Categories: FolkorMakam

KH. Syekh Ahmad Mutamakkin

Share

Kajen adalah salah satu desa di Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Letak Kajen kira-kira 18 km dari kota Pati ke arah utara. Luas Desa Kajen hanya sekitar 63 hektare. Desa kajen selalu menyimpan keunikan tersendiri. Desa Kajen terkenal dengan tokoh karismatik yang menjadi tauladan masyarakat sekitar maupun di luar daerah. Beliau adalah sosok KH. Syekh Ahmad Mutamakkin. Dalam perjuangan dakwahnya menyebarkan Islam di Kajen, beliau didampingi sosok-sosok yang berpengaruh dalam hidup beliau. Mulai dari keluarga sampai dengan murid-murid beliau. Ada pun tokoh-tokoh tersebut dimakamkan di daerah Kajen dan sekitarnya.

Secara Geografis, Kajen terletak diketinggian 300 m dari permukaan laut di daerah lereng pegunungan hingga ke batas permukaan laut di daerah tepi pantai. Kajen dibentuk oleh lereng Gunung Muria yang berbukit-bukit, lembah kaki yang subur, dan tepian pantai yang landai dengan perairan laut yang tenang.

Baca Juga : Shonhaji (Mbah Bolong)

Lokasi Makam KH. Ahmad Mutamakkin

Makam KH. Syekh Ahmad Mutamakkin atau masyarakat sekitar menyebutnya dengan Pesarean berada di tengah-tengah pemukiman Desa Kajen tepatnya sebelah barat Masjid Jami’ Kajen. Waliyullah Syeikh Ahmad Mutamakkin adalah sosok yang menyebarkan agama Islam di wilayah Pati sekitar abad 17. Menurut masyarakat setempat beliau adalah cicit Jaka Tingkir, dari bapak yang bernama Pangeran Benawa II. Banyak murid-murid dan keturunan KH. Syekh Ahmad Mutamakkin yang menjadi ulama-ulama besar di zamannya. Murid-murid beliau di antaranya adalah Syekh Ronggo Kusumo, Syekh Badar, Syekh Mizan, dan masih banyak murid beliau. Sedangkan keturunannya antara lain Syekh Hendro Muhammad, KH. Bagus, KH. Abdussalam, KH. Nawawi, KH. Sirodj, KH. Abdullah Salam, KH. Baidlowi Sirodj, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Bisri Syansuri, KH. Sahal Mahfudz, Gus Dur, dan lain-lain.

Setiap hari makam KH. Syeikh Ahmad Mutamakkin tidak pernah sepi. Selalu ada yang berziarah ke makam beliau. Julukan Kajen sebagai kota santrinya Pati juga menambah ramai makam beliau. Setiap hari banyak santri dari pondok-pondok disekitar Kajen yang ramai berdatangan ke Pesarean dengan melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Di sekitar kompleks makam KH. Syekh Ahmad Mutamakkin juga terdapat makam keturunan beliau dan ulama tersohor Kajen seperti Mbah KH. Baedlowi Sirodj, KH. Sirodj, KH. Sahal Mahfudz, Mbah Sholeh dan masih banyak lagi.

Pada setiap 10 Syuro/Muharram, pengurus makam menyelenggarakan Haul KH. Syekh Ahmad Mutamakkin yang dihadiri ribuan peziarah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Dengan berbagai rangkaian acara seperti khotmil qur’an bin-nadhor, khotmil qur’an bil ghoib, pembacaan selawat, pembacaan tahlil, dan berbagai rangkaian acara lainnya.

KH. Syekh Ahmad Mutamakkin dikenal juga dengan nama Ki Cebolek. Beliau adalah seorang faqih yang disegani karena pandangan jauh dan luas. Sebagai guru besar agama, beliau berdakwah dari satu tempat ke tempat lain yang beliau anggap tepat sasarannya. Melihat penduduk di beberapa tempat yang berlainan bahasa dan adatnya, dalam memilih daerah-daerah di pantai utara, KH. Syakh Ahmad Mutamakkin membuat pertimbangan-pertimbangan yang matang terlebuh dahulu.

Asal Muasa KH. Ahmad Mutamakkin

Menurut sebuah sumber, KH. Syekh Ahmad Mutamakkin berasal dari Persia (Zabul), Provinsi Kasan, Iran Selatan, sebagaimana pernah diungkapkan oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam acara pengarahan PBNU pada Munas RMI. Namun menurut penyelidikan dan keterangan para ahli yang sementara ini lebih diakui kevalidannya, daerah asal beliau termasuk wilayah Tuban Jawa Timur. Perlu dijelaskan di sini bahwa nama Cebolek memang terkenal di kawasan Tuban Jawa Timur sebagaimana dituturkan dalam Serat Cebolek.

Adapun sejarah kedatangan beliau menurut catatan ahli Tarikh, pada waktu beliau melakukan misi daKwah menuju ke arah barat sampai ke Desa Kalipang, suatu daerah yang terletak di Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang. Disana beliau menetap beberapa lama untuk berdaKwah dan sempat mendirikan sebuah masjid. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan sampai ke Cebolek, sebuah desa di Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati yang pada masa itu masih termasuk Kecamatan Juwana. Setelah bermukim di Cebolek beberapa lama, beliau kemudian hijrah ke Kajen, desa yang terletak di sebelah barat Desa Cebolek.

Baca Juga : Mas Alwi bin Abdul Aziz

Sementara ada versi lain mengatakan, pada saat beliau melakukan ibadah haji ke Tanah Suci, beliau diantar dan dibawa oleh murid beliau dari bangsa jin. Sewaktu pulang ditengah perjalanan beliau dipindahkan ke seekor ikan mladang yang disangka sebatang kayu. Di tengah samudera beliau dibawa ikan tersebut, kemudian didaratkan pada sebuah pantai yang terletak di daerah Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati. Selanjutnya beliau bertempat tinggal di sebuah desa yang kemudian diberi nama Cebolek dan terakhir beliau bertempat tinggal di Desa Kajen. Kiranya dari sekian banyak tempat itu beliau melihat Desa Kajen sebagai daerah yang strategis letaknya. Kemudian dengan hati yang mantap beliau memilih Kajen sebagai tempat tinggal dan tempat berdakwah.

Sebagai guru besar agama, beliau menyebarkan agama dan membuka lapangan pendidikan Islam untuk mencetak Mubaligh dan kader-kader agama yang nantinya akan menyambung perjuangan beliau.

Sumber:
1 KH. Abdurrohman Wahid, Pidato Munas RMI IV (Robitotul Ma’ahidil Islamiyyah)
2 Prof. Dr. Purbatjaroko, kepustakaan Jawa “Kitab Cebolek” 174

Silsilah Keturunan

Terdapat beberapa versi tentang silsilah asli KH. Syekh Ahmad Mutamakkin, menurut beberapa catatan dan keterangan dari beberapa sesepuh, konon beliau ini mempunyai tali lahir maupun batin dengan sultan-sultan dan guru besar agama yang bersambung pada Sultan Bintoro (Raden Patah). Dipercaya pula KH. Syekh Ahmad Mutamakkin masih mempunyai garis keturunan dengan Raja muslim Jawa Jaka Tinggir dan Raja Majapahit Brawijaya IV. Beberapa urutan silsilah yang berhasil dikumpulkan dari beberapa catatan yang sama ialah:

Raden Patah yang menjadi Sultan Kerajaan Islam di Demak mempunyai putra Sultan Trenggono. Sultan Trenggono mempunyai menantu Sultan Hadi Wijaya (Joko Tingkir, keturunan Lembu Pateng-Prabu Brawijaya VI). Sultan Hadi Wijaya mempunyai putra Condroningrat (menurut sebuah keterangan dikenal pula dengan nama Sumohadiningrat) alias Pangeran Benowo (S.Pakuncen). Sumohadiningrat mempunyai putra Condronegoro atau Sumohadinegoro. Raden Condronegoro mempunyai putra KH. Syekh Ahmad Mutamakkin.

Pendapat lain mengatakan, bahwa darah keturunan ayah beliau dari Sultan Pajang Jawa Tengah, sedang darah keturunan ibunya dari Sayid Aly Bejagung, Tuban Jawa Timur. Sayid Aly Bejagung mempunyai putra bernama Raden Tanu, kemudian Raden Tanu mempunyai putri yang di antaranya adalah ibu dari KH. Syekh Ahmad Mutamakkin. Wallahu A’lam.

Sumber:
-Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Kajen,_Margoyoso,_Pati
-Tim PKM-M Universitas Diponegoro dan Karang Taruna Sumohadiwijayan Kajen. 2018. Buku Topografi Kajen. Semarang: Center for Asian Studies Pusat Studi Asia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro Gedung B Fakultas Ilmu Budaya

* Jika ingin berziarah ke Makam mbah KH. Ahmad Mutamakkin bisa menghubungi koordinator Seniman NU Jawa Tengah atau sub Kota Wali

Novita Indah P. – Seni tablig Seniman NU