Categories: biografiFolkor

KH. Hasyim Asy’ari: Pendiri Nahdlatul Ulama

Share

Sebagai ormas atau organisasi terbesar di Indonesia – Nahdlatul Ulama -, penting kiranya untuk mengenal lebih jauh tentang sosok Haddratussyekh KH. Hasyim Asy’ari. Sebagai pendiri NU serta mewariskan pengetahuan dan pergerakan kepada anak cucu. Suri tauladan dalam beragama dan bernegara.

Nama asli beliau adalah Mohammad Hasjim Asy’arie. Lahir di Jombang Jawa Timur (14 Ferbruari 1871) dan meninggal tanggal 21 Juli 1947. Beliau dilahirkan oleh pasutri Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah serta mempunyai 10 saudara Nafi’ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi, Adnan. Beliau mempersunting 4 wanita, yakni Khadijah, Nafisah, Nafiqah, dan Masrurah.

Anak-anak beliau: Hannah, Khoiriyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashrurroh, Muhammad Yusuf, Abdul Qodir, Fatimah, Chotijah, Muhammad Ya’kub

Pada masanya, beliau juga dikenal sebagai salah satu ulama yang mendirikan pondok pesantren Tebu Ireng.. Saat itu ehidupan sosial dan agama masyarakat Jawa masih banyak yang keluar dari nilai Islam yang sesungguhnya. Terlebih lagi di sekitar lokasi pendirian pesantren terdapat wilayah yang dijadikan tempat maksiat – Kebo Ireng. Keprihatinan ini membuat beliau berkewajiban mengarahkan umat menggunakan jalan pendidikan akhlak nilai keagamaan.

Keluarga dan Anak KH. Hasyim Asy’ari

Beliau merupakan putra ke 3 dari 10 bersaudara dari pasangan Kiai Asy’ari dan Halimah. Beliau memiliki garis keturunan bangsawan kerajaan Majapahit dan Raja Brawijaya dari darah sang ibu. Berdasarkan garis keturunan ibu meliputi :

Prabu Brawijaya V (Lembupeteng) memiliki putra bernama Joko Tingkir (Mas Karebet) yang memiliki putra bernama Pangeran Benowo. Pangeran Benowo adalah ayah dari Pangeran Sambo, ayah dari Ahmad, ayah dari Abdul Jabar, ayah dari Sihah. Sihah memiliki putri bernama Layyinah dan cucu bernama Halimah yang merupakan ibu kandung KH Hasyim Asy’ari.

Salah satu putra beliau yakni Abdul Wahid (Wahid Hasyim) adalah tokoh perumus Piagam Jakarta dan pernah menjadi Menteri Agama. Abdul Wahid memiliki Putra yakni Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal dengan nama Gus Dur yang kemudian pernah menjabat sebagai presiden Indonesia yang ke 4.

Baca Juga: Abu Yazid Al-Busthami

Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari

Sejak kecil, KH. Hasyim Asy’ari mendapat pelajaran tentang dasar-dasar agama dari sang ayah dan kakek. Beliau tidak menempuh pendidikan sekolah formal. Ketika berumur 15 tahun, beliau mencari ilmu dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Di antaranya adalah pesantren Langitan di Tuban, Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, pesantren Trenggilis di Semarang, pesantren Siwalan di Sidoarjo, dan pesantren Kademangan di Bangkalan. Setelah menimba ilmu di berbagai pesantren, beliau memutuskan untuk memperdalam ilmu agama ke Mekah.

Tahun 1892. Di Mekah beliau berguru pada Syekh Ahmad Kahtib Minangkabau, Syekh Ahmad Amin Al-Aththar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Rahmaullah, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, Syekh Sholeh Bafadlal, Syekh Said Yamani, Sayyid Husein Al-Habsyi, Sayyid Alwi bin Ahmad As-Saqqaf, dan Sayyid Abbas Maliki.

Beliau awalnya menekuni ilmu hadis di bawah bimbingan Syaikh Mafudz, seorang ulama pertama dari Indonesia yang mengajar Sahih Bukhori di Mekah. Beliau mendapat ijazah dari Syaikh Mafudz. Selain belajar hadis, beliau juga belajar tassawuf atau sufi dengan pendalaman pada tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, fikih madzab syafi’i serta ilmu tafsir Al-manar.

Pencapaian KH Hasyim Asy’ari

Sepulangnya menimba ilmu dari Mekah pada tahun 1899, beliau kembali ke tanah kelahirannya di Jombang Jawa Timur dan mendirikan sebuah pesantren yang bernama Tebuireng. Pesantren ini terkenal dengan pengajaran dalam bidang ilmu hadis. Seiring dengan tingkat kesadaran masyarakat yang membutuhkan ilmu agama, pesantren Tebuireng menjadi salah satu pesantren terbesar di Jawa.

Pada tahun 1926, beliau menginisiasi berdirinya sebuah organisasi masyarakat Nahdathul Ulama atau disingkat NU. Meski Nahdatul Ulama yang artinya kebangkitan ulama, bukan berarti pengikut dari gerakan ini haruslah berasal dari kalangan ulama. Kini gerakan masa ini sudah tersebar keselelurh penjuru nusantara dan menjadi salah satu organisasi terbesar di Indonesia.

Guru (Digugu lan Ditiru)

Ada beberapa hal keutamaan beliau yang wajib untuk dicontoh.

