Categories: opiniSimponi

Pemahaman yang Terbatas

Share

Seperti di beberapa bacaan ayat pertama dalam surat Alquran yang artinya, hanya Allah yang mengetahui. Sebenarnya sudah menjadi isyarat bahwa kita memang banyak yang tidak diketahui daripada yang diketahui. Tapi dengan keterbatasan itulah hendaknya kita bersyukur, bukan malah lancang dan merasa paham akan segala hal.

Keterbatasan pendengaran yang berjarak beberapa frekuensi menjadikan hidup normal. Bagaimana seandainya telinga diberikan kebebasan untuk mendengarkan apapun dan jarak berapapun. Betapa stres kehidupan kita setiap saat mendengar ada orang yang mengomentari cara berpakaian dan berperilaku kita masing-masing. Bayangkan juga jika Allah tidak membatasi pengelihatan kita. Tidak akan ada perasaan was-was, penasaran, dan keterkejutan. Mata yang bisa tembus pandang dan mampu melihat masa depan.

Batasan-batasan ini yang mestinya menjadi pelajaran, bahwa semua terserah atau tergantung sama Allah Swt. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan syariat yang sudah digariskan dan dijelaskan melalui pesan-pesan agama. Setiap individu atau kelompok manusia tentu mempunyai kapasitas masing-masing yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Seperti halnya ketika kita mengomentari percakapan orang Maluku dengan bahasa mereka. Sebagai orang di luar daerah tersebut tentu bukan perkara mudah untuk memahami setiap diksi kata yang disampaikan. Perlu belajar dan memahami sehingga layak untuk memberikan penilaian. Kita hanya tertawa menyaksikan logat masyarakat Thailand, dan mungkin pula mereka juga tertawa melihat logat Jawa atau Sunda seperti kita. Itulah keterbatasan.

Baca Juga: Tidak Tahu Tapi Ia Tidak Tahu Bawa Ia Tidak Tahu

Tuhan Tanpa Batas

Tidak elok rasanya kalau sering ikut campur dengan sesuatu yang jauh dari pemahaman kita. Meski juga harus disadari semua orang punya nafsu untuk selalu terlihat sebagai pemenang dalam segala hal (eksistensi).

Dalam tataran agama, ada orang yang begitu intens belajar tasawuf, akan susah untuk berdiskusi dengan mereka yang baru mulai belajar syariat. Meskipun jalan menuju tasawuf juga harus dimulai dari pemahaman syariat. Lucunya, di antara mereka tidak sadar diri akan kemampuannya. Sehingga seolah semua yang dihadapi berada di level yang sama dalam berdiskusi atau berdebat.

Keterbatasan manusia seyogyanya bisa kembali mengingatkan bahwa diam itu emas. Jika tidak tahu lebih baik diam. Dari berbicara atau berpendapat malah menimbulkan kompleksitas permasalahan yang baru. Jangan sampai kita yang sebenarnya tidak tahu malah menuduh tidak tahu kepada mereka yang sesungguhnya tahu. Jangan sampai kita yang ahli maksiat menuduh yang lain tidak alim. Jadi bisa diambil pesan bahwa mereka (selain kita) sebenarnya jauh lebih alim dan saleh dibandingkan kita. Sehingga tidak adalagi prasangka kesesatan atau keburukan kepada orang lain.

Dari banyaknya keterbatasan manusia, sering kali ditutupi dengan berbagai etos manipulasi perilaku dan perkataan yang harapannya bisa mengelabuhi orang lain. Sehingga yang tampak adalah serba kelebihan. Merasa paling. Percuma membicarakan ujub, jika kesadaran akan keterbatasan saja masih sering diabaikan.

Pemaksaan Kebenaran

Bentuk pamer dan ingin dihargai memang sulit dipisahkan dari naluri setiap individu manusia. Sampai ada kehendak memaksakan kebenaran versi masing-masing manusia mencoba untuk diejwantahkan dalam kehidupan manusia lainnya. Tidak ada lagi sekat kelebihan antar individu. Yang ada adalah wujud saling bersaing mendapatkan pengakuan tentang versi kebenaran masing-masing. Kita yang tidak mau salah dan kalah. Sedangkan kita adalah keterbatasan.

Sering mencampuri kehidupan orang lain untuk dicemooh, dicaci, dihina yang tidak disadari sebagai nafsu ingin dianggap lebih baik dari yang lain. Merasa paling baik, paling benar, paling alim, paling Islam, dan paling lainnya. Pada akhirnya kita menyadari bahwa yang ada sekarang adalah keterbatasan hidup bersama. Yang dirasakan adalah individu yang berebut kebenaran yang sesungguhnya sama-sama kita tidak mengetahuinya, karena keterbatasan manusia.

Sesungguhnya Allah jauh lebih mengetahui daripada hamba-Nya. Sedangkan kita hanya saling mengingatkan tentang kebenaran yang satu sama lain mempunyai persepsi masing-masing. Bukankah hanya Allah yang punya kehendak untuk memaksakan kebenaran yang sejati?!

Jangan menjadi Tuhan dengan keyakinan mampu memahami segalanya. Karena banyak rahasia, wahyu, ataupun hidayah yang bisa didapatkan oleh mereka yang dikehendaki-Nya. Jika sudah bisa menyadari akan keterbatasan kita, sudah seharusnya kita kembali menata etika : Ada yang lebih layak untuk berpendapat daripada kita yang serba terbatas.


Joko Yuliyanto – Seni tablig Seniman NU