangan nanti malah semakin memecah belah umat”.

Demikian kesadaran dalam berlogika. Kadang butuh analogi untuk memahamkan sesuatu yang sebenarnya simple untuk dipahami. Tidak perlu perang dalil. Kalau tidak ada motif tertentu dan tulus ikhlas karena Allah. Islam sejatinya akan damai dan mempesona. Mari bergandengan untuk menjaga ukhuwah islamiyah yang terbakar karena ketidakpahaman menyelerasakan konsep rahmatan lil’alamin.


Joko Yuliyanto – Seni Tablig Seniman NU

2 tanggapan untuk “Kok Tidak Dahsyat?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!