KH. Bishri Syansuri, Dedikasi untuk Negeri dan Dunia Pesantren

Bertepatan hari ini bangsa kita memperingati Hari Pahlawan Nasional. Peristiwa yang akan selalu dikenang dan diingat oleh seluruh rakyat Indonesia, khususnya Surabaya. Berawal dari fatwa resolusi jihad yang digaungkan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Ketika itu wilayah Surabaya sudah dikepung oleh para tentara Inggris dan Sekutu.

Perisitwa yang begitu heroik ini dipimpin oleh Bung Tomo pada 10 November 1945, terjadi perang dahsyat untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bung Tomo memiliki andil besar dalam mengobarkan semangat arek-arek Suroboyo, memompa jiwa nasionalisme dan semangat lewat pidato-pidatonya. Sehingga perang pun terjadi  kurang lebih selama 3 minggu dan dimenangkan oleh rakyat Surabaya.

Kemenangan rakyat Surabaya tidak terlepas dari dorongan dan dukungan para ulama diantaranya; KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bishri Syansuri merupakan tokoh utama dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Ketiga tokoh ini, mulai dari KH. Hasyim Asy’ari,dilanjutkan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan KH. Bishri Syansuri, secara berurutan memegang puncak pimpinan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini. KH. Bishri Syansuri dikenal sebagai ulama yang memiliki karakternya sendiri yang khas dalam mewarnai NU.

KH. Bishri Syansuri dilahirkan pada hari Rabu 18 September 1886 M. di Tayu, sebuah ibukota kecamatan yang letaknya sekitar seratus kilometer arah timur laut Semarang, Jawa Tengah. Secara geografis, Tayu merupakan kawasan pesisir pantai utara Jawa yang terkenal memiliki budaya sosial keagamaan yang kokoh dibanding wilayah lainnya di pulau Jawa.

Bishri Syansuri adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang lahir dari pasangan Syansuri ibn Abd. Shamad dan Mariah. Pasangan inilah yang dikemudian hari melahirkan terkemuka, antara lain KH. Kholil Lasem dan KH. Baidlowi.

Sejak kecil Bishri Syansuri sudah belajar agama secara teratur. Pertama-tama beliau belajar membaca Alquran dan tajwidnya kepada KH. Sholeh di Tayu selama lebih kurang tiga tahun. Selanjutnya beliau belajar kepada KH. Abd. Salam, salah seorang kerabat dekatnya yang menjadi ulama terkemuka dan membuka pesantren sendiri di daerah Kajen Jawa Tengah. Di pesantren inilah beliau mendapatkan pendidikan agama secara tuntas.

Memasuki usianya yang ke lima belas tahun, beliau meminta izin kepada kedua orang tuanya  melanjutkan pengembaraannya untuk belajar di berbagai pesantren. Pada awalnya Bishri Syansuri belajar kepada KH. Kholil Kasingan Rembang dan KH. Syu’aib Sarang Lasem, dua orang ulama terkemuka di pesisir utara Jawa pada waktu itu. Kemudian berguru kepada KH. Kholil Demangan Bangkalan, ulama terkemuka di Madura yang juga dikenal sebagai guru dari hampir semua ulama berpengaruh pada generasi berikutnya.

Dari Demangan Bangkalan, beliau betemu dengan pemuda, Abdul Wahab Chasbullah yang kemudian menjadi sahabat karibnya. Kedua sahabat ini melanjutkan perjalanan intelektualnya dengan belajar dan menjadi santri di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari. Di pesantren Tebuireng, Bishri Syansuri memperdalam pengetahuan agama, khususnya Fikih, Tauhid, Tafsir, Hadist, dan berbagai disiplin pengetahuan agama lainnya.

Setelah enam tahun belajar di Pesantren Tebuireng, beliau memperoleh ijazah dari gurunya untuk mengajarkan kitab-kitab agama dalam literatur klasik. Dan kemudian bersama sahabatnya, Abdul Wahab Chasbullah melanjutkan pendidikannya ke Mekah, pusat orientasi pendidikan keagamaan umat Islam. Di Mekah beliau belajar kepada ulama-ulama terkemuka seperti: Syekh M. Bakir, Syekh M. Said al-Yamani, Syekh Umar Bajenad, Syekh M. Sholeh Bafadlol, Syekh Jamal al-Maliki, Syekh Abdullah, Syekh Ibrahim al-Madani, Syekh Ahmad Khotib Padang, Syekh Syu’aib Doghestani, dan KH. Mahfudl Termas. Ketiga ulama terakhir ini merupakan guru KH. Hasyim Asy’ari (Mastuki HS dan M. Ishom  El-Saha, Intelektualisme Pesantren, Diva Pustaka ,2013).

Berbeda dengan Abdul Wahab Chasbullah yang aktif dalam aktivitas organisasi dan bahkan sempat memelopori berdirinya Syarikat Islam (SI) cabang Mekah, Bishri Syansuri justru kurang begitu tertarik untuk terlibat dalam kegiatan organisasi. Beliau lebih tertarik bergelut diri dalam dunia pendidikan. Katidaktertarikannya dengan organisasi bukan berarti dia menafikan pentingnya organisasi dalam melakukan perjuangan keagamaan, tetapi lebih merupakan bentuk tawaduk terhadap gurunya KH. Hasyim Asy’ari. Artinya keterlibatan dalam dunia organisasi itu hanya mungkin dilaksanakan apabila mendapat restu dari gurunya tersebut.

Setelah beberapa tahun menggali pengetahuan di Mekah, akhirnya beliau kembali ke tanah air. Tepat pada tahun 1917, atas dorongan mertuanya KH. Chasbullah, yang kemudian direstui gurunya, KH. Hasyim Asy’ari, Bishri Syansuri bersama isterinya, Nor Khodijah, mendirikan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang. Pada mulanya, beliau hanya menyediakan lembaga pendidikan untuk santri putra saja. Akan tetapi, dua tahun kemudian KH. Bishri Syansuri bersama isterinya melakukan terobasan baru dengan membuka kelas khusus untuk santri putri.

Langkah inovatif ini dinilai sebagai fenomena  yang menarik dan cukup berani dalam tradisi pesantren secara umum. Dalam sejarah pesantren, pondok pesantren Denanyar lah yang pada saat itu membuka pesantren khusus putri, suatu hal yang belum pernah dilakukan pesantren lainnya (Mastuki, 2013), setidaknya Jawa Timur.

Secara psikologis, ikhtiar untuk membuka pesantren khusus putri pada masa itu menunjukkan kematangan pemikiran KH. Bishri Syansuri dan kemandiriannya dalam menentukan kebijak-kebijakannya. Karena, biasanya beliau tidak pernah mengambil sebuah keputusan tanpa mendapat restu gurunya, KH. Hasyim Asy’ari.

Selain bergulat dalam dunia pendidikan KH. Bishri Syansuri juga terlibat dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan. Bahkan beliau tercatat sebagai kepala staf Markas Ulama Jawa Timur (MODT) yang berkedudukan di Waru, dekat Surabaya. Antara tahun 1947-1949, beliau bertindak selaku ketua markas pertempuran Hizbullah Sabilillah. Usia beliau yang sudah mencapai lima puluh tahunan tidak mengurangi mobilitas dan kegesitan gerak fisiknya. Semangat juangnya semakin bergelora ketika gurunya, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad melawan penjajah Belanda.

Sebagai seorang guru, pejuang, dan ulama, beliau memiliki pandangan yang cukup luas. Ini terbukti dari ketajaman pikirannya dalam menganalisis setiap permasalahan sehingga menghasilkan solusinya yang terbaik, baik menyangkut persoalan bidang agama, sosial, maupun politik.


Kang Galih – Seni Tablig Seniman NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Follow by Email
Facebook
Facebook
Instagram
error: Content is protected !!