Kiai Melati

Merupakan salah satu ulama yang berasal dari Kerajaan Mataram Kuno yang diyakini menjadi salah satu penyebar Agama Islam di Klaten. Putra dari Ki Penjawi, seorang pujangga dari Kerajaan Mataram. Kiai Melati tinggal di Dukuh Sekalekan yang diambilkan dari nama belakangnya, Melati Sekolekan. Konon, semasa hidupnya, Kiai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan sakti. Bersama adiknya, Kiai Donorekso, Kiai Melati menyebarkan agama Islam di tanah Klaten yang kala itu masih menjadi hutan belantara.

Di Dukuh Sekalekan, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah ini Kiai Melati dimakamkan. Berada di jantung Kota Klaten. Makam kuno itu berada tak jauh dari Alun-alun Klaten. Untuk mencapainya, seseorang harus melintasi sebuah jalan perkampungan kecil yakni Jl Anggrek. Permakaman kuno ini terdiri atas puluhan nisan yang tersusun dari tumpukan batu bata. Sebagian besar nisan-nisan itu sudah mulai rusak, termakan usia. Di atas permakaman itu berdiri sebuah pohon asam cukup besar dan rindang yang sudah terlihat dari kejauhan. Di atas permakaman itu, Kiai Melati dimakamkan tak jauh dari makam adiknya, Kiai Donorekso.

Menurut cerita yang berkembang, Kiai Melati menjadi salah satu cikal bakal nama Klaten. Ada dua versi yang menyebutkan tentang asal mula nama Klaten. Pertama, nama Klaten berasal dari kata kelati atau buah bibir. Kata kelati kemudian mengalami perubahan menjadi Klaten yang sejak dulu merupakan daerah yang terkenal kesuburannya.

Sedangkan versi kedua menyebutkan Klaten berasal dari kata melati. Kata Melati kemudian berubah menjadi Mlati dan menjadi kata Klati. Lalu, untuk memudahkan ucapan, kata Klati berubah menjadi Klaten. Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Sekretariat Daerah Kabupaten Dati II Klaten pada 1992/1993.

Melati adalah nama seorang kyai pada masa Kerajaan Mataram Kuno yang datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Kiai Melati Sekolekan, menetap di tempat itu dan semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya sehingga daerah itu menjadi Klaten saat ini.

Baca Juga: KH. Muhammad Muslim Rifai Imampuro

Sejarah Kabupaten Klaten

Sejarah Klaten tersebar diberbagai catatan arsip-arsip kuno dan kolonial, arsip-arsip kuno dan manuskrip Jawa. Catatan itu seperti tertulis dalam Serat Perjanjian Dalem Nata, Serat Ebuk Anyar, Serat Siti Dusun, Sekar Nawala Pradata, Serat Angger Gunung, Serat Angger Sedasa dan Serat Angger Gladag. Dalam bundel arsip Karesidenan Surakarta menjadikan rujukan sejarah Klaten seperti tercantum dalam Soerakarta Brieven van Buiten Posten, Brieven van den Soesoehoenan 1784-1810, Daghregister van den Resi dentie Soerakarta 1819, Reporten 1787-1816, Rijksblad Soerakarta dan Staatblad van Nederlandsche Indie. Babad Giyanti, Babad Bedhahipun Karaton Negari Ing Ngayogyakarta, Babad Tanah Jawi dan Babad Sindula menjadi sumber lain untuk menelusuri sejarah Klaten.

Cerita Kiai dan Nyai Mlati dianggap sebagai sumber terpercaya yang diakui sebagai cikal bakal kampung dan asal muasal nama Klaten yang konon tinggal di kampung Sekalekan. Baik sumber arsip kolonial, arsip kuno maupun manuskrip Jawa ternyata saling memperkuat dan melengkapi dalam menelusuri sejarah Klaten. Cerita Kiai dan Nyai Mlati dianggap sebagai sumber terpercaya yang diakui sebagai cikal bakal kampung dan asal muasal nama Klaten yang konon tinggal di kampung Sekalekan. Kedua abdi dalem Kraton Mataram ini ditugaskan oleh raja untuk menyerahkan bunga Melati dan buah Joho untuk menghitamkan gigi para putri kraton (Serat Narpawada, 1919:1921).

Guna memenuhi kebutuhan bunga Melati untuk raja, Kiai dan Nyai Mlati menanami sawah milik Raden Ayu Mangunkusuma, istri Raden Tumenggung Mangunkusuma yang saat itu menjabat sebagai Bupati Polisi Klaten, yang kemudian dipindah tugaskan istana menjadi Wakil Patih Pringgalaya di Surakarta. Tidak ditemukan sumber sejarah tentang akhir riwayat Kiai dan Nyai Melati. Silsilah Kiai dan Nyai Melati juga tidak diketahui. Bahkan penduduk Klaten tidak ada yang mengakui sebagai keturunan dua sosok penting ini.

Sejarah Klaten juga dapat ditelusuri dari keberadaan candi-candi Hindu, Budha maupun barang-barang kuno. Asal muasal desa-desa kuno tempo dulu menunjukan keterangan terpercaya. Desa seperti Pulowatu, Gumulan, Wedihati, Mirah-mirah maupun Upit. Peninggalan atau petilasan Ngupit bahkan secara jelas menyebutkan pertanda tanggal yang dimaknai 8 November 66 Maeshi oleh Raden Rakai Kayuwangi.

Berdirinya Benteng atau loji Klaten di masa pemerintahan Sunan Paku Buwana IV mempunyai arti penting dalam sejarah Klaten. Pendirian benteng tersebut peletakan batu pertamanya dimulai pada hari sabtu Kliwon, 12 Rabiulakir, Langkir, Alit 1731 atau sengkala Rupa Mantri Swaraning Jalak atau dimaknai sebagai tanggal 28 Juli 1804. Sumber sejarah ini dapat ditemukan dalam Babad Bedhaning Ngayogyakarata dan Geger Sepehi. Catatan sejarah ini oleh pemerintah Kabupaten Klaten melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2007 sebagai Hari Jadi Kabupaten Klaten yang diperingati setiap tahun.

Lokasi makam cukup dekat dengan jantung kota Klaten (alun-alun). Sekitar 5-10 menit menuju makam. Biasanya peziarah parkir di masjid “Joglo” di kampung Sekalekan. Setelah itu jalan sekitar 2 menit menuju makam. Seperti pemakaman umum, namun saat ini sudah mulai direnovasi sehingga tampilan lebih menarik. Di dekat makam kiai melati ada pendopo tempat juru kunci makam.

 

Referensi dari Solopos, website klaten, dan lainnya.

 

*Jika ingin berziarah ke makam KH. Muhammad Muslim Rifai Imampuro bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau Seniman NU Sub Regional Solo Raya


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!