KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz

gNama KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz sebagai salah satu pendiri dan penggerak Nahdlatul Ulama tak banyak diketahui khalayak. Kiai Mas Alwi bersama Kiai Abdul Wahhab Hasbullah dan Kiai Ridlwan Abdullah aktif bergerak di NU sejak sebelum NU didirikan. Menurut keluarga Kiai Ridlwan Abdullah, yang pertama kali mengusulkan nama “Nahdlatul Ulama” adalah KH. Mas Alwi. Namun nama KH. Mas Alwi tak banyak disebut dalam beberapa sejarah NU, mungkin karena beliau tidak dikaruniai keturunan dan dikeluarkan dari garis keturunan keluarga.

Kisah Kiai Mas Alwi yang dikeluarkan dari silsilah keluarga berawal dari adanya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance). Kiai Mas Alwi berusaha mencari tahu tentang apa itu renaissance. Karena tidak memiliki biaya yang cukup untuk sampai eropa, beliau ikut pelayaran ke eropa. Saat itu, orang yang bekerja di pelayaran mendapat stigma negatif dan mempermalukan nama baik bagi keluarga. Sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan perbuatan buruk lainnya. Sejak saat itu, Kiai Mas Alwi dikeluarkan dari silsilah keluarga dan diusir dai rumah. Selain dikeluarkan dari daftar keluarga, beliau juga dikucilkan oleh tetangganya. Hingga akhirnya beliau membuka sebuah warung di jalan Sasak, dekat kawasan makam Sunan Ampel untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga : Ki Ageng Henis

Menurut salah satu cerita, ketika didatangi oleh KH. Ridhwan Abdullah di jalan Sasak, Kiai Mas Alwi menceritakan tentang perjalanannya berlayar ke Eropa. Dari perjalanannya, Beliau menemukan hakikat renaissance yang ada di dalam Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat. Isu renaissance tersebutlah yang kemudian menjadi alasan mendasar didirikannya Nahdlatul Ulama di Indonesia. Dalam hal ini, nampaklah bahwa pengorbanan Kiai Mas Alwi untuk Indonesia dan Islam tidaklah main-main. Bahkan beliau harus menanggung risiko dikeluarkan dari silsilah keluarga sekaligus hak warisnya. (Dimoderasi dari tulisan KH. Ma’ruf Khozin).

Tidak ada data yang pasti mengenai tahun kelahiran Kiai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kiai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kiai yang bersahabat sejak di pesantren Mbah Kholil Bangkalan Madura tersebut memiliki rentang usia yang tidak jauh. Di awal berdirinya NU yakni tahun 1926, usia Kiai Ridlwan 40 tahun, Kiai Wahab 37 tahun dan Kiai Mas Alwi 35 tahun. Dengan demikian, Kiai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1890-an. Kiai Mas Alwi merupakan putra kiai besar kala itu, yaitu KH. Abdul Aziz, seorang keturunan Sunan Ampel Surabaya.

Kiai Mas Alwi bersama Kiai Ridlwan Abdullah, Kiai Wahab Hasbullah dan saudara sepupunya yaitu Kiai Mas Mansur turut berperan aktif mendirikan sekolah Nahdlatul Wathan. Kiai Mas Mansur lah yang disepakati menjadi kepala sekolah Nahdlatul Wathan sebelum terpengaruh pemikiran pembaharuan Islam di Mesir dan akhirnya menjadi pengikut Muhammadiyah.

Tidak ditemukan data pasti mengenai kapan wafatnya Kiai Mas Alwi. Namun di batu nisan makam tertulis bahwa Beliau wafat di 55 tahun. KH. Mas Alwi dimakamkan di pemakaman Rangkah, Surabaya. Berada di gang kecil seberang makam pahlawan Nasional pencipta lagu kebangsaan yaitu W.R Supratman.

Membaca kembali kiprah dan dedikasi KH. Mas Alwi tentu akan sangat kontras dengan kondisi makamnya saat ini. Kondisi makam yang memprihatinkan dapat dilihat ketika berziarah ke pemukiman Rangkah, Surabaya. Menuju makam, melewati gang-gang sempit di antara perumahan warga yang padat dan kumuh. Kondisi pemakaman tidak terawat, sempit, menyendiri di tengah rumah warga, bahkan berada di dalam dapur pemukiman liar yang berdiri di tanah kuburan umum. Padahal di makam tersebut disemayamkan KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz, seorang kiai sekaligus tokoh besar Nahdlatul Ulama.

Ketika KH. Asep Saefuddin menjabat menjadi Ketua PCNU Kota Surabaya masa jabatan 1995-2000, Beliau mengerahkan Banser untuk mengkondisikan rumah-rumah yang merambah ke makam KH. Mas Alwi. Sejak saat itu, makam beliau dibangun, diberi pagar dan papan nama kecil. Di makam beliau terdapat banner dari IPNU-IPPNU Sidoarjo ukuran sekitar 50 cm x 60 cm yang bertuliskan keterangan bahwa di tempat tersebut disemayamkan KH. Mas Alwi bin Abdul Aziz yang menciptakan nama “Nahdlatul Ulama”.

*Jika ingin berkunjung ke makam KH. Mas Mansur bisa menghubungi koordinator Seniman NU Regional Jawa Timur


Rina Nur Cahyani – Seni tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!