Pertama,

KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang yang haus ilmu, sehingga ia melewati banyak proses pendidikan di berbagai pesantren. Sehingga Agus Sunyoto, dalam kata pengantar buku KH. Hasyim Asyari: Pengabdian Kiai untuk Negeri, menggunakan istilah santri kelana. Karena sejak kecil beliau diasuh dan dididik oleh ayah dan ibunya serta kakeknya, Kiai Usman, pengasuh pesantren Gedang di selatan Jombang, dengan nilai-nilai dasar tradisi Islam yang kokoh.

Kedua,

KH. Hasyim Asy’ari adalah Kiai yang produktif menulis. Baginya, ilmu tidak selesai hanya dipahami untuk diri sendiri, melainkan juga harus disebarluaskan untuk kemaslhatan umat. Untuk itulah, disela mengasuh pesantren dan berkegiatan sosial, beliau senantiasa merangkum pengetahuannya dalam bentuk tulisan.

Ketiga,

KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang wirausaha. Dahulu, tidak banyak ulama yang memiliki jiwa entrepreneur. Kiai Hasyim adalah prototip ulama yang memiliki semangat berdagang. Tujuh tahun sebelum NU berdiri, Kiai Hasyim menjabat ketua Nahdlotul Tujjar (1918), yakni sebuah badan usaha berbentuk koperasi yang didirikan oleh Mbah Wahab Hasbullah dan Mbah Bisri Syansuri. Maka tidak heran, pada akhir hayatnya.

Mbah Hasyim mewariskan dua hektar lahan pemukiman dan sembilan hektar sawahnya kepada Pesantren Tebuireng sebagai wakaf untuk digunakan sebagai pusat pengembangan studi Islam. Semangat entrepreneur ini menjadikan Kiai Hasyim sebagai golongan santri menengah yang mempunyai pandangan kosmopolitan dan tidak terkungkung dalam pandangan keagamaan yang konservatif.

Keempat,

KH. Hasyim Asy’ari adalah kiai yang memiliki pemikiran progresif. Pembaharuan pemikiran keagamaan Kiai Hasyim merambah pada ranah pendidikan. Sejak tahun 1920, Pesantren Tebuireng memperkenalkan pelajaran umum seperti bahasa Indonesia, bahasa Belanda, Matematika, Sejarah dan Geografi. Dengan adanya penambahan pelajaran umum di pesantren maka lahirlah konsep interdisipliner. Pemikiran semacam ini merupakan hal yang luar biasa, karena pada saat itu, masyarakat masih banyak terjebak pada pemikiran yang tradisionalis. Banyak yang terjebak pemahaman yang salah bahwa pelajaran selain agama adalah haram diajarkan.
Pemikiran progresif Kiai Hasyim ini kiranya perlu dihayati dan diaplikasikan dalam kehidupan, karena dinamika hidup akan selalu memberikan perubahan. Jika tidak siap dalam menghadapi perubahan zaman, maka akan terjebak pada ketertinggalan. Untuk itulah, pemikiran progresif sangat dibutuhkan agar mampu beradaptasi dengan lingkungan. Sehingga Islam akan senantiasa survive di setiap ruang dan waktu.

Baca Juga: KH. Bishri Syansuri, Dedikasi untuk Negeri

Karya / Buku KH. Hasyim Asy’ari

  1. Adab al-alim wal Muta’allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta’allim fi Ahwali Ta’alumihi wa maa Ta’limihi.
  2. Al-Tanbihat al-Wajibat liman Yushna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Kitab yang menyajikan beberapa hal yang harus diperhatikan saat memperingati maulid rasullullah.
  3. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Pemikiran dasar beliau tentang NU. Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang menjadi landasan awal pendirian NU.
  4. Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin.
  5. Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal.
  6. Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama’ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa’ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid’ah.
  7. Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama.
  8. Al-Tibyan: fin Nahyi ‘an Muqota’atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan.

Pahlawan Nasional Indonesia dan Maha Guru

Gelar Pahlawan Nasional indonesia diberikan oleh presiden Indonesia yang pertama yakni Ir. Soekarno pada tahun 1964. Gelar ini disematkan bukan tanpa alasan. Meski tidak turut berperang dalam melawan penjajahan dengan cara fisik, namun beliau berperan besar dalam melawan penjajahan dengan membekali ilmu serta karakter anak bangsa Indonesia melalui pendidikan agama.

Di kalangan Nahdliyin dan ulama pesantren besar di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, beliau diberikan gelar Hadratus Syeikh. Julukan tersebut artinya maha guru atau guru dari segala guru. Kemampuannya dalam menguasai ilmu agama serta pengalaman panjang belajar di kota suci Mekah membuat beliau memiliki pemahaman yang amat luas terkait ilmu agama.

Wafatnya KH. Hasyim Asy’ari

Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari meninggal pada tanggal 7 Ramadan 1366 H (25 Juli 1947 M) di Tebuireng Jombang dalam usia 79 tahun. Beliau mengalami tekanan darah tinggi karena berita datangnya kembali Belanda untuk menyerang Malang dari jenderal Soedirman dan Bung Tomo.

Sebagaimana diketahui, beliau adalah sosok ulama yang tak henti memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Baginya, NKRI harga mati. Apapun akan ia korbankan untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka. Hingga seluruh hidupnya, ia wakafkan untuk mengabdi kepada nagara.


Angga Saputra – Seni tablig Seniman NU