Categories: opiniSimponi

Kiai Kampung Idolaku

Share

Gerimis sore itu begitu nyaring terdengar. Jalan becek, angin meniup ke kanan kiri, suara motor tua itu melaju dengan perlahan. Kiai kampung itu tidak peduli dengan cuaca, asalkan bisa hadir tepat waktu di langgar untuk mengajar santri dengan kitab kuning, dialah kiai kampung idolaku.

Entah apa yang membuatnya begitu semangat untuk mengajar anak-anak di dusun itu. Dibayar juga tidak, popularitas juga tidak seberapa, paling hanya dimintai jadi imam zikir tahlil kalau ada orang yang meninggal. Pakaiannya yang seadanya, bekerja juga sebisanya. Dia yang sungkan disebut kiai, tapi kami begitu yakinnya menganggapnya kiai. Bukan lantaran keluasan ilmu kitabnya, melainkan juga sikapnya kepada masyarakat yang begitu takzim dan ikhlas membantu.

Sematan gelar itu memang bukan untuk pamer di media sosial atau televisi. Beliau tetap bersahaja seperti manusia lainnya. Merasa bodoh akan beberapa hal yang memang beliau tidak kuasai, tidak buru-buru menyalahkan orang lain, dan utamanya tidak melulu ingin terkenal dan dihormati banyak orang. Pada akhirnya semua orang akan membentuk konsensus untuk menghormatinya dan menyematkan gelar kiai atas segala pengorbanan dan jasanya.

Idola Media

Disadari atau tidak, kita begitu mengidolakan tokoh karena peran media. Mereka yang menggemari pemain sepakbola, mereka yang menggemari artis sinetron, menggandrungi band musik, hingga tokoh ulama yang kebetulan sering tersiar di media daring. Intensitas tersebut yang secara tidak langsung mempengaruhi konsep kegemaran kita terhadap seseorang.

Andainya semua kiai atau ulama mendapatkan porsi yang serupa, pasti akan banyak pilihan untuk mengidolai tokoh ulama. Sayangnya media tidak cukup adil untuk meliput kecakapan ilmu kiai kampung dan kiai ciptaan media. Semakin banyak namanya disebut di media, maka akan semakin populer. Kemudian akan banyak yang mencari tahu biografinya dan mengikuti kajiannya.

Jika sudah taklid kepada sosok yang diidolakan, maka biasanya sikap fanatisme tidak karuan menjadi hal yang lumrah. Kiai kampung yang banyak mengajarkan sikap andap asor tersisih eksistensinya. Mereka yang berjuang dari akar rumput, mengisi majelis taklim ibu-ibu, mengajar iqra’ anak-anak, dan mengajari kitab kuning ala pondok pesantren sama sekali tidak dilihat oleh media. Mereka yang berjuang menyebarkan akidah, fikih, dan akhlak tidak diidolai oleh para pecandu media.

Mereka lebih nge-fans dengan ustaz atau kiai yang sering muncul di media sosial. Bahkan rela pergi ke luar kota hanya untuk mengikuti pengajian akbar beliau yang berdurasi kurang dari 2 jam. Sedangkan kiai kampung yang memiliki perjuangan lebih untuk mengajarkan agama Islam tidak begitu diminati hanya karena kurangnya media yang mengangkat eksistensinya.

Padahal kalau dipikir ustaz atau kiai cetakan media yang kita tidak terlalu mengenalnya itu bisa saja tidak sebijak kiai kampung. Baik dari segi keluasan ilmu dan juga akhlaknya kepada sesama. Seolah kita lebih bangga mengidoali seseorang yang tidak begitu dikenal daripada seseorang yang setiap hari bisa menjadi teladan bagi kehidupan kita.

Baca Juga: Ngaji Jawatimuran, Benteng Keimanan Kaum Pedesaan

Kiai Bayangan

Sampai pada akhirnya saya merenung tentang kisah para wali yang sengaja tidak ingin diketahui keberadaanya. Seperti halnya kisah Nabi Khidir. Mereka yang tidak haus popularitas dan kekayaan bisa diundang kesana-kemari. Kiai kampung salah satunya, yang mungkin sudah puluhan tahun mengajar ngaji untuk berbagi ilmu selama di pondok pesantren.

Tidak banyak yang mengetahui, tidak banyak yang mengikuti, tidak banyak muncul di media, tapi mereka selalu ada untuk masyarakat. Mengajarkan mana yang baik dan buruk. Memberikan pondasi akidah dan akhlak. Menjadi benteng pertahanan iman dari sikap yang justru melenceng dari konsep agama Islam.

Bahkan kita (generasi milenial) yang menguasai pasar media tidak peka terhadap keberadaan kiai kampung. Kita menjadi manusia yang acuh tak acuh terhadap kealiman kiai kampung. Membiarkan ustaz atau kiai yang mungkin kapasistasnya jauh dari kiai kampung melenggang menguasai jagad dunia maya. Kita lalai tentang perjuangan mulia kiai kampung. Merasa sudah aman dengan tokoh idola kita masing-masing yang sebenarnya juga terbentuk dari konsep media itu sendiri.

Barangkali kita butuh sedikit merenung, semoga ada hasrat untuk bersama-sama kembali mengangkat eksistensi dan popularitas kiai kampung. Minimal bisa mengenalkan dan menghargai akan perjuangan kiai kampung yang tiada lelah mengajar siang dan malam untuk “mengislamkan” masyarakat.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU