Categories: FolkorMakam

KH. Mufid Mas’ud

Share

Suara gemericik air yang mengalir pada kali, sayup-sayup suara lantunan Alquran, dan udara yang sejuk dan damai pastilah dirasakan setiap orang yang berziarah ke makam tersebut. Makam tersebut adalah makam KH. Mufid Mas’ud, pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Terletak di Dusun Candi, Sardonoharjo, Ngaklik, Sleman, Yogyakarta.

Bentuk dari bangunan makam ini adalah rumah panggung dan dikelilingi oleh banyak tanaman. Suasananya yang nyaman dan asri menjadikan banyak santri betah berlama-lama disitu. Apabila diperhatikan, banyak santri yang menggunakan tempat itu untuk belajar dan juga menderes hafalan Alquran. Menambah kesan sejuk dan damai dari tempat ini.

KH.Mufid Mas’ud adalah pendiri dari Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta. Beliau mendirikan pesantren ini pada tahun 1975. Dengan niat awal untuk menyediakan pondok bagi orang-orang yang ingin menghafalkan Alquran. Berdiri di atas tanah seluas 2000 meter persegi, dengan bangunan awal yaitu satu gedung yang difungsikan untuk tempat tinggal dilantai satu, dan mushola di lantai dua.

Lahir dari keluarga yang agamis, orang tua beliau sangat memperhatikan pendidikan beliau. Pendidikan formal pertama beliau dimulai pada tahun 1937, dengan bersekolah di Madrasah Ibtidaiyyah Manbaul Ulum cabang Solo. Lembaga ini adalah Lembaga Pendidikan yang didirikan oleh Paku Buwono X.

Pada tahun 1942, beliau melanjutkan belajar di Pondok Pesantran Krapyak Yogyakarta dengan mengaji pada KH. Abdul Qodir Munawwir. Dilanjutkan pada tahun 1945, beliau menuruti anjuran guru beliau, KH. Sofwan untuk melanjutkan hafalan Alqurannya pada KH. Muntaha, Wonosobo. Beberapa tahun kemudian, beliau kembali ke Pondok Pesantren Krapyak dan menikah dengan putri KH. Munawwir, Ny. Jauharoh.

Baca Juga: KH. M. Munawwir Krapyak

Sanad ilmu KH. Mufid Masud

Dalam belajar ilmu agama, sanad ilmu adalah hal yang sangat peting. Untuk menghindari gagal paham dalam dalil agama, seseorang yang ingin belajar ilmu agama wajib memiliki guru dengan sanad ilmu yang jelas. Imam syafii pernah berkata “Penuntut ilmu tanpa sanad bagaikan pencari kayu bakar ditengah malam yang ia pakai sebagai tali pengikatnya adalah ular berbisa, tetapi ia tidak mengetahuinya”. Ibnu Mubarok Juga meriwayatkan bahwa “Sanad Adalah bagian dari agama, seandainya tanpa Isnad seseorang bisa berkata sekehendak hati’.

Ungkapan itu tentu menekankan betapa pentingnya memiliki sanad ilmu bagi orang yang ingin belajar ilmu-ilmu Islam. Baik ilmu hadis, tafsir, dan tasawuf semua kembali bermuara pada Nabi Muhammad Saw.

Ponpes Sunan Pandanaran dikenal sebagai pondok takhasus li tahfizdil Qur’an. Sementara itu, KH. Mufid Mas’ud belajar Alquran pada tiga guru Alquran, yaitu: pertama, KH. Abdul Qodir Munawir (Krapyak, Yogyakarta); kedua, KH. Muntaha (Wonosobo, Jawa Tengah); dan ketiga KH. Dimyathi (Comal, Pemalang, Jawa Tengah). Sanad dari ketiga guru tersebut menyambung kepada KH. Munawir (Krapak, Yogyakarta).

KH Mukhlash (Panggung, Tegal, Jawa Tengah) juga pernah mendawuhi KH. Mufid Mas’ud bahwa selain menghafal Alquran, santri juga harus memperbanyak bacaan shalawat Nabi Muhammad Saw. Saran beliau adalah agar KH. Mufid Masud mendapatkan ijazah dari guru kitab Dalail al-Khairat, karya Syeikh Abi Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli. KH Mufid kemudian mendapatkan ijazah Dalalil al-Khairat dari KH. Ma’ruf Pondok Pesanten Jenengan Surakarta.

Saat ini Pondok Pesanten Sunan Pandanaran telah berkembang sangat pesat. Ada enam asrama dengan spesifikasi berbeda bagi setiap kompleknya. Untuk khusus penghafal Alquran/takhasus, asrama khusus untuk yang bersekolah, dan juga untuk yang kuliah. Selain itu, Podok Pesantren Pandanaran juga memiliki Pendidikan formal. Terdiri dari Raudhatul Atfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (Mi), Madrasah Tsanawiyyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Pandanaran (STAISPA).

Pesatnya perkembangan Pesantren Sunan Pandanaran, tentu tidak bisa dilepaskan dari besarnya peran KH. Mufid Mas’ud dan Ibu Nyai Jauharoh Munawwir dalam mendidik putra-putri beliau. KH. Mufid Mas’ud dan Ibu Nyai Jauharoh melahirkan 9 anak yaitu Hj. Sukainah, H. Ibnu Jauzi, Hj. Ninik Afifah, Hj. Wiwik Fasihah, Hj. Muflihah, Hj. Shofhah, H. Mu’tashim Billah, Hj. Sohihah, dan Hj. Nurul Hikmah. Beberapa di antara mereka telah memiliki pesantren sendiri dan juga meneruskan apa yang telah dilakukan oleh KH. Mufid Mas’ud dan Nyai Hj. Jauharoh Munawwir.

*Jika ingin berziarah ke makam KH. Mufid Mas’ud bisa menghubungi koordinator Seniman NU Yogyakarta


Salwa Fathoni – Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